Kastil itu berdiri dengan tegak. Selain jalan masuknya, kastil itu dikelilingi oleh tebing yang curam ataupun jurang yang dalam. Letaknya yang berada di atas bukit jelas memberikan keuntungan bagi para penghuni kastil itu jika terjadi perang. Secara keseluruhan, kastil itu terbagi menjadi dua bagian utama yang terpisah. Bangunan pertama merupakan tempat segala kegiatan di kastil itu umumnya berlangsung. Letaknya di bagian depan kastil. Bangunan tersebut terdiri dari banyak menara dan jendela-jendela besar di sekelilingnya. Bangunan lainnya adalah pusat pemerintahan yang berjalan di dalam kastil dan gedung ini terletak di bagian belakang, terlindung dengan pertahanan yang sangat baik. Kedua bagian itu dihubungkan oleh sebuah jembatan yang hanya bisa dicapai dari lantai teratas bangunan pertama. Selain itu, tidak ada jalan masuk lain.
Sekarang, Lucca sedang melewati jembatan itu. Para pengawal yang berjaga di sepanjang jembatan cukup tahu diri untuk bersikap sopan. Lucca adalah orang kepercayaan pemimpin mereka dan mereka akan berpikir dua kali untuk membuat tangan kanan sang pemimpin gusar. Dengan tinggi yang mencapai 180 sentimeter, otot-otot yang dengan jelas nampak di kedua lengan, dada, dan bagian lain tubuhnya, Lucca pantas untuk disegani. Rambutnya yang sehitam langit malam tampak serasi dengan kulitnya yang kecoklatan akibat terlalu sering berada di bawah sinar matahari, berlatih. Garis wajahnya yang tegas berpadu dengan hidungnya yang berlekuk dengan sempurna, bibirnya yang penuh namun menampakkan kekeraskepalaan, dan di luar semua itu, matanya merupakan hal yang paling menonjol. Dengan kedua bola matanya yang berwarna hitam, Lucca mampu membuat diam siapapun dengan tatapannya.
“Hallo, tampan.”
Lucca melirik sekilas dari sudut matanya saat melihat sosok seorang wanita mendatanginya. Rambut pirangnya yang mencolok dipadukan dengan gaun berwarna biru laut yang menempel erat di lekuk tubuhnya yang sempurna. Semua pria akan langsung tunduk padanya jika mereka mendengar suaranya, namun tidak dengan Lucca. Lucca tidak menanggapi panggilan Joanne. Meskipun wanita itu mempunyai posisi yang sama seperti dirinya, orang yang ada di bawah komando tuannya, Crusta, secara langsung, Lucca tidak pernah mau beramah tamah dengannya.
“Kau selalu ketus. Aku tahu kau menyadari dirimu tampan, tapi setidaknya balas salamku, Lucca. Suatu saat kita akan bekerja sama dan kuyakinkan kau akan membutuhkan bantuanku.”
Lucca mengibaskan tangannya malas, lalu menatap langsung ke mata Joanne yang berwarna hijau terang. “Apa maumu?”
“Panggil namaku, Lucca. Semenjak pertama kali kita bertemu, berapa lama itu? Empat tahun?” Joanne berusaha menghitung. “Kau tidak pernah menyebut namaku. Aku tahu kau lebih dulu ada di sini, tapi sekarang, posisi kita sama, Lucca. Jadi, panggil namaku.”
Lucca menatap Joanne tidak peduli. Ia mendengus sebelum akhirnya mengalihkan pandangan dan melengos pergi, tidak memperdulikan sama sekali kata-kata Joanne apalagi berniat mengabulkan keinginannya. Mereka hanya bekerja sama jika dibutuhkan dan selain itu, Lucca memang tidak ingin bicara dengannya. Jadi, kenapa perlu repot-repot memanggil namanya?
Lucca merasakan tubuhnya kaku. Ia tidak bisa menggerakkan kedua kakinya meskipun ia ingin. Ia bahkan tidak bisa menggerakkan seluruh badannya. Bukan hanya itu, kekuatan telekinesisnya pun seperti dilumpuhkan. Lucca bisa merasakan kekuatan itu menyusut di dalam tubuhnya. Seakan-akan ada yang membekukan tubuhnya. Lucca menggertakkan giginya, mencoba menahan emosi yang hampir meledak.
“Kau harus memanggil namaku jika ingin aku membebaskan tubuhmu.” Joanne berjalan mendekat dan berdiri di hadapan Lucca.
Ia menyentuh wajah Lucca dengan ujung jarinya, menelusuri pipi dan rahang Lucca yang bergetar menahan amarah. Ia tidak takut jika tiba-tiba Lucca akan memarahinya ataupun menggigitnya. Ia sudah mengunci semua gerakan Lucca, termasuk kemampuan berbicaranya, namun tetap saja tatapan Lucca seakan menusuknya.
“Hentikan menatapku dengan pandangan seperti itu, Lucca. Aku hanya meminta hakku. Kecuali tatapanmu bisa membunuhku, aku tidak akan melepaskan pengaruhku sampai kau menyebutkan namaku. Bagaimana? Kau setuju?”
Joanne cukup kagum dengan kemampuan Lucca mengungkapkan keinginannya melalui tatapan matanya juga dengan kemampuannya mengartikan tatapan itu. Yang jelas, ia tahu kalau Lucca masih tidak ingin menuruti keinginannya. Tanpa rasa gentar, Joanne berjinjit, mendekatkan dirinya pada Lucca, secara sadar berniat menggoda Lucca dengan tubuhnya, kemampuan yang ia sangat bangga-banggakan pada tuannya.
“Turuti keinginanku atau kau tetap akan ada di sini sementara aku berbicara dengan Tuan Crusta. Kau suka itu?” Joanne mengecup pipi Lucca yang menegang karena emosi. “Lucca.”
Mata Lucca berkilat dengan amarah yang jelas terlihat saat Joanne menatapnya kembali. Lucca memejamkan matanya, mencoba meredakan amarah. Joanne bisa melihat kedua tangan Lucca yang mengepal dan gemetar. Kemarahan itu pun hilang saat Lucca kembali membuka matanya, digantikan dengan ketenangan. Mata itu tidak lagi membesar karena marah. Yang ada hanya tatapan penuh ketenangan. Joanne berpikir dua kali saat melihat perubahan itu dan akhirnya memutuskan Lucca akhirnya menuruti keinginannya. Ia melonggarkan pengaruhnya dan membiarkan Lucca berbicara.
Lucca menghela nafas saat akhirnya bisa merasakan tekanan pada tenggorokkannya lepas. Ia berdehem, hanya untuk memastikan tenggorokkannya sudah terbebas.
Joanne melipat kedua tangannya di depan dada, memindahkan berat tubuhnya pada kaki kanannya. “Aku menunggu, Lucca.”
Lucca menghela nafas lagi. Ia menurunkan kepalanya, mencoba menatap langsung ke mata Joanne yang tingginya hanya mencapai dada Lucca. Joanne baru membebaskan tenggorokkannya, sebagian besar tubuhnya masih tidak bisa bergerak. Kenyataannya hanya mulut dan suaranya yang bisa berfungsi dengan normal.
“Joanne.”
Joanne merengut mendengar nada meremehkan dalam suara Lucca. Ia masih tetap dalam posisinya, tidak berniat membebaskan Lucca dari pengaruhnya.
“Apa? Aku sudah menyebut namamu kan? Sekarang bebaskan tubuhku.”
“Panggil aku dengan benar, Lucca. Aku tidak suka nada meremehkan dalam suaramu.”
Lucca menghela nafas dengan gusar. “Apa lagi sih maumu? Katakan yang jelas dan jangan berbelit-belit.”
“Panggil namaku dengan lembut, Lucca.”
Lucca menggertakan gigi dengan kesal. Ia ingin sekali menyemburkan amarahnya tapi tahu kalau itu tidak akan berguna untuk saat ini. Tidak, untuk saat ini ia harus menuruti kemauan Joanne. Sial! Memikirkan namanya saja sudah membuatku ingin marah, pikir Lucca geram.
“Ayo.” Joanne menantang dengan berani.
“Joanne.”
Joanne menggeleng tidak puas. Meski tidak ada nada meremehkan lagi, tapi nada suaranya masih datar-datar saja. “Ayolah, Lucca. Aku yakin kau sering merayu para gadis. Gunakan cara yang sama untuk memanggil namaku. Masa kau tidak bisa melakukan itu?”
Lucca kembali memejamkan matanya, mencoba menghindari tatapan mata Joanne yang terasa begitu menyebalkan. Ia menguatkan hatinya, mencoba menahan rasa geram, dan mencoba sekuat tenaga untuk tersenyum pada Joanne. Mungkin dengan senyum akan bisa sedikit membantu.
“Joanne…”
Joanne menatap Lucca takjub. Sedetik kemudian, ia tertawa terbahak-bahak sampai harus membungkukkan tubuhnya di hadapan Lucca. Lucca kembali melotot pada Joanne yang masih sibuk tertawa. Joanne tertawa sampai-sampai ia tidak sanggup menahan air mata yang mengalir ke pipinya yang mulus.
“Sudah kan? Aku sudah mengabulkan keinginanmu! Sekarang bebaskan aku!”
Joanne masih berusaha untuk mengendalikan tawanya saat menatap ke arah Lucca. “Kau sama sekali tidak cocok bersikap lembut.” Joanne kembali tertawa terbahak. “Sebenarnya bagaimana caramu merayu para gadis, Lucca? Kau benar-benar kaku. Bahkan untuk tersenyum pun kau tampak kaku.”
Lucca mengabaikan tawa Joanne yang meremehkannya. “Aku tidak pernah merayu para gadis! Kau yang membuat asumsi sendiri. Sekarang, bebaskan aku!”
Masih berusaha mengendalikan tawa dan menghapus air mata dari sudut matanya, Joanne mengibaskan tangannya, membebaskan Lucca dari keadaannya yang membeku. Lucca limbung sejenak saat merasakan tubuhnya terbebas dari pengaruh kekuatan Joanne. Ia menggerak-gerakkan kepalanya dan kedua tangannya saat bisa mengendalikan tubuhnya kembali.
“Aku cukup terhibur hari ini.” Joanne mengambil nafas panjang. “Ayo kita temui Tuan Crusta.”
Lucca mencengkram pergelangan tangan Joanne, tidak rela membiarkan Joanne pergi begitu saja setelah perbuatan yang dilakukan kepadanya. Ia menyentakkan tubuh Joanne sebelum wanita itu bisa protes. Sebelah tangannya yang lain mencengkram bahu Joanne sehingga Joanne berada tepat di hadapannya. Joanne berteriak kesakitan saat merasakan cengkraman Lucca di bahunya terasa menusuk.
“Sekali lagi kau berani melakukan hal semacam itu kepadaku, kau akan menerima akibat yang lebih parah dari ini.” Lucca menancapkan kukunya di bahu dan pergelangan tangan Joanne, menyebabkan darah keluar dari bekas cengkramannya.
“Hari ini kau mendapatkan kemurahan hatiku,” Lucca melepaskan cengkramannya pada Joanne, sepercik darah menempel pada jari-jari Lucca. Ia mengangkat salah satu tangannya dan dengan wajah sadis menjilat darah Joanne yang menempel di jari-jarinya. Tepat di hadapan Joanne yang masih kesakitan.
“Joanne,” Lucca membisikkan nama Joanne di telinga wanita itu. Lucca mendengus lalu berjalan lebih dahulu, meninggalkan Joanne yang masih kesakitan. “Kita sudah membuat Tuan Crusta menunggu.”
Joanne tertawa sinis menyadari Lucca akhirnya memanggil namanya dengan kemauan sendiri. Meski Joanne harus menerima rasa sakit di tubuhnya. Ia menatap punggung Lucca yang berjalan di depannya lalu melihat pergelangan tangan dan bahunya yang mengeluarkan darah. Rasa perihnya luar biasa. Ia menggigit bibir hanya untuk mencegah dirinya mengerang kesakitan. Joanne memaki mengingat luka ini tidak akan hilang selama beberapa hari ke depan. Berusaha mengabaikan rasa sakitnya, ia pun berjalan menyusul Lucca menuju ruangan tuannya. Rasa sakit ini masih belum seberapa jika ia berani membuat tuannya marah.
Lucca menunggu sampai Joanne bergabung dengannya. Setelah wanita itu berdiri di sebelahnya sambil berusaha mengabaikan rasa sakit yang tadi ia sebabkan, Lucca mengetuk pintu berdaun dua di depannya.
“Masuk,” suara yang berat dan dalam menanggapi ketukan itu. Lucca mendorong salah satu daun pintu dan Joanne mendorong daun pintu yang lain. Mereka langsung menutup pintu itu kembali sebelum berhadapan dengan pemimpin mereka. Berdampingan, Lucca dan Joanne memasuki ruangan yang besar itu.
Dinding-dindingnya dipenuhi dengan permadani yang indah. Perapian yang besar menyala di sisi lain ruangan, membuat ruangan itu terasa nyaman jika dibandingkan dengan cuaca malam hari di luar. Pada satu kesempatan, sebuah meja panjang diletakkan di tengah ruangan. Meja itu dipenuhi dengan berbagai macam makanan yang mampu menggugah selera makan siapapun, bahkan orang yang tadi sudah cukup makan. Lucca dan Joanne menemukan meja panjang itu hari ini.
Pemimpin mereka duduk di ujung meja yang lain, sedang menyantap makanan yang sudah disiapkan oleh pelayan pribadinya yang berdiri tidak jauh di belakangnya. Joanne dan Lucca menunduk penuh hormat ke arah tuan mereka.
Serempak mereka memanggil tuan mereka. “Tuan Crusta.”
Crusta menengadah dari acara makannya, menatap kedua orang kepercayaannya. “Ah, Lucca, Joanne. Kalian sudah datang. Ambil tempat kalian.” Crusta membuka kedua tangannya, menyuruh Lucca dan Joanne untuk bergabung dengannya.
Lucca berjalan ke salah satu sisi meja dan Joanne ke sisi lainnya. Mereka mengambil tempat seperti biasa saat Crusta mengajak mereka santap malam. Dalam keheningan, dua orang lain memasuki ruangan dan menyiapkan makanan untuk Lucca dan Joanne. Saat berada di dekat Crusta, Lucca dan Joanne benar-benar melakukan pepatah ‘berpikir dulu sebelum bertindak.’ Mereka tidak ingin mengambil resiko membuat tuan mereka tidak senang.
Sosok Crusta tampak seperti bapak-bapak pada umumnya. Rambutnya yang dipotong pendek berwarna putih keperakkan. Ia tidak terlihat renta meskipun keriput mulai menghiasi sebagian sudut mata dan mulutnya. Jenggot yang tidak terlalu tebal menutupi rahangnya yang mempunyai garis keras dan jelas-jelas menunjukkan kekuatan. Matanya bisa berubah sewaktu-waktu. Saat ia sedang merasa senang dan tenang, maka ia akan terlihat bijaksana dan saat ia tidak senang, Lucca dan Joanne sangat menghindari hal ini, maka tatapan matanya akan mampu membuat semua orang membeku. Jika Joanne harus menggunakan kekuatan pikirannya untuk menghentkan gerakan orang-orang, maka Crusta bisa melakukannya hanya dalam sekali tatap.
“Ada apa dengan bahu dan pergelangan tanganmu, Joanne?” tanya Crusta saat melihat seberkas luka dan darah yang baru saja mongering.
Joanne menatap bahu dan pergelangan tangannya yang terluka. “Tidak ada apa-apa, Tuan…” Joanne melirik sekilas ke arah Lucca dari sudut matanya. Laki-laki itu tidak bereaksi sama sekali, tidak merasa berterima kasih karena Joanne tidak melaporkan perbuatannya. Ia hanya menyuapkan sepotong makanan yang tadi sudah disajikan ke dalam mulutnya. Joanne memaki dalam hatinya. Tentu saja dia merasa tenang. Jika aku melaporkan kelakuannya pada Tuan Crusta, maka perbuatanku pun akan ketahuan, pikir Joanne sambil memotong daging asap yang sudah diambilkan pelayan.
“Benarkah?”
“Ya. Hanya seorang laki-laki yang tidak mau melepaskan diriku saat aku berjalan-jalan di kota tadi.”
“Begitu…” Crusta bersandar pada kursinya dan meletakkan kedua tangannya di pangkuan. “Kau harus lebih hati-hati dalam menggunakan kekuatanmu, Joanne.”
Joanne mengangguk pelan sambil memasukkan potongan daging itu ke dalam mulutnya.
“Aku senang kalian bisa akrab dan bekerja sama. Karena kalau tidak…”
Lucca merasakan udara di sekitarnya tiba-tiba terasa begitu berat. Tanpa bisa dicegah, ia melepaskan pegangannya pada pisau dan garpu yang tadi dipegangnya. Joanne merasakan hal yang sama. Alat makannya berjatuhan sementara ia berusaha untuk mencengkram pegangan kursinya, mencoba menarik nafas sebisa mungkin untuk mengisi paru-parunya.
Pelayang-pelayan yang tadi ada di ruang makan berjatuhan saat mereka tidak bisa lagi menghirup udara. Lucca mengamati tuannya dengan mata yang ia buka dengan susah payah. Tekanan itu begitu kuat sampai Lucca merasa paru-parunya akan meledak, namun tuannya tetap bersikap seperti biasa. Duduk bersandar sambil tersenyum dengan tangan terlipat di pangkuannya. Ia tidak tahu sampai kapan ia harus bertahan menghadapi tekanan dari tuannya. Joanne nyaris tidak bsia membuat dirinya tetap sadar. Tubuhnya bersandar lemas di kursinya.
Lalu tekanan itu mereda. Lucca mengambil nafas banyak-banyak, jelas-jelas terdengar lega karena bisa bernafas dengan normal. Joanne mencoba kembali duduk di posisinya semula sambil berusaha mengisi paru-parunya kembali. Ia sempat terbatuk kecil sebelum tangannya yang gemetar meraih segelas air yang sudah disediakan.
“Yah, kalian akan tahu akibatnya jika berani membuat kekacuan di sini.” Crusta berkata dengan tenang, seakan tidak menyadari akibat dari emosinya yang berubah secara tiba-tiba.
Lucca dan Joanne mengangguk dengan gugup, mencoba mengembalikan harga diri mereka. Tuannya jelas mengetahui apa yang terjadi di dalam wilayahnya. Bagaimana mungkin Joanne dan Lucca menyembunyikan tindakannya jika tuan mereka serba tahu. Tidak. Tidak ada dari mereka yang berniat mengambil resiko itu.
Crusta meneruskan makannya, mempersilahkan Joanne dan Lucca melanjutkan juga. Sikapnya yang begitu tenang sering membuat para bawahannya takut. Saat acara makan sudah selesai dan meja makan sudah dibereskan, Crusta pun memulai pembicaraannya.
“Sudah tiba waktunya.”
Lucca dan Joanne menunggu. Mereka tahu ini bukan saatnya menyela perkataan tuannya.
Crusta berdiri dari duduknya lalu menatap keluar jendela. “Aku harus melihat anak-anakku. Anak-anak yang sudah kuberikan kehidupan baru. Aku yakin aku sudah memberikan waktu hidup yang cukup lama untuk mereka.” Crusta berbalik menghadap dua orang kepercayaannya kembali.
“Pergilah ke Fyria.”
Lucca dan Joanne masih menunggu.
“Awasi mereka untukku dan jika memang mereka sudah tumbuh seperti yang aku inginkan,” seringaian Crusta terlihat jelas, “bawa putri kembar itu padaku.”
Bersamaan, Lucca dan Joanne menganggukkan kepala mereka. “Baik, Tuanku.”
“Baru kali ini aku melihatmu sendirian. Mana Sara?” Raimond memasuki ruang kerja bersama Reita.
Lea menoleh sekilas untuk melihat kedatangan pengawalnya lalu segera mengembalikan perhatiannya pada dokumen-dokumen yang ada di depannya. “Sara sedang bersama Ayah dan Paman Ieru. Mereka menyambut rombongan dari negeri Bairo.”
“Kau tidak ikut bersama mereka?”
“Hanya jika aku dipaksa. Aku lebih memilih memilah-milah dokumen ini dibandingkan menghabiskan waktu berjam-jam mendengarkan pembicaraan politik.” Lea menggeleng dengan pasti. “Tidak akan.”
Raimond mengambil selembar dokumen yang belum diperiksa Lea. “Kalau begitu Sara menggantikanmu melakukan tugas itu?”
“Tidak. Itu memang sudah tugasnya. Sebenarnya tugasku juga, akan tetapi Ayah tidak terlalu memaksakannya padaku sebab Saralah yang nantinya akan mewarisi tahta. Mau tidak mau, Sara harus mulai menjalin hubungan dengan mereka.” Lea meletakkan dokumen yang sudah ia periksa dan tanda tangani ke atas tumpukkan kertas-kertas yang lain. “Sara bahkan lebih membenci petemuan ini daripada aku tapi dia tidak bisa menolaknya. Banyak sekali orang-orang yang dengan jelas nampak menjilat kepada kami. Hanya karena Sara akan mewarisi tahta kerajaan nanti. Apa boleh buat.”
”Memangnya Raja Theo tidak membantu kalian menghadapi para penjilat itu?” Reita jelas-jelas senang dengan julukan Lea pada para utusan kerajaan itu.
”Ayah melakukannya jika keadaan sudah sangat mendesak. Jika tidak, kami harus melakukannya sendiri. Bagaimanapun juga, kami tetap akan bertemu dengan orang-orang seperti mereka. Kami tidak bisa bergantung selamanya pada Ayah.”
Lea kembali menekuni pekerjaannya saat Raimond dan Reita tidak menanggapi perkataannya. Dokumen-dokumen itu sudah menumpuk karena ditinggal selama beberapa hari belakangan. Ada surat-surat undangan, keluhan, bahkan dokumen penting yang harus segera diurus oleh Sara ataupun ayahnya.
Pintu terbuka dan Sara langsung menyeruak masuk ke dalam ruangan. Tidak memperhatikan keberadaan kedua pengawalnya di sana. ”Lea, tolong carikan surat perjanjian kita dengan negara Bairo. Mereka meminta untuk mengecek ulang.”
”Sepertinya kau sibuk sekali?”
Sara meoleh dan nampak sedikit kaget saat melihat sosok Raimond dan Reita. ”Oh. Aku tidak melihat kalian. Ya. Aku cukup sibuk sekarang ini.”
”Dan kau memilih untuk melarikan diri ke sini kan?” Lea memberikan secarik kertas ke tangan Sara.
”Aku harap kau tidak menemukannya secepat ini.”
”Sekarang aku tahu kalau kau sedang sibuk melarikan diri.”
”Tentu saja.” Sara mendengus pada Reita. “Mereka benar-benar memuakkan. Aku tidak ingin melihat wajah mereka lagi.”
”Tidak bisa.” Lea mendorong bahu Sara untuk segera keluar dari ruangan. ”Ayah akan menghukummu nanti. Cepat serahkan dokumen itu, selesaikan pembicaraan kalian atau apapun yag kalian kerjakan dan segera kembali kemari. Aku ingin semua ini cepat selesai.”
”Kalau begitu, kau saja yang pergi.” Sara menolak untuk keluar.
”Tidak.” Tangan Lea terlipat di depan dadanya, menolak dengan tegas keinginan Sara. ”Lakukan tugasmu, Sara.”
Sara mengerang tidak suka. ”Ayolah... Kita bertukar untuk kali ini saja...”
”Tidak. Kau tidak akan mendapatkan apa-apa meskipun kau bertekuk lutut padaku.”
”Tidak adil! Aku lebih suka kau yang jadi anak pertama! Kenapa harus aku yang lahir lebih dahulu?”
”Karena kau selalu terburu-buru.” Punggung Sara kembali didorong. ”Cepat pergi dan selesaikan tugasmu.”
”Baiklah. Kali ini, kau bisa kabur, tapi lihat saja nanti. Kau pasti akan merasakan penderitaan yang aku rasakan.”
Lea tersenyum penuh kemenangan sebelum akhirnya menutup pintu kembali. Merasa puas dengan tindakan yang dilakukannya. Terkadang, ia memang harus menjadi tegas untuk mendorong Sara.
”Sepertinya kau sangat senang bisa menekan Sara untuk melakukan tugasnya,” sahut Reita.
”Tentu saja. Aku akan melakukan berbagai macam cara agar tugas itu tidak jatuh ke tanganku.”
”Dan kau jelas-jelas merasa senang karena kau bisa membuat Sara melakukan kewajibannya.”
Lea tidak menampakkan penyesalan sedikit pun. Ia kembali berjalan ke mejanya dan duduk di belakang meja, kembali menekuni tumpukan dokumen-dokumen itu.
”Bolehkan aku membantumu?” tanya Raimond yang langsung mengambil beberapa dokumen untuk dipilah.
”Aku akan sangat terbantu sekali jika kalian mau membantuku melakukan hal ini. Aku tidak tahu apakah aku bisa menyelesaikannya malam ini tapi tenaga tiga orang jelas akan membuat semua pekerjaan ini selesai.”
Reita mengambil alih tumpukkan dokumen yang lain. ”Jadi, apa yang harus kami lakukan?”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar