Minggu, 17 April 2011

>>7



“Aku lega, masalah mereka sudah mulai ditangani,” Lea membaringkan dirinya di atas tempat tidur Sara, merasa lega untuk Xavier dan penduduk lainnya.
Sara ikut berbaring di sebelahnya, memejamkan mata. Lea bisa merasakan kelelahan memancar dari tubuh saudaranya. Perjalanan yang melelahkan antara Fyria dan Bairo, lalu permasalahan yang tiba-tiba harus ditanganinya karena Lea tidak bisa menentukan langkah yang tepat.
“Sara, terimakasih sudah mau membantuku. Aku tau kau lelah akibat perjalanan panjang itu. Sungguh, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan tanpa dirimu.”
“Aku hanya melakukan tugasku, Lea. Kau tidak melakukan kesalahan sama sekali.” Sara menutup mulutnya saat rasa kantuk mulai menyerang. “Aku ingin beristirahat sebentar. Tolong bangunkan aku sore hari nanti.”
“Kalau begitu, berbaringlah dengan benar,” Lea memaksa Sara untuk naik ke posisinya yang benar. Saat kepala Sara menyentuh bantal dengan kain satin yang menutupinya, Lea yakin kalau saudaranya itu sudah terlelap. Lea menarik selimut satin itu untuk menutupi tubuh Sara yang mengenakan gaun tidurnya.
“Terimakasih, Sara,” bisik Lea.
Sara menggumam tidak jelas, Lea tidak tahu apakah Sara mendengar suranya tadi. Lea berjalan ke luar kamar Sara. Diam-diam memikirkan sebuah tekad baru dalam hatinya.
“Sedang apa kau di sini? Tersenyum sendirian seperti itu.”
Kemunculan Raimond membuat senyum di wajah Lea makin cerah. “Aku baru saja berpkir dan menurutku ide ini sangat hebat.”
“Oh ya?” Raimond menyilangkan kedua tangannya di depan dada, terlihat antusias dengan cerita Lea. “Coba ceritakan padaku.”
Lea mengangguk dengan penuh semangat. “Aku akan menceritakannya, tapi tidak di sini.” Kepala Lea berputar-putar, seakan sedang mengamati keadaan. “Kita ke taman belakang saja. Bagaimana?”
Raimond mengangkat kedua bahunya. “Aku ikut saja. Rasa penasaranku belum mereda setelah kau mengatakan bahwa kau punya ide hebat.”
            “Bagus!”


Lea menatapnya dengan tatapan penuh harap, menunggu tanggapan Raimond atas ide yang dilontarkannya tadi. “Aku tidak tahu apakah orang lain akan menganggap itu hebat,” Raut wajah Lea berubah saat Raimond mengatakannya.
“Benarkah?”
Raimond mengangguk, tidak ingin berbohong meskipun kenyataan akan membuat putri itu sedih. “Tapi menurutku itu kemajuan yang besar.”
“Benarkah?”
“Orang-orang tidak perlu mengenal kalian dengan baik untuk tahu bahwa kalian sangat tidak menyukai politik kerajaan. Sara mempelajarinya karena dialah yang nantinya akan mewarisi tahta. Jika kau memang ingin mempelajarinya, itu adalah sebuah kemajuan.”
Senyum lebar menghiasi wajah Lea saat mendengar pendapat Raimond. “Tapi, kau benar-benar berniat untuk mempelajarinya? Aku sendiri mengakui bahwa politik kerajaan sangatlah sulit. Beruntung aku tidak harus mempelajarinya.”
Lea mengangguk dengan semangat. Merasa senang karena idenya mendapatkan dukungan. “Setelah kejadian tadi, aku berharap aku bisa melakukan sesuatu. Tidak hanya untuk mereka, tapi juga untuk semua orang. Aku tidak ingin hanya bisa mengobati, kalau bisa aku ingin mencegah penderitaan dan rasa sakit itu terjadi.”
“Bagus. Aku suka dengan pemikiranmu.”
“Benarkah?” Lea bertanya sekali lagi, “Kau benar-benar setuju denganku karena ide ini hebat kan? Bukan karena aku putri raja? Karena jika kau sampai begitu, maka aku akan membencimu, Raimond.”
Raimond mendengus sambil merebahkan tubuhnya. “Aku tidak sebodoh itu, Lea. Aku sudah bilang kalau itu adalah kemajuan hebat. Kalau kau memang benar-benar niat mempelajarinya, kau akan menemukan banyak hal di sana. Kau bisa mengasah kemampuanmu, kau akan membantu Sara, dan di samping itu, Raja Theo juga pasti akan bangga padamu.”
“Aku melakukan itu bukan agar ayah bangga padaku!”
Raimond menatap wajah yang begitu penuh rasa percaya diri itu. Lea tidak berpura-pura. Raimond tersenyum, lalu memejamkan matanya. “Aku percaya padamu, Lea.”
“Aku serius! Jangan menertawaiku!”
“Aku bukannya menertawaimu. Aku suka dengan pemikiranmu. Tidak ada kepura-puraan. Itulah yang membuatku suka padamu.”
“Pokoknya...” Lea terdiam. Kata-kata yang tadi ingin diucapkannya seakan menghilang ditelan kerongkongannya kembali. Kalimat terakhir yang diucapkan Raimond terngiang di telinganya, seakan ingin mempermainkannya.
“Ka... Kau mengatakan sesuatu tentang menyukaiku..?” Lea bertanya pelan, sambil memperhatikan perubahan raut wajah Raimond. Lea sangat yakin bahwa Raimond sedang mengerjainya.
Suara gumaman Raimond tidak bisa Lea terjemahkan sebagai tanda setuju atau tidak. “Raimond?”
“Memangnya siapa yang tidak akan menyukaimu, Lea? Semua orang pasti menyukaimu karena kau adalah putri yang anggun, ramah, cantk, dan begitu berwibawa.”
Lea tidak tahu apakah ia harus lega atau kecewa ketika mendengar penjelasan itu terlontar dari mulut Raimond. “Jadi, kau memang sedang mengerjaiku.” Lea mengelus dadanya, “Tentu saja aku disukai. Itu keuntungan menjadi seorang putri kan?” Suara tawa keluar dari tenggorokkan Lea, namun Lea hampir tidak bisa mengenalinya. Seakan-akan, tawa itu sedang dipaksakan.
“Aku menyukai pemikiranmu, kecerianmu, dan tawamu.” Lea kembali menatap ke arah Raimond yang entah kapan sudah membuka matanya dan sedang menatap lurus ke arahnya.
“Raimond, jangan...”
“Aku tidak sedang menggodamu, Lea.”
“Aku..”
“Atau pun mempermainkanmu. Aku serius. Aku serius mengatakan bahwa aku menyukaimu, Lea. Perasaan suka seorang pria kepada wanita.”
“Tapi kau dan aku...”
“Benar. Aku memang hanya pengawalmu. Aku menyadari posisiku. Tapi apakah itu sebuah kesalahan?”
Lea terdiam. Ia tidak tahu apa yang membuat dirinya kehilangan kata-kata. Tatapan mata Raimond, nada suara Raimond, ataukah ketakutan akan suara yang akan ia dengar dari tenggorokkannya sendiri. Lea tidak tahu. Yang ia bisa rasakan sekarang adalah bahwa ia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Raimond.
Raimond memejamkan matanya kembali, membantu Lea untuk menenangkan debaran jantungnya yang sudah berdetak dengan begitu keras. “Aku menyulitkanmu, kan?” Suara Raimond terdengar lelah.
“A...Aku...” Entah bagaimana caranya, Lea bisa menemukan kembali suaranya.
Raimond merubah posisi tubuhnya yang sedang berbaring. Posisinya yang kini membelakangi Lea seakan memberi Lea jarak. “Aku ingin beristirahat sebentar. Aku lelah sekali.”
Lea menelan ludahnya dengan susah payah. Merasa sedikit lega atas sedikit jarak yang diberikan Raimond padanya. “Ka... Kalau begitu aku akan pergi...”
“Ya. Pergilah, Lea. Tapi aku serius dengan kata-kataku tadi. Jangan menganggapku mempermainkanmu.” Kata-kata itu terdengar jelas meskipun tubuh besar Raimond menghalanginya. Tanpa membuka matanya, Raimond bisa merasakan Lea beranjak meninggalkan dirinya. Ia memejamkan matanya semakin erat. Sadar bahwa tindakannya tadi akan membuat Lea kebingungan.
Aku tidak bisa mundur lagi, pikir Raimond.


Lea dapat merasakan sesuatu sedang berputar begitu cepat di dalam kepalanya. Jantungnya masih berdebar dengan begitu cepat. Ia hanya bermaksud untuk mengatakan rencananya kepada Raimond. Ia tidak bermaksud untuk mendengarkan pernyataan seperti itu keluar dari mulut Raimond. Bagaimana mungkin... Bagaimana mungkin Raimond bisa menyukaiku? Aku tidak tahu kalau....
“Lea? Apa yang sedang kau lakukan di sini?” tanya Reita yang entah kapan sudah berdiri di sebelahnya.
Lea menatap Reita. Benar. Tadi, saat Reita tersenyum, ia bisa merasakan debaran yang sama dengan yang sekarang sedang terjadi pada dirinya. Dan sampai saat ini, ia tidak mengerti mengapa hal seperti itu bisa terjadi.
“Lea?”
“Tidak... Tidak ada apa-apa?”
“Kau yakin?” tanya Reita khawatir.
“Ya... Aku akan bertemu dengan ibuku...”
Lea tidak sempat lagi mendengar kata-kata Reita karena dia langsung berlari. Pikirannya benar-benar kacau. Lea tidak tahu mengapa dirinya seperti ini. Berdebar-debar dengan konyolnya karena senyum Reita dan sebuah pernyataan yang tidak terduga dari Raimond. Ia tidak mengerti.
“Ibu!”
Ratu Leira berpaling saat mendengar suara putri bungsunya yang janggal. “Lea, ada apa?”
Lea berlari secepat dan sesopan yang mampu dilakukan kakinya. Ia berdiri di hadapan ibunya, berusaha untuk mengatur nafasnya yang tidak beraturan. “Ibu, apa yang harus aku lakukan?”
“Ada apa?” Lea hanya bisa mengikuti saat ibunya menyuruhnya untuk duduk di salah satu sofa yang ada dalam ruangan itu.
“Ibu.... aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan... Aku bingung, bu...”
“Lea, tenanglah...” Lea bisa merasakan usapan tangan ibunya pada rambutnya, sangat membantu untuk meredakan sedikit kepanikan yang melandanya. Ia bisa merasakan bahwa ibunya akan mendengarkan segala keluh kesahnya.
“Ibu, aku... Raimond... Itu, maksudku Raimond padaku....”
“Lea, tenangkan dirimu. Ibu pasti akan mendengarkanmu. Ada apa dengan Raimond, sayang?”
“Dia... bilang kalau....” Lea kembali terdiam, tidak tahu harus mengatakan apa. Ia bahkan tidak yakin untuk mengatakan bahwa Raimond sudah mengatakan perasaannya. Apa yang harus ia katakan?
            “Apa dia menyukaimu, sayang?”
            Lea mendongak saat mendengar kata-kata ibunya. Tatapan ibunya yang menatap langsung ke arahnya membuatnya terdiam dan ia bisa merasakan hawa panas mengalir di wajahnya. “Ba... Bagaimana ibu bisa tahu?”
            Lea tidak tahu harus melakukan apa saat ia mendengar ibunya tertawa. Dan ibunya benar-benar tertawa. “Ibu!”
            “Maaf... ibu tidak bermaksud untuk tertawa...” Ratu Leira benar-benar berusaha untuk mengendalikan tawanya. Ia mengelus wajah Lea yang menunjukkan raut kebingungan. “Ibu tidak menyangka kalau anak ibu sangat populer.”
            “Ibu, aku benar-benar kebingungan. Aku harus bagaimana?”
            “Sebenarnya, Lea, ibu masih tidak mengerti kenapa kau kebingungan. Bukankah itu adalah hal yang wajar jika Raimond mengungkapkan perasaannya padamu?”
            “Aku tidak akan kebingungan kalau saja aku tidak merasa berdebar-debar saat melihat senyum Reita.”
            Ratu Leira berhenti tersenyum. Keterkejutan sekarang mewarnai wajahnya yang oval sempurna.
            “Aku tahu bahwa ini terdengar konyol, Bu. Tapi aku tidak bisa menghentikannya.”
            “Jadi, kau menyukai siapa?”
            “Aku tidak tahu...” Lea menghela nafas. Disandarkannya tubuhnya pada sofa dan ia menatap lurus ke arah langit-langit seakan bisa menemukan jawabannya. “Aku tidak bisa mengerti perasaanku sendiri...”
            “Kalau begitu, ibu tidak bisa membantumu.”
            “Kenapa?” tanya Lea panik.
            “Karena hanya kau yang tahu bagaimana perasaanmu sendiri. Saat kau sudah mengetahuinya, kau akan menemukan jawabannya.”
            “Tapi...”
            “Ibu yakin kau pasti bisa. Kau kan anak ibu...”
            Tatapan Ratu Leira yang penuh dengan kelembutan seakan memberikan Lea sedikit kekuatan baru. “Tapi, jangan berpikiran untuk memberitahukannya pada ayahmu. Dia pasti akan shock mendengarnya.”
            “Aku tahu...”
            Ratu Leira tersenyum dengan lebar. “Ibu jadi penasaran dengan kelanjutan cerita ini.”
            Lea memutar bola matanya, pasrah.


            Lea bisa merasakan tatapan Sara yang terus menerus terarah padanya. Merasa risih, Lea pun berbalik dan mendapati saudaranya sedang menatap langsung padanya.
            “Apa...”
            “Jadi, Raimond sudah mengatakannya kepadamu?”
            “A.. APA? Ba... Bagaimana bisa kau...”
            “Ayolah, Lea. Apa kau pikir aku sebodoh itu sampai aku tidak bisa menebak perasaan Raimond kepadamu?”
            “Sara!”
            “Aku tidak bermaksud menyinggungmu, tetapi kurasa Raimond sudah menunjukkannya dengan sangat jelas meskipun dia tidak bermaksud menunjukkannya. Cepat atau lambat dia akan mengatakannya. Aku sudah menebaknya.”
            Lea tidak tahu harus menanggapi apa. Dia bahkan tidak tahu bahwa Sara bisa membicarakannya semudah ini. “Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus aku lakukan.”
            “Kenapa kau harus berpikir sesulit itu? Kau hanya cukup menerima dan menjalaninya. Apakah itu hal yang sulit?”
            “Aku bahkan tidak tahu aku menyukai siapa, Sara. Aku benar-benar tidak berpengalaman dalam hal ini.”
            “Kau pikir aku berpengalaman?”
            “Setidaknya kau memiliki sedikit pengalaman dengan Nigel.”
            Sara meletakkan kertas yang tadi sedang dibacanya. Ia menatap tajam ke arah Lea. Jelas-jelas menunjukkan ketidaksetujuan atas kata-kata Lea. “Aku tidak tahu kalau topiknya sudah berganti pada Nigel. Bukankah kita sudah setuju untuk tidak membicarakan topik ini lagi?”
            “Kenapa tidak?” Lea balas menatap Sara. “Kenapa kau boleh membicarakan masalahku tapi aku tidak boleh membicarakan masalahmu?
            “Karena ini berbeda!”
            “Bagian mananya yang berbeda. Masalah ini sama-sama berhubungan dengan laki-laki!
            Sara menghentakkan tangannya di atas meja, benar-benar merasa tidak senang dengan kata-kata Lea. “Karena tidak ada apa-apa di antara aku dan Nigel! Semuanya sudah berakhir dan kami semua sudah menyetujui bahwa kami tidak akan melakukan rencana itu!”
            “Tidak adil! Aku hanya menyebut masalah ini sekali dan kau sudah semarah ini padaku. Aku pun berhak marah karena kau selalu membicarakan semua masalahku seakan-akan aku tidak terganggu dengan itu!”
            “Kau...”
            “Dan jangan membentakku, Sara! Aku tidak suka dengan nada bicaramu! Dan, tidak ada apa-apa di antara aku dan Raimond!”
            Suara ketukan di pintu menghentikan perdebatan tanpa sebab itu. Kedua putri itu menoleh dan mendapati Raimond sedang bersandar pada daun pintu yang membuka. Lea menahan nafasnya. Ia bersumpah bahkan ia bisa merasakan darah berhenti mengalir di tubuhnya saat melihat raut wajah Raimond yang datar.
            “Raimond...” Lea berbisik, tercekat.
            Tatapan mata Raimond yang lurus ke arahnya membuat Lea tidak bisa berkutik. Detik itu juga Lea ingin lantai terbuka dan menelan dirinya, membiarkannya hilang sehingga ia tidak perlu melihat ekspresi Raimond.
            “Sara, ada tamu untukmu,” kata Raimond tanpa mengalihkan pandangannya dari Lea.
            Sara berdehem, berusaha mengendalikan emosinya yang tiba-tiba memuncak. “Tamu?”
            “Ya. Ia menunggumu di ruang singgasana.”
            Lea tidak bisa mengalihkan tatapannya dari wajah Raimond. Ia bahkan tidak sadar saat Sara berpamitan padanya untuk menemui tamu yang disebutkan Raimond. Raimond berjalan memasuki ruangan, membiarkan pintu terbuka di belakangnya.
            “Raimond, aku...”
            Raimond membungkuk, berusaha untuk membereskan kertas-kertas yang berserakkan di ruangan kerja itu.
            “Dengar, Raimond, aku...”
            “Tidak apa-apa, Lea. Kau tidak perlu menjelaskan apa-apa.”
            “Tapi...”
            Entah bagaimana, Lea berharap Raimond akan menatap ke arahnya. Seperti saat ia menyatakannya perasaannya. Namun sekarang yang dilakukan Raimond adalah berusaha membereskan semua kertas-kertas atau buku-buku yang berserakkan di lantai. Tidak sekalipun ia menatap ke arah Lea saat melakukan hal itu ataupun saat berbicara dengan Lea.
            “Raimond...”
            “Aku tahu tidak ada sesuatu yang terjadi di antara kita. Aku seharusnya sudah menduga bahwa pernyataan waktu itu tidak ada artinya untukmu. Kau pasti sudah mendapatkan banyak sekali pernyataan seperti itu dari pangeran-pangeran tampan di negeri tetangga.”
            “Aku tidak...”
            Raimond akhirnya berdiri, membawa sebagian buku yang tadi dibereskannya untuk diletakkan di atas meja. Dan akhirnya, ia mengalihkan tatapannya dari buku-buku itu dan menatap ke arah Lea. Lea merasakan nyeri itu saat ia melihat kesedihan di wajah Raimond.
            “Harusnya aku bisa menebaknya... tapi tetap saja...”
            Lea membuka mulutnya. Lena tahu bahwa ia harus mengatakan sesuatu, namun lagi-lagi suaranya seakan menghilang.
            “Tidak apa-apa Lea. Jangan berusaha untuk menjelaskan apa-apa. Aku mengerti. Sampai jumpa.”
            Lea membeku. Ia tidak bisa melakukan apa-apa saat Raimond beranjak pergi. Ada sesuatu yang salah di sini dan ia ingin memperbaikinya. Ia tidak ingin Raimond pergi begitu saja. Ia harus menjelaskannya.
            “Raimond!”
            Kaki Lea menendang setumpuk buku yang belum disingkirkan Raimond, membuatnya jatuh dengan sukses di antara tumpukkan kertas dan buku-buku. Lea mencoba bangun di tengah-tengah tumpukkan buku yang berserakan itu. Beberapa bagian tubuhnya terasa sakit. Bahkan beberapa guratan merah nampak di lengannya yang putih.
            Saat itulah Lea merasakan sebuah tangan menariknya keluar dari kekacauan itu. Lea bisa merasakan tangan-tangan itu dengan mudah membantunya berdiri dan menjauh dari tumpukkan buku-buku itu. Tangan Raimond.
            “Lebih berhati-hatilah sedikit,” kata Raimond sambil memeriksa kondisi Lea.
            “Aku...”
            “Sepertinya tidak apa-apa. Hanya sedikit memar dan goresan. Kau pasti akan baik-baik saja.”
            Raimond membantu membetulkan lekuk-lekuk gaun Lea sebelum beranjak kembali. “Raimond,” panggil Lea.
            “Lea,” sahut Raimond tanpa memandang gadis itu, “Lupakan saja semua perkataanku. Anggap saja tidak kejadian itu tidak pernah terjadi. Aku tidak ingin menyulitkanmu.”
            Kemudian Raimond pun pergi, tidak memberikan Lea kesempatan untuk menanggapi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar