Reita memergoki Raimond yang sedang berpura-pura menyibukkan dirinya di istal. Raimond memang sedang menyikat Javelin, namun Reita sangat yakin kalau pikirannya sedang berada di tempat lain. Reita berjalan mendekatinya, berdiri di dekat palang kandang Javelin dan melipat kedua tangannya. Ia menunggu reaksi Raimond, namun ia bahkan nyaris tidak menyadari bahwa Reita berada di sampingnya.
“Apakah rambut Javelin sedang kusut jadi kau menyikatnya begitu lama, Raimond?”
Raimond nyaris menendang ember air yang dipakainya untuk membersihkan Javelin. “Sejak kapan kau ada di sini, Reita?”
“Coba aku ingat…. Sekitar sepuluh menit yang lalu mungkin?”
Raimond mengitari Javelin sambil menggelengkan kepalanya. “Tidak mungkin. Aku pasti sadar kalau kau ada di sini dari tadi, Reita.”
“Kenyataannya kau tidak menyadarinya.” Reita mengelus lembut badan Javelin yang kekar. “Kau bahkan membuat Javelin kesakitan karena menyikatnya di tempat yang sama selama hampir 10 menit.”
“Aku tidak melakukan hal itu.”
“Jangan berusaha menyangkalnya, Raimond. Sebenarnya apa yang sedang ada di pikiranmu saat ini? Aku tidak pernah melihatmu seperti ini sebelumnya.”
“Tidak ada yang sedang kupikirkan.”
“Hah!! Meskipun kita bukan saudara, tapi tahun-tahun yang kuhabiskan bersamamu membuatku bisa mengenalmu dengan baik. Jadi?”
Raimond tidak menanggapi kata-kata Reita. Ia terlihat sibuk membereskan sisa-sisa pekerjaannya. Reita menunggu, mengamati, dan ia pun kehabisan kesabaran karena Raimond tetap mengacuhkannya saat mereka keluar istal.
“Lea.”
Reita berhasil memancing perhatian Raimond dengan satu kata itu. Raimond berhenti mendadak, menyebabkan senyum Reita mengembang. “Kenapa kau tidak mengatakannya dari tadi?”
Raimond berbalik, menatap tajam ke arah Reita. “Kenapa kau bisa tahu soal itu?”
“Kenapa kau sampai memenuhi isi kepalamu dengan dirinya?”
“Sejauh mana kau tahu mengenai masalah ini, Reita?”
“Kenapa kau berusaha menyembunyikannya?”
“Jangan menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan, Reita! Dari mana kau tahu tentang ini?”
“Kenapa kau tidak menceritakannya sendiri padaku?”
Raimond menarik kerah baju Reita, “Jangan memancing emosiku, Reita.”
Reita terdiam menatap langsung ke mata Raimond. Sekali ia mengikuti emosi Raimond, maka mereka berdua akan berakhir dengan baku hantam. “Kita bisa membicarakannya di tempat yang lebih tertutup, Raimond. Kau bisa memukulku kalau kau mau, atau kau bisa bercerita. Aku akan mendengarkannya.”
Raimond melepas cengkramannya pada baju Reita, menyadari tatapan penasaran para prajurit yang ada di sekitar mereka.
“Jangan berani-berani kau membicarakannya sekarang!” desis Raimond tajam.
“Sama sekali di luar rencanaku,” sahut Reita santai.
Raimond kembali berjalan, Reita berjalan di sampingnya. Mereka menuju kamar di mana mereka biasa beristirahat. Reita membiarkan Raimond membersihkan dirinya terlebih dahulu dan menunggu dengan tenang, walaupun sebenarnyaa ia juga ingin mengetahui cerita lengkap Raimond.
Pandangannya tiba-tiba terarah pada tiga orang yang sedang berjalan di halaman. Sara, Lea, dan pangeran tetangga, Nigel. Reita menyandarkan dirinya pada dinding dekat jendela, berusaha mencari posisi yang nyaman. Selama Pangeran Nigel ada di sini, Raimond dan Reita bisa menjauh sedikit dari kedua putri kembar itu. Reita menyukai keadaan ini. Setidaknya ia memiliki waktu lebih untuk dirinya sendiri.
Teringat Raimond, Reita memperhatikan sosok Lea. Putri itu memang terlihat menawan. Wajahnya cantik dan yang terpenting ia memiliki hati yang baik. Jelas saja Raimond menyukainya, pikir Reita geli.
“Apa yang membuatmu senang?” Tanya Raimond saat ia baru saja keluar dari kamar mandi.
“Orang yang akan kita bicarakan sebentar lagi.”
Raimond berjalan mendekati tempat Reita berdiri dan menangkap sosok yang sedang dilihat oleh Reita juga. Raimond kembali terdiam dan Reita yakin ia sedang mengamati gerak tubuh Lea yang sedang tertawa. “Aku bahkan tidak tahu bagaimana aku bisa mempunyai perasaan seperti ini.”
“Maksudmu?”
“Maksudku, ia adalah seorang putri, sedangkan aku, hanya pengawal pribadinya.”
“Maka dari itu kutanya apa maksud dari perkataanmu, Raimond?” Reita kembali melipat kedua tangannya di depan dada. “Memangnya kenapa kalau kau menyukainya? Apakah itu hal yang salah?”
Raimond ikut bersandar di dinding, meski matanya tetap menatap ke arah Lea. “Yang salah adalah kenapa aku berani-beraninya mengatakan perasaanku padanya. Jelas saja dia tidak akan menerimaku. Aku bukan siapa-siapa untuknya.”
“Kau sudah menyerah sebelum berperang. Paman Ieru selalu bilang untuk membuang sikap seperti itu kan?”
“Ini tidak sama dengan perang, Reita. Ini masalah perasaan.”
Reita mendengus, “Apanya yang berbeda? Selalu masih ada kemungkinan untuk menang. Kalau kau bersikap seperti itu, kau jelas-jelas akan kalah di perang ini.”
“Aku memang sudah kalah di awal. Kau lihat saja sikap Lea sekarang. Ia terang-terangan menjauhiku.”
“Kalau begitu, Lea lah yang bodoh karena sudah mengabaikan orang sebaik kau.”
Raimond tersenyum mendengar usaha Reita untuk menghiburnya. “Dia tidak bodoh. Dia hanya tahu apa yang terbaik untuknya.”
“Dan kau menganggap kalau kau tidak termasuk dalam hitungan itu kan?”
“Sudahlah. Pembicaraan ini tidak akan mengarah ke mana-mana. Aku lebih penasaran dari mana kau tahu soal ini.”
Reita mendengus mendengar perkataan Raimond. “Aku bisa mendengarnya dengan baik kalau kau menyatakan perasaanmu di bawah pohon tempat aku tidur.”
Raimond melotot ke arah Reita, jelas-jelas terkejut mendengar pengakuannya. “Kau benar-benar ada di sana?”
“Aku selalu menyempatkan diri untuk tidur siang di sana. Kalian yang salah memilih tempatnya.”
Dengan gerakan cepat, Raimond menjepit leher Reita di antara kedua lengannya dan memitingnya. “Kalau aku tau kau ada di sana, aku juga tidak akan mengatakannya! AH!”
Reita berusaha meronta melepaskan diri. Meskipun ia tahu kalau Raimond hanya bercanda, tindakan Raimond jelas-jelas membuat lehernya sakit. “Lain kali carilah tempat yang agak tertutup, Rai!” seru Reita saat Raimond melepaskan lehernya.
Raimond mengerang frustasi, “Sekarang kau mengikatkan aku pada kejadian memalukan itu! Dan mengingat kau ada di sana… Ugh! Rasanya aku benar-benar ingin memukulmu!”
“Kenapa kau semarah itu?” Reita berusaha mengusap-usap lehernya yang sekarang nampak kemerahan. “Kau yang seenaknya mengatakan perasaanmu tanpa melihat-lihat sekeliling.”
Reita bisa mendengar Raimond menggeram, bukan karena marah tapi karena malu. “Sudahlah! Kita lupakan pembicaraan ini! Anggap saja tidak pernah terjadi!”
“Hei! Kau mau ke mana?” teriak Reita saat melihat Raimond buru-buru memakai pakaiannya.
“Ke mana saja! Aku tidak ingin ada di dekatmu saat ini. Berada di dekatmu mengingatkan aku akan kebodohan yang sudah kulalukan.” Raimond menutup pintu di belakangnya, meninggalkan Reita sendirian.
Reita mengernyit saat melihat bekas yang ditimbulkan oleh pitingan Raimond. Ia benar-benar heran kenapa ia bisa merasa semalu itu. Pandangannya kembali lagi ke arah tiga orang yang masih berada di halaman belakang.
“Bagaimana reaksi Paman Ieru dan Raja Theo kalau mereka tahu ya?”
Kedua putri itu nampak tertawa setelah mendengar kata-kata Nigel.
“Menyukai seorang putri ya?”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar