Rabu, 20 April 2011

>>8 part1



            Sara melihat sosok tegap itu di depan singgasana ayahnya, sedang berbicara bahkan tertawa-tawa dengan ayahnya. Meski dari kejauhan, Sara bisa mengenali rambut pirang yang berkilauan itu.
            “Sedang apa kau di sini?”
            Sosok itu berbalik menghadap Sara dan sebuah senyum yang mampu meluluhkan hati wanita manapun nampak di wajahnya. “Sara.”
            “Aku tidak menyangka akan menemukanmu di sini setelah kunjunganku kemarin ke Bairo, Nigel. Ada apa?”
            Sara menerima pelukan hangat dari Nigel tanpa persiapan. Meski Nigel sering melakukannya, tetap saja ia tidak terbiasa dengan perlakuan itu. Sara merasa risih. “Nigel.”
            “Baiklah, baiklah. Kenapa sifatmu yang tidak sabaran itu tidak pernah berubah sih?” Nigel melepaskan pelukannya namun kedua tangannya masih berada di bahu Sara. “Senang bisa melihatmu kembali. Apa kau beristirahat dengan cukup kemarin?”
            “Aku beristirahat dengan sangat cukup kemarin. Jadi?”
            “Sara, jangan bersikap tidak sopan seperti itu pada Nigel. Dia sudah jauh-jauh datang kemari hanya untuk mengantarkan titipan dari Raja Eric untukku karena kau lupa untuk membawanya pulang kemarin.”
            Sara terdiam, mencoba mengingat-ingat kejadian saat ia berkunjung ke Bairo. “Ah! Astaga! Aku meninggalkannya di kamar kan?”
            “Aku senang ingatanmu masih kuat.” Senyum Nigel melebar.
            Sara memukul pelan lengan Nigel. “Jangan merendahkan aku ya.”
            “Tapi aku beruntung. Karena kau lupa, aku jadi bisa datang ke sini dan mengantarkannya pada Raja Theodore.”
            “Benar-benar. Kalau begitu, menginaplah beberapa hari di sini. Kau pasti lelah setelah perjalanan panjang itu. Sara, tolong antarkan Nigel untuk beristirahat di kamarnya.”
            “Yang Mulia tenang saja. Jika boleh memilih, saya malah ingin berjalan-jalan sebentar di sini. Sudah lama saya tidak kemari.”
            Raja Theo tertawa mendengar kata-kata Nigel. Sepertinya senang sekali karena Nigel bisa datang dan berkunjung kemari. “Lakukan apa pun yang kau inginkan, Nigel. Sara akan menemanimu selama kau ada di sini.”
            “Ayah!” protes Sara, “Waktu luangku tidak sebanyak itu.”
            “Benarkah?” seru Nigel terkejut, “Kalau begitu, kau harus segera menemaniku berkeliling.” Nigel memutar tubuh Sara, mendorongnya secara halus untuk keluar dari ruangan singgasana. “Kalau begitu, kami permisi dulu, Yang Mulia.”
            “Ya, ya. Anggaplah ini istanamu sendiri.”
            “Nigel,” Sara kembali protes saat pintu yang menuju ke singgasana menutup.
            “Ayolah, Sara. Hanya sebentar saja. Aku bahkan belum menyapa Ratu Leira. Ayo, pertemukan aku dengannya.”
            Sara tidak bisa menolak. Meski Nigel terlihat pemaksa, dia pintar mengambil hati orang-orang. Bahkan Sara sendiri tidak bisa marah padanya. Nigel memang mudah bergaul. Dan ia sangat murah senyum. Setiap kali ia main ke Fyria, maka dayang-dayang dan para pelayan akan diam-diam berhenti untuk mengamati Nigel. Bahkan ada yang sengaja untuk lewat di dekat Nigel meskipun mereka tidak memiliki urusan apa-apa.
            “Yang Mulia,” sapa Nigel pada Ratu Leira yang sedang asyik membaca buku.
            Ratu Leira menurunkan bukunya saat mendengar sapaan itu dan senyum yang lebar nampak menghiasi wajahnya saat melihat sosok Nigel yang gagah memasuki ruangan. “Nigel, sudah lama tidak melihatmu.” Ratu Leira bangkit untuk memeluk Nigel. “Bagaimana kabarmu?”
            “Luar biasa gembira karena aku bisa datang kemari lagi setelah sekian lama dan bertemu dengan salah satu wanita tercantik di kerajaan ini.”
            “Ah... Sudah lama sekali aku tidak mendengar ucapan manis itu.” Wajah Ratu Leira bersemu merah.
            “Ibu! Jangan termakan rayuannya.”
            Nigel mengalihkan pandangannya pada Sara yang sengaja menampakkan wajah marah pada ibunya. “Aku mengatakan yang sebenarnya, Sara. Kau seharusnya berterimakasih kepada ibumu yang sudah mewariskan kecantikannya kepadamu dan Lea.”
            Ratu Leira mendesah senang. “Nigel, kau selalu tahu bagaimana caranya membuat seorang wanita tersanjung...”
            Sara mencibir. “Lihat kan? Dasar perayu.”
            Ratu Leira dan Nigel tertawa melihat reaksi Sara. Sara semakin cemberut. Tidak menerima dirinya ditertawakan.
            “Kalau begitu, sebaiknya aku berkeliling lagi untuk merayu wanita lainnya. Lain kali kita harus minum teh bersama, Yang Mulia.” Nigel mengecup punggung tangan Ratu Leira sebelum beranjak meninggalkan ruangan.           
            “Tentu saja, Nigel. Perpanjang waktu kunjunganmu di sini. Kami akan sangat berterimakasih jika kau mau melakukannya.”
            “Aku akan memikirkannya, Yang Mulia. Sampai nanti.”
            Sara menutup pintu itu dan pergi menyusul Nigel yang sudah berjalan terlebih dahulu. “Jadi, ke mana lagi kau ingin pergi?”
            “Hmm.... Bagaimana kalau ke dapur? Siapa tahu di sana aku bisa mendapatkan makanan lebih. Harus kuakui Sara, masakan koki-koki di sini sangat enak. Setidaknya berikan aku satu untuk kubawa ke Bairo.”
            “Coba saja kau rayu mereka, Nigel tapi jangan harap untuk bisa kembali menginjakkan kakimu di sini lagi setelah kau berhasil membawa pulang koki kami yang berharga.”
            “Kau mengancamku?” suara Nigel dibuat gemetaran.
            Sara mengangkat bahunya, “Aku hanya berusaha untuk melindungi koki kami yang berharga.” Sara berjalan kembali, meninggalkan Nigel di belakangnya.
            Dengan langkah yang ringan, Nigel sudah menyusulnya dan berjalan mundur di depannya. “Sudah lama aku tidak melihat ekspresi itu, “ kata Nigel sambil tersenyum.
            “Apa?”
            “Aku senang bisa datang ke sini lagi. Terutama karena aku bisa bertemu lagi denganmu. Kunjungan kemarin terlalu singkat dan itu tidak bisa memuaskan kerinduanku padamu, Sara.”
            Sara berhenti mendadak. Tatapannya terarah lurus pada Nigel. “Apa?”
            “Sebagai adik,” kata Nigel sambil tersenyum lebar. “Ngomong-ngomong, di mana Lea? Biasanya kalian selalu pergi berdua.”
            “Ada di ruang kerja. Ayo.”
            Sara berusaha untuk mengontrol detak jantungnya yang mulai berdetak dengan cepat. Bukan karena kata-kata Nigel yang berusaha merayunya. Tidak. Bahkan Sara berharap Nigel tidak berusaha untuk merayunya. Ia takut Nigel akan membawa masalah yang sudah berakhir itu. Untung saja tidak terjadi. Seharusnya Sara tahu kalau Nigel akan menepati janjinya.
           

            “Apa yang sedang dilakukan oleh wanita cantik ini di sini? Merenung?”
            Suara Nigel yang begitu familiar seakan menyadarkan Lea dari lamunannya. “Nigel? Kapan kau datang?” tanya Lea yang langsung bangun dari duduknya.
            “Baru saja.” Nigel membalas pelukan Lea dengan hangat. “Senang bisa melihatmu lagi.”           
            “Aku juga senang bisa bertemu denganmu lagi.” Lea melepaskan pelukannya. Mendongak untuk menatap Nigel yang sudah seperti seorang kakak laki-laki baginya dan ia merasa bersyukur di sini ada lelaki lain selain Raimond dan Reita. “Jadi, dirimulah tamu untuk Sara.”
            “Begitulah...”
            “Lucu ya? Padahal tadi kami baru saja membicarakan dirimu.”
            “Lea!” protes Sara.
            “Benarkah?” tanya Nigel penasaran, “Apa yang kalian bicarakan?”
            “Tidak ada!” seru Sara.
            “Lea,” Nigel tidak menghiraukan protes Sara yang jelas-jelas tidak senang Nigel mengetahui pembicaraan mereka. “Ceritakan kepadaku pembicaraan kalian. Tidak perlu menghiraukan Sara.”
            “Nigel, kau tidak tahu yang namanya privasi?”
            Lea menatap ke arah Sara dan Nigel bolak-balik. Sara yang berusaha untuk menghentikan niat Nigel dan Nigel yang berdiri di depannya berusaha mengorek informasi darinya nampak begitu lucu. Lea tidak bisa menolong dirinya untuk tidak tertawa.
            “Apa yang lucu, Lea?” tanya Sara ketus.
            “Kalian,” jawab Lea di sela-sela tawanya.
            “Apa?”
            Sara berpandang-pandangan dengan Nigel, mencoba mengerti kondisi yang tiba-tiba menyerang saudaranya. “Kau yang membuatnya seperti ini, Nigel,” tuduh Sara.
            “Kenapa aku? Aku kan tidak melakukan apa-apa.”
            “Jelas itu semua karena ulahmu. Ayo, kembalikan Lea.”
            “Kau tidak bisa meminta hal yang tidak ada padaku.” Nigel melipat kedua tangannya di depan dada.
            Tawa Lea makin meledak, membuat kedua orang itu terus berpandang-pandangan. “Hah... Senang sekali bisa tertawa seperti ini... Aku senang kau datang ke sini, Nigel,” ucap Lea sambil menghapus air mata tawa yang nyaris turun.
            “Nampaknya, kau puas sekali menertawakan orang.”
            “Karena kalian sudah memberikan hiburan yang menarik.”
            Nigel mengangkat bahunya, “Yah, kalau kedatanganku ke sini memberikan kebahagiaan, aku tidak keberatan...” Sikap tubuh Nigel memang mengatakan yang sebenarnya dan Lea sangat berterima kasih untuk itu.
            “Sara.”
            Suara itu membuat tawa Lea hilang secara mendadak. Ia bahkan bersembunyi di balik tubuh Nigel, hanya untuk membuat dirinya tidak terlihat dari pintu. Dan sekali lagi Lea merasa bersyukur karena tubuh Nigel yang tegap dapat dengan sempurna menyembunyikan dirinya.
            “Ada apa Raimond?”
            “Ada pesan dari Raja Theo. Jika kau sudah selesai menemani Pangeran Nigel, kau diminta untuk mengahadap beliau.”
            “Baiklah, aku mengerti...”
            “Hai, Raimond,” sapa Nigel. “Senang bisa melihatmu lagi.”
            Raimond menundukkan kepalanya, memberikan penghormatannya kepada Nigel. “Senang anda bisa berkunjung ke sini.”
            “Jangan terlalu formal seperti itu, Raimond. Kita kan sudah akrab saat kau berkunjung ke Bairo.”
            Raimond hanya tersenyum menanggapi perkataan Nigel. “Kalau begitu, aku pergi dulu. Sampai bertemu lain waktu.”
            “Tunggu, Raimond. Aku ikut denganmu sekarang ke tempat ayah,” sahut Sara. “Tidak apa-apa kan, Nigel?”
            “Ya. Pergilah. Aku bisa mengurus diriku sendiri di sini.”
            “Kalau begitu, kita akan mengobrol lagi nanti. Samapai jumpa, Nigel.”
            Nigel melambaikan tangannya ke arah Sara dan Raimond yang menjauhinya.
            “Tidak apa-apa kau membiarkan Sara pergi?” tanya Lea pelan.
            Nigel membalikkan tubuhnya, menatap ke arah Lea yang sedari tadi berlindung di balik tubuhnya. “Tidak masalah. Aku lebih tertarik dengan dirimu, Lea.”
            “Apa?”
            Nigel melipat kedua tangannya di depan dada, memposisikan dirinya sedemikian rupa dan menaikkan kedua alisnya dengan caranya yang menawan. “Jadi, ada apa di antara kau dan Raimond?”
            Lea terenyak. Ia tidak berharap Nigel akan mengetahuinya secepat ini dan langsung menanyainya. Lea sama sekali tidak mengharapkan semua itu. “Tidak ada apa-apa.” Lea memalingkan wajahnya. Tidak ingin menatap Nigel.
            “Dengar, aku sudah terlalu baik mengenal dirimu dan Sara. Semakin kau mengalihkan pandanganmu dariku, maka aku semakin yakin ada sesuatu yang kau sembunyikan.”
            “Kalau kubilang tidak ada ya tidak ada. Kenapa sih kau dan Sara selalu berusaha untuk mengganggu masalah pribadiku? Memangnya kalian tidak punya hal lain untuk dibicarakan?”
            Nigel menggeleng pasti, “Untuk saat ini semua perhatianku akan kucurahkan padamu, Lea.”
            “Nigel...” Lea memprotes lemah, merasa lelah dengan kegigihan Sara dan Nigel yang terus-menerus mendesaknya.
            “Ayolah, Lea. Dengan membicarakannya, kau akan membantu meringankan bebanmu sendiri.” Nigel memegang kedua bahu Lea, berusaha untuk mengarahkan tatapan gadis itu padanya. “Kau sudah kuanggap sebagai adik perempuanku dan aku tidak suka jika adikku terlihat sedih dan murung. Apalagi merenung seharian karena tidak mempunyai teman bicara.”
            Lea menghela nafas. Ia membenci dirinya yang selalu dengan mudah terbuai kata-kata Nigel. Lea sadar kalau seharusnya ia tidak membicarakan hal ini. Apalaagi setelah mendengar bahwa Raimond dan Nigel sudah menjalin keakaraban setelah Raimond menemani Sara berkunjung ke Bairo. Seharusnya Lea tidak membuka mulutnya. Ia sadar akan hal itu, namun setiap kali Nigel membujuknya, entah bagaimana Lea tahu kalau dia akan menuruti keinginan lelaki itu.
            “Apakah aku punya pilihan lain?”
            “Mmmm… Pilihan apa yang kau maksudkan, Lea? Kurasa pilihanmu hanya menceritakannya sekarang atau membiarkanku menginterogasimu seharian ini. Mana yang kau pilih?”
            “Kau selalu tahu kalau kau akan mendapatkan semua keinginanmu kan?” Lea menyandarkan tubuhnya dengan pasrah ke meja kerjanya.
            “Tidak jugaa…” gumam Nigel, “Tapi itu bukan masalah sekaraang. Jadi, kau dan Raimond…”
            “Tidak ada apa-apa di antara kami, Nigel. Sungguh. Hanya itu yang bisa kukatakan.”
            “Kalau memang benar tidak ada apa-apa di antara kalian, maka kau tidak akan bersembunyi di belakangku seperti pengecut.”
            “Aku bukan pengecut!”
            “Memang bukan. Jadi, ceritakan permasalahan yang sebenarnya.”
            Lea memainkan kedua tangannya. Membenci dirinya yang tidak bisa mengalihkan perhatian Nigel dari permasalahannya. “Jangan tertawa, oke?”
            “Tergantung…”
            “Nigel,” nada suara Lea mulai mengancam.
            “Baiklah. Aku tidak akan tertawa.”
            Lea menghela nafas kembali. Sedetik sebelum kata-kata itu akan keluar, Lea mencoba menatap mata Nigel, hanya untuk memastikan bahwa Nigel tidak akan tertawa. “Raimond mengatakan perasaannya kepadaku.”
            Nigel bersiul rendah. Ia tidak tertawa meskipun kedua alisnya bergerak naik dengan gerakan yang menawan.
            “Aku sudah bilang kalau kau…”
            “Aku tidak tertawa. Hanya bersiul. Apakah bersiul termasuk tertawa juga?”
            Lea memalingkan wajah. Mencoba menghindari kemungkinan Nigel memergoki wajahnya yang sedang memerah. “Tidak adil.”
            “Kapan itu terjadi?”
            “Beberapa hari lalu. Setelah dia kembali dari Bairo.”
            “Dan apakah yang membuat Raimond tiba-tiba menyatakan perasaannya kepadamu?”
            “Mana aku tahu?! Jangan tanyakan kepadaku! Aku kebingungan, Nigel!” ucap Lea frustasi, “Aku bahkan memastikan bahwa kedua telingaku mendengarkan hal yang benar. Tapi di sanalah dia, mengatakan sekali lagi tentang perasaannya kepadaku.”
            Kali ini Nigel tidak bisa menahan tawanya. Tawa yang dalam dan ceria keluar dari tenggorokkan Nigel yang nampak jenjang.
            “Aku sudah memperingatkanmu untuk tidak tertawa!”
            Nigel berjalan ke arah Lea yang masih menatapnya dengan marah. Pelan-pelan, dengan penuh kelembutan, Nigel menepuk-nepuk puncak kepala Lea. “Tidak kusangka kalau kau dan Sara sudah tumbuh secepat ini. Sudah mulai mengenal namanya cinta.”
            “Jangan memperlakukan aku seperti anak kecil!” Lea menepis tangan Nigel yang bertengger di atas kepalanya.
            “Tentu saja,” Nigel mengelus dagunya yang sudah mulai menumbuhkan sedikit janggut. “Hanya anak kecil yang akan merasa kebingungan dengan pernyataan cinta seorang lelaki dewasa.”
            Lea tersindir namun ia tidak bisa marah karena semua yang dikatakan Nigel terasa benar. “Ini adalah yang pertama untukku, Nigel. Aku… tidak tahu harus melakukan apa…”
            “Cobalah untuk menerima semuanya dengan perasaan tenang. Biarkan kalian saling belajar. Jangan mencoba untuk menolaknya, Lea. Bersikaplah seperti biasa.”
            “Tapi…”
            “Aku yakin, Raimond benar-benar memikirkan dirimu dan aku yakin dia membutuhkan keberanian yang cukup besar untuk bisa menyampaikan perasaannya kepadamu.”
            “Kau terdengar seperti sudah mengenalnya dalam waktu yang begitu lama.”
            Nigel hanya tersenyum. “Kami para lelaki tidak membutuhkan waktu yang lama untuk bisa menilai satu sama lain.”
            “Seandainya aku bisa mendapatkan kemampuan yang sama.”
            “Kau bisa belajar, Lea. Kau masih memiliki banyak waktu…”
            Lea mendongakkan kepalanya, mencoba menatap ke arah Nigel yang sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri. “Kau bertanggung jawab untuk membantuku, Nigel.”
            “Dengan senang hati.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar