Rabu, 20 April 2011

>>8 part1



            Sara melihat sosok tegap itu di depan singgasana ayahnya, sedang berbicara bahkan tertawa-tawa dengan ayahnya. Meski dari kejauhan, Sara bisa mengenali rambut pirang yang berkilauan itu.
            “Sedang apa kau di sini?”
            Sosok itu berbalik menghadap Sara dan sebuah senyum yang mampu meluluhkan hati wanita manapun nampak di wajahnya. “Sara.”
            “Aku tidak menyangka akan menemukanmu di sini setelah kunjunganku kemarin ke Bairo, Nigel. Ada apa?”
            Sara menerima pelukan hangat dari Nigel tanpa persiapan. Meski Nigel sering melakukannya, tetap saja ia tidak terbiasa dengan perlakuan itu. Sara merasa risih. “Nigel.”
            “Baiklah, baiklah. Kenapa sifatmu yang tidak sabaran itu tidak pernah berubah sih?” Nigel melepaskan pelukannya namun kedua tangannya masih berada di bahu Sara. “Senang bisa melihatmu kembali. Apa kau beristirahat dengan cukup kemarin?”
            “Aku beristirahat dengan sangat cukup kemarin. Jadi?”
            “Sara, jangan bersikap tidak sopan seperti itu pada Nigel. Dia sudah jauh-jauh datang kemari hanya untuk mengantarkan titipan dari Raja Eric untukku karena kau lupa untuk membawanya pulang kemarin.”
            Sara terdiam, mencoba mengingat-ingat kejadian saat ia berkunjung ke Bairo. “Ah! Astaga! Aku meninggalkannya di kamar kan?”
            “Aku senang ingatanmu masih kuat.” Senyum Nigel melebar.
            Sara memukul pelan lengan Nigel. “Jangan merendahkan aku ya.”
            “Tapi aku beruntung. Karena kau lupa, aku jadi bisa datang ke sini dan mengantarkannya pada Raja Theodore.”
            “Benar-benar. Kalau begitu, menginaplah beberapa hari di sini. Kau pasti lelah setelah perjalanan panjang itu. Sara, tolong antarkan Nigel untuk beristirahat di kamarnya.”
            “Yang Mulia tenang saja. Jika boleh memilih, saya malah ingin berjalan-jalan sebentar di sini. Sudah lama saya tidak kemari.”
            Raja Theo tertawa mendengar kata-kata Nigel. Sepertinya senang sekali karena Nigel bisa datang dan berkunjung kemari. “Lakukan apa pun yang kau inginkan, Nigel. Sara akan menemanimu selama kau ada di sini.”
            “Ayah!” protes Sara, “Waktu luangku tidak sebanyak itu.”
            “Benarkah?” seru Nigel terkejut, “Kalau begitu, kau harus segera menemaniku berkeliling.” Nigel memutar tubuh Sara, mendorongnya secara halus untuk keluar dari ruangan singgasana. “Kalau begitu, kami permisi dulu, Yang Mulia.”
            “Ya, ya. Anggaplah ini istanamu sendiri.”
            “Nigel,” Sara kembali protes saat pintu yang menuju ke singgasana menutup.
            “Ayolah, Sara. Hanya sebentar saja. Aku bahkan belum menyapa Ratu Leira. Ayo, pertemukan aku dengannya.”
            Sara tidak bisa menolak. Meski Nigel terlihat pemaksa, dia pintar mengambil hati orang-orang. Bahkan Sara sendiri tidak bisa marah padanya. Nigel memang mudah bergaul. Dan ia sangat murah senyum. Setiap kali ia main ke Fyria, maka dayang-dayang dan para pelayan akan diam-diam berhenti untuk mengamati Nigel. Bahkan ada yang sengaja untuk lewat di dekat Nigel meskipun mereka tidak memiliki urusan apa-apa.
            “Yang Mulia,” sapa Nigel pada Ratu Leira yang sedang asyik membaca buku.
            Ratu Leira menurunkan bukunya saat mendengar sapaan itu dan senyum yang lebar nampak menghiasi wajahnya saat melihat sosok Nigel yang gagah memasuki ruangan. “Nigel, sudah lama tidak melihatmu.” Ratu Leira bangkit untuk memeluk Nigel. “Bagaimana kabarmu?”
            “Luar biasa gembira karena aku bisa datang kemari lagi setelah sekian lama dan bertemu dengan salah satu wanita tercantik di kerajaan ini.”
            “Ah... Sudah lama sekali aku tidak mendengar ucapan manis itu.” Wajah Ratu Leira bersemu merah.
            “Ibu! Jangan termakan rayuannya.”
            Nigel mengalihkan pandangannya pada Sara yang sengaja menampakkan wajah marah pada ibunya. “Aku mengatakan yang sebenarnya, Sara. Kau seharusnya berterimakasih kepada ibumu yang sudah mewariskan kecantikannya kepadamu dan Lea.”
            Ratu Leira mendesah senang. “Nigel, kau selalu tahu bagaimana caranya membuat seorang wanita tersanjung...”
            Sara mencibir. “Lihat kan? Dasar perayu.”
            Ratu Leira dan Nigel tertawa melihat reaksi Sara. Sara semakin cemberut. Tidak menerima dirinya ditertawakan.
            “Kalau begitu, sebaiknya aku berkeliling lagi untuk merayu wanita lainnya. Lain kali kita harus minum teh bersama, Yang Mulia.” Nigel mengecup punggung tangan Ratu Leira sebelum beranjak meninggalkan ruangan.           
            “Tentu saja, Nigel. Perpanjang waktu kunjunganmu di sini. Kami akan sangat berterimakasih jika kau mau melakukannya.”
            “Aku akan memikirkannya, Yang Mulia. Sampai nanti.”
            Sara menutup pintu itu dan pergi menyusul Nigel yang sudah berjalan terlebih dahulu. “Jadi, ke mana lagi kau ingin pergi?”
            “Hmm.... Bagaimana kalau ke dapur? Siapa tahu di sana aku bisa mendapatkan makanan lebih. Harus kuakui Sara, masakan koki-koki di sini sangat enak. Setidaknya berikan aku satu untuk kubawa ke Bairo.”
            “Coba saja kau rayu mereka, Nigel tapi jangan harap untuk bisa kembali menginjakkan kakimu di sini lagi setelah kau berhasil membawa pulang koki kami yang berharga.”
            “Kau mengancamku?” suara Nigel dibuat gemetaran.
            Sara mengangkat bahunya, “Aku hanya berusaha untuk melindungi koki kami yang berharga.” Sara berjalan kembali, meninggalkan Nigel di belakangnya.
            Dengan langkah yang ringan, Nigel sudah menyusulnya dan berjalan mundur di depannya. “Sudah lama aku tidak melihat ekspresi itu, “ kata Nigel sambil tersenyum.
            “Apa?”
            “Aku senang bisa datang ke sini lagi. Terutama karena aku bisa bertemu lagi denganmu. Kunjungan kemarin terlalu singkat dan itu tidak bisa memuaskan kerinduanku padamu, Sara.”
            Sara berhenti mendadak. Tatapannya terarah lurus pada Nigel. “Apa?”
            “Sebagai adik,” kata Nigel sambil tersenyum lebar. “Ngomong-ngomong, di mana Lea? Biasanya kalian selalu pergi berdua.”
            “Ada di ruang kerja. Ayo.”
            Sara berusaha untuk mengontrol detak jantungnya yang mulai berdetak dengan cepat. Bukan karena kata-kata Nigel yang berusaha merayunya. Tidak. Bahkan Sara berharap Nigel tidak berusaha untuk merayunya. Ia takut Nigel akan membawa masalah yang sudah berakhir itu. Untung saja tidak terjadi. Seharusnya Sara tahu kalau Nigel akan menepati janjinya.
           

            “Apa yang sedang dilakukan oleh wanita cantik ini di sini? Merenung?”
            Suara Nigel yang begitu familiar seakan menyadarkan Lea dari lamunannya. “Nigel? Kapan kau datang?” tanya Lea yang langsung bangun dari duduknya.
            “Baru saja.” Nigel membalas pelukan Lea dengan hangat. “Senang bisa melihatmu lagi.”           
            “Aku juga senang bisa bertemu denganmu lagi.” Lea melepaskan pelukannya. Mendongak untuk menatap Nigel yang sudah seperti seorang kakak laki-laki baginya dan ia merasa bersyukur di sini ada lelaki lain selain Raimond dan Reita. “Jadi, dirimulah tamu untuk Sara.”
            “Begitulah...”
            “Lucu ya? Padahal tadi kami baru saja membicarakan dirimu.”
            “Lea!” protes Sara.
            “Benarkah?” tanya Nigel penasaran, “Apa yang kalian bicarakan?”
            “Tidak ada!” seru Sara.
            “Lea,” Nigel tidak menghiraukan protes Sara yang jelas-jelas tidak senang Nigel mengetahui pembicaraan mereka. “Ceritakan kepadaku pembicaraan kalian. Tidak perlu menghiraukan Sara.”
            “Nigel, kau tidak tahu yang namanya privasi?”
            Lea menatap ke arah Sara dan Nigel bolak-balik. Sara yang berusaha untuk menghentikan niat Nigel dan Nigel yang berdiri di depannya berusaha mengorek informasi darinya nampak begitu lucu. Lea tidak bisa menolong dirinya untuk tidak tertawa.
            “Apa yang lucu, Lea?” tanya Sara ketus.
            “Kalian,” jawab Lea di sela-sela tawanya.
            “Apa?”
            Sara berpandang-pandangan dengan Nigel, mencoba mengerti kondisi yang tiba-tiba menyerang saudaranya. “Kau yang membuatnya seperti ini, Nigel,” tuduh Sara.
            “Kenapa aku? Aku kan tidak melakukan apa-apa.”
            “Jelas itu semua karena ulahmu. Ayo, kembalikan Lea.”
            “Kau tidak bisa meminta hal yang tidak ada padaku.” Nigel melipat kedua tangannya di depan dada.
            Tawa Lea makin meledak, membuat kedua orang itu terus berpandang-pandangan. “Hah... Senang sekali bisa tertawa seperti ini... Aku senang kau datang ke sini, Nigel,” ucap Lea sambil menghapus air mata tawa yang nyaris turun.
            “Nampaknya, kau puas sekali menertawakan orang.”
            “Karena kalian sudah memberikan hiburan yang menarik.”
            Nigel mengangkat bahunya, “Yah, kalau kedatanganku ke sini memberikan kebahagiaan, aku tidak keberatan...” Sikap tubuh Nigel memang mengatakan yang sebenarnya dan Lea sangat berterima kasih untuk itu.
            “Sara.”
            Suara itu membuat tawa Lea hilang secara mendadak. Ia bahkan bersembunyi di balik tubuh Nigel, hanya untuk membuat dirinya tidak terlihat dari pintu. Dan sekali lagi Lea merasa bersyukur karena tubuh Nigel yang tegap dapat dengan sempurna menyembunyikan dirinya.
            “Ada apa Raimond?”
            “Ada pesan dari Raja Theo. Jika kau sudah selesai menemani Pangeran Nigel, kau diminta untuk mengahadap beliau.”
            “Baiklah, aku mengerti...”
            “Hai, Raimond,” sapa Nigel. “Senang bisa melihatmu lagi.”
            Raimond menundukkan kepalanya, memberikan penghormatannya kepada Nigel. “Senang anda bisa berkunjung ke sini.”
            “Jangan terlalu formal seperti itu, Raimond. Kita kan sudah akrab saat kau berkunjung ke Bairo.”
            Raimond hanya tersenyum menanggapi perkataan Nigel. “Kalau begitu, aku pergi dulu. Sampai bertemu lain waktu.”
            “Tunggu, Raimond. Aku ikut denganmu sekarang ke tempat ayah,” sahut Sara. “Tidak apa-apa kan, Nigel?”
            “Ya. Pergilah. Aku bisa mengurus diriku sendiri di sini.”
            “Kalau begitu, kita akan mengobrol lagi nanti. Samapai jumpa, Nigel.”
            Nigel melambaikan tangannya ke arah Sara dan Raimond yang menjauhinya.
            “Tidak apa-apa kau membiarkan Sara pergi?” tanya Lea pelan.
            Nigel membalikkan tubuhnya, menatap ke arah Lea yang sedari tadi berlindung di balik tubuhnya. “Tidak masalah. Aku lebih tertarik dengan dirimu, Lea.”
            “Apa?”
            Nigel melipat kedua tangannya di depan dada, memposisikan dirinya sedemikian rupa dan menaikkan kedua alisnya dengan caranya yang menawan. “Jadi, ada apa di antara kau dan Raimond?”
            Lea terenyak. Ia tidak berharap Nigel akan mengetahuinya secepat ini dan langsung menanyainya. Lea sama sekali tidak mengharapkan semua itu. “Tidak ada apa-apa.” Lea memalingkan wajahnya. Tidak ingin menatap Nigel.
            “Dengar, aku sudah terlalu baik mengenal dirimu dan Sara. Semakin kau mengalihkan pandanganmu dariku, maka aku semakin yakin ada sesuatu yang kau sembunyikan.”
            “Kalau kubilang tidak ada ya tidak ada. Kenapa sih kau dan Sara selalu berusaha untuk mengganggu masalah pribadiku? Memangnya kalian tidak punya hal lain untuk dibicarakan?”
            Nigel menggeleng pasti, “Untuk saat ini semua perhatianku akan kucurahkan padamu, Lea.”
            “Nigel...” Lea memprotes lemah, merasa lelah dengan kegigihan Sara dan Nigel yang terus-menerus mendesaknya.
            “Ayolah, Lea. Dengan membicarakannya, kau akan membantu meringankan bebanmu sendiri.” Nigel memegang kedua bahu Lea, berusaha untuk mengarahkan tatapan gadis itu padanya. “Kau sudah kuanggap sebagai adik perempuanku dan aku tidak suka jika adikku terlihat sedih dan murung. Apalagi merenung seharian karena tidak mempunyai teman bicara.”
            Lea menghela nafas. Ia membenci dirinya yang selalu dengan mudah terbuai kata-kata Nigel. Lea sadar kalau seharusnya ia tidak membicarakan hal ini. Apalaagi setelah mendengar bahwa Raimond dan Nigel sudah menjalin keakaraban setelah Raimond menemani Sara berkunjung ke Bairo. Seharusnya Lea tidak membuka mulutnya. Ia sadar akan hal itu, namun setiap kali Nigel membujuknya, entah bagaimana Lea tahu kalau dia akan menuruti keinginan lelaki itu.
            “Apakah aku punya pilihan lain?”
            “Mmmm… Pilihan apa yang kau maksudkan, Lea? Kurasa pilihanmu hanya menceritakannya sekarang atau membiarkanku menginterogasimu seharian ini. Mana yang kau pilih?”
            “Kau selalu tahu kalau kau akan mendapatkan semua keinginanmu kan?” Lea menyandarkan tubuhnya dengan pasrah ke meja kerjanya.
            “Tidak jugaa…” gumam Nigel, “Tapi itu bukan masalah sekaraang. Jadi, kau dan Raimond…”
            “Tidak ada apa-apa di antara kami, Nigel. Sungguh. Hanya itu yang bisa kukatakan.”
            “Kalau memang benar tidak ada apa-apa di antara kalian, maka kau tidak akan bersembunyi di belakangku seperti pengecut.”
            “Aku bukan pengecut!”
            “Memang bukan. Jadi, ceritakan permasalahan yang sebenarnya.”
            Lea memainkan kedua tangannya. Membenci dirinya yang tidak bisa mengalihkan perhatian Nigel dari permasalahannya. “Jangan tertawa, oke?”
            “Tergantung…”
            “Nigel,” nada suara Lea mulai mengancam.
            “Baiklah. Aku tidak akan tertawa.”
            Lea menghela nafas kembali. Sedetik sebelum kata-kata itu akan keluar, Lea mencoba menatap mata Nigel, hanya untuk memastikan bahwa Nigel tidak akan tertawa. “Raimond mengatakan perasaannya kepadaku.”
            Nigel bersiul rendah. Ia tidak tertawa meskipun kedua alisnya bergerak naik dengan gerakan yang menawan.
            “Aku sudah bilang kalau kau…”
            “Aku tidak tertawa. Hanya bersiul. Apakah bersiul termasuk tertawa juga?”
            Lea memalingkan wajah. Mencoba menghindari kemungkinan Nigel memergoki wajahnya yang sedang memerah. “Tidak adil.”
            “Kapan itu terjadi?”
            “Beberapa hari lalu. Setelah dia kembali dari Bairo.”
            “Dan apakah yang membuat Raimond tiba-tiba menyatakan perasaannya kepadamu?”
            “Mana aku tahu?! Jangan tanyakan kepadaku! Aku kebingungan, Nigel!” ucap Lea frustasi, “Aku bahkan memastikan bahwa kedua telingaku mendengarkan hal yang benar. Tapi di sanalah dia, mengatakan sekali lagi tentang perasaannya kepadaku.”
            Kali ini Nigel tidak bisa menahan tawanya. Tawa yang dalam dan ceria keluar dari tenggorokkan Nigel yang nampak jenjang.
            “Aku sudah memperingatkanmu untuk tidak tertawa!”
            Nigel berjalan ke arah Lea yang masih menatapnya dengan marah. Pelan-pelan, dengan penuh kelembutan, Nigel menepuk-nepuk puncak kepala Lea. “Tidak kusangka kalau kau dan Sara sudah tumbuh secepat ini. Sudah mulai mengenal namanya cinta.”
            “Jangan memperlakukan aku seperti anak kecil!” Lea menepis tangan Nigel yang bertengger di atas kepalanya.
            “Tentu saja,” Nigel mengelus dagunya yang sudah mulai menumbuhkan sedikit janggut. “Hanya anak kecil yang akan merasa kebingungan dengan pernyataan cinta seorang lelaki dewasa.”
            Lea tersindir namun ia tidak bisa marah karena semua yang dikatakan Nigel terasa benar. “Ini adalah yang pertama untukku, Nigel. Aku… tidak tahu harus melakukan apa…”
            “Cobalah untuk menerima semuanya dengan perasaan tenang. Biarkan kalian saling belajar. Jangan mencoba untuk menolaknya, Lea. Bersikaplah seperti biasa.”
            “Tapi…”
            “Aku yakin, Raimond benar-benar memikirkan dirimu dan aku yakin dia membutuhkan keberanian yang cukup besar untuk bisa menyampaikan perasaannya kepadamu.”
            “Kau terdengar seperti sudah mengenalnya dalam waktu yang begitu lama.”
            Nigel hanya tersenyum. “Kami para lelaki tidak membutuhkan waktu yang lama untuk bisa menilai satu sama lain.”
            “Seandainya aku bisa mendapatkan kemampuan yang sama.”
            “Kau bisa belajar, Lea. Kau masih memiliki banyak waktu…”
            Lea mendongakkan kepalanya, mencoba menatap ke arah Nigel yang sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri. “Kau bertanggung jawab untuk membantuku, Nigel.”
            “Dengan senang hati.”

Minggu, 17 April 2011

>>7



“Aku lega, masalah mereka sudah mulai ditangani,” Lea membaringkan dirinya di atas tempat tidur Sara, merasa lega untuk Xavier dan penduduk lainnya.
Sara ikut berbaring di sebelahnya, memejamkan mata. Lea bisa merasakan kelelahan memancar dari tubuh saudaranya. Perjalanan yang melelahkan antara Fyria dan Bairo, lalu permasalahan yang tiba-tiba harus ditanganinya karena Lea tidak bisa menentukan langkah yang tepat.
“Sara, terimakasih sudah mau membantuku. Aku tau kau lelah akibat perjalanan panjang itu. Sungguh, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan tanpa dirimu.”
“Aku hanya melakukan tugasku, Lea. Kau tidak melakukan kesalahan sama sekali.” Sara menutup mulutnya saat rasa kantuk mulai menyerang. “Aku ingin beristirahat sebentar. Tolong bangunkan aku sore hari nanti.”
“Kalau begitu, berbaringlah dengan benar,” Lea memaksa Sara untuk naik ke posisinya yang benar. Saat kepala Sara menyentuh bantal dengan kain satin yang menutupinya, Lea yakin kalau saudaranya itu sudah terlelap. Lea menarik selimut satin itu untuk menutupi tubuh Sara yang mengenakan gaun tidurnya.
“Terimakasih, Sara,” bisik Lea.
Sara menggumam tidak jelas, Lea tidak tahu apakah Sara mendengar suranya tadi. Lea berjalan ke luar kamar Sara. Diam-diam memikirkan sebuah tekad baru dalam hatinya.
“Sedang apa kau di sini? Tersenyum sendirian seperti itu.”
Kemunculan Raimond membuat senyum di wajah Lea makin cerah. “Aku baru saja berpkir dan menurutku ide ini sangat hebat.”
“Oh ya?” Raimond menyilangkan kedua tangannya di depan dada, terlihat antusias dengan cerita Lea. “Coba ceritakan padaku.”
Lea mengangguk dengan penuh semangat. “Aku akan menceritakannya, tapi tidak di sini.” Kepala Lea berputar-putar, seakan sedang mengamati keadaan. “Kita ke taman belakang saja. Bagaimana?”
Raimond mengangkat kedua bahunya. “Aku ikut saja. Rasa penasaranku belum mereda setelah kau mengatakan bahwa kau punya ide hebat.”
            “Bagus!”


Lea menatapnya dengan tatapan penuh harap, menunggu tanggapan Raimond atas ide yang dilontarkannya tadi. “Aku tidak tahu apakah orang lain akan menganggap itu hebat,” Raut wajah Lea berubah saat Raimond mengatakannya.
“Benarkah?”
Raimond mengangguk, tidak ingin berbohong meskipun kenyataan akan membuat putri itu sedih. “Tapi menurutku itu kemajuan yang besar.”
“Benarkah?”
“Orang-orang tidak perlu mengenal kalian dengan baik untuk tahu bahwa kalian sangat tidak menyukai politik kerajaan. Sara mempelajarinya karena dialah yang nantinya akan mewarisi tahta. Jika kau memang ingin mempelajarinya, itu adalah sebuah kemajuan.”
Senyum lebar menghiasi wajah Lea saat mendengar pendapat Raimond. “Tapi, kau benar-benar berniat untuk mempelajarinya? Aku sendiri mengakui bahwa politik kerajaan sangatlah sulit. Beruntung aku tidak harus mempelajarinya.”
Lea mengangguk dengan semangat. Merasa senang karena idenya mendapatkan dukungan. “Setelah kejadian tadi, aku berharap aku bisa melakukan sesuatu. Tidak hanya untuk mereka, tapi juga untuk semua orang. Aku tidak ingin hanya bisa mengobati, kalau bisa aku ingin mencegah penderitaan dan rasa sakit itu terjadi.”
“Bagus. Aku suka dengan pemikiranmu.”
“Benarkah?” Lea bertanya sekali lagi, “Kau benar-benar setuju denganku karena ide ini hebat kan? Bukan karena aku putri raja? Karena jika kau sampai begitu, maka aku akan membencimu, Raimond.”
Raimond mendengus sambil merebahkan tubuhnya. “Aku tidak sebodoh itu, Lea. Aku sudah bilang kalau itu adalah kemajuan hebat. Kalau kau memang benar-benar niat mempelajarinya, kau akan menemukan banyak hal di sana. Kau bisa mengasah kemampuanmu, kau akan membantu Sara, dan di samping itu, Raja Theo juga pasti akan bangga padamu.”
“Aku melakukan itu bukan agar ayah bangga padaku!”
Raimond menatap wajah yang begitu penuh rasa percaya diri itu. Lea tidak berpura-pura. Raimond tersenyum, lalu memejamkan matanya. “Aku percaya padamu, Lea.”
“Aku serius! Jangan menertawaiku!”
“Aku bukannya menertawaimu. Aku suka dengan pemikiranmu. Tidak ada kepura-puraan. Itulah yang membuatku suka padamu.”
“Pokoknya...” Lea terdiam. Kata-kata yang tadi ingin diucapkannya seakan menghilang ditelan kerongkongannya kembali. Kalimat terakhir yang diucapkan Raimond terngiang di telinganya, seakan ingin mempermainkannya.
“Ka... Kau mengatakan sesuatu tentang menyukaiku..?” Lea bertanya pelan, sambil memperhatikan perubahan raut wajah Raimond. Lea sangat yakin bahwa Raimond sedang mengerjainya.
Suara gumaman Raimond tidak bisa Lea terjemahkan sebagai tanda setuju atau tidak. “Raimond?”
“Memangnya siapa yang tidak akan menyukaimu, Lea? Semua orang pasti menyukaimu karena kau adalah putri yang anggun, ramah, cantk, dan begitu berwibawa.”
Lea tidak tahu apakah ia harus lega atau kecewa ketika mendengar penjelasan itu terlontar dari mulut Raimond. “Jadi, kau memang sedang mengerjaiku.” Lea mengelus dadanya, “Tentu saja aku disukai. Itu keuntungan menjadi seorang putri kan?” Suara tawa keluar dari tenggorokkan Lea, namun Lea hampir tidak bisa mengenalinya. Seakan-akan, tawa itu sedang dipaksakan.
“Aku menyukai pemikiranmu, kecerianmu, dan tawamu.” Lea kembali menatap ke arah Raimond yang entah kapan sudah membuka matanya dan sedang menatap lurus ke arahnya.
“Raimond, jangan...”
“Aku tidak sedang menggodamu, Lea.”
“Aku..”
“Atau pun mempermainkanmu. Aku serius. Aku serius mengatakan bahwa aku menyukaimu, Lea. Perasaan suka seorang pria kepada wanita.”
“Tapi kau dan aku...”
“Benar. Aku memang hanya pengawalmu. Aku menyadari posisiku. Tapi apakah itu sebuah kesalahan?”
Lea terdiam. Ia tidak tahu apa yang membuat dirinya kehilangan kata-kata. Tatapan mata Raimond, nada suara Raimond, ataukah ketakutan akan suara yang akan ia dengar dari tenggorokkannya sendiri. Lea tidak tahu. Yang ia bisa rasakan sekarang adalah bahwa ia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Raimond.
Raimond memejamkan matanya kembali, membantu Lea untuk menenangkan debaran jantungnya yang sudah berdetak dengan begitu keras. “Aku menyulitkanmu, kan?” Suara Raimond terdengar lelah.
“A...Aku...” Entah bagaimana caranya, Lea bisa menemukan kembali suaranya.
Raimond merubah posisi tubuhnya yang sedang berbaring. Posisinya yang kini membelakangi Lea seakan memberi Lea jarak. “Aku ingin beristirahat sebentar. Aku lelah sekali.”
Lea menelan ludahnya dengan susah payah. Merasa sedikit lega atas sedikit jarak yang diberikan Raimond padanya. “Ka... Kalau begitu aku akan pergi...”
“Ya. Pergilah, Lea. Tapi aku serius dengan kata-kataku tadi. Jangan menganggapku mempermainkanmu.” Kata-kata itu terdengar jelas meskipun tubuh besar Raimond menghalanginya. Tanpa membuka matanya, Raimond bisa merasakan Lea beranjak meninggalkan dirinya. Ia memejamkan matanya semakin erat. Sadar bahwa tindakannya tadi akan membuat Lea kebingungan.
Aku tidak bisa mundur lagi, pikir Raimond.


Lea dapat merasakan sesuatu sedang berputar begitu cepat di dalam kepalanya. Jantungnya masih berdebar dengan begitu cepat. Ia hanya bermaksud untuk mengatakan rencananya kepada Raimond. Ia tidak bermaksud untuk mendengarkan pernyataan seperti itu keluar dari mulut Raimond. Bagaimana mungkin... Bagaimana mungkin Raimond bisa menyukaiku? Aku tidak tahu kalau....
“Lea? Apa yang sedang kau lakukan di sini?” tanya Reita yang entah kapan sudah berdiri di sebelahnya.
Lea menatap Reita. Benar. Tadi, saat Reita tersenyum, ia bisa merasakan debaran yang sama dengan yang sekarang sedang terjadi pada dirinya. Dan sampai saat ini, ia tidak mengerti mengapa hal seperti itu bisa terjadi.
“Lea?”
“Tidak... Tidak ada apa-apa?”
“Kau yakin?” tanya Reita khawatir.
“Ya... Aku akan bertemu dengan ibuku...”
Lea tidak sempat lagi mendengar kata-kata Reita karena dia langsung berlari. Pikirannya benar-benar kacau. Lea tidak tahu mengapa dirinya seperti ini. Berdebar-debar dengan konyolnya karena senyum Reita dan sebuah pernyataan yang tidak terduga dari Raimond. Ia tidak mengerti.
“Ibu!”
Ratu Leira berpaling saat mendengar suara putri bungsunya yang janggal. “Lea, ada apa?”
Lea berlari secepat dan sesopan yang mampu dilakukan kakinya. Ia berdiri di hadapan ibunya, berusaha untuk mengatur nafasnya yang tidak beraturan. “Ibu, apa yang harus aku lakukan?”
“Ada apa?” Lea hanya bisa mengikuti saat ibunya menyuruhnya untuk duduk di salah satu sofa yang ada dalam ruangan itu.
“Ibu.... aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan... Aku bingung, bu...”
“Lea, tenanglah...” Lea bisa merasakan usapan tangan ibunya pada rambutnya, sangat membantu untuk meredakan sedikit kepanikan yang melandanya. Ia bisa merasakan bahwa ibunya akan mendengarkan segala keluh kesahnya.
“Ibu, aku... Raimond... Itu, maksudku Raimond padaku....”
“Lea, tenangkan dirimu. Ibu pasti akan mendengarkanmu. Ada apa dengan Raimond, sayang?”
“Dia... bilang kalau....” Lea kembali terdiam, tidak tahu harus mengatakan apa. Ia bahkan tidak yakin untuk mengatakan bahwa Raimond sudah mengatakan perasaannya. Apa yang harus ia katakan?
            “Apa dia menyukaimu, sayang?”
            Lea mendongak saat mendengar kata-kata ibunya. Tatapan ibunya yang menatap langsung ke arahnya membuatnya terdiam dan ia bisa merasakan hawa panas mengalir di wajahnya. “Ba... Bagaimana ibu bisa tahu?”
            Lea tidak tahu harus melakukan apa saat ia mendengar ibunya tertawa. Dan ibunya benar-benar tertawa. “Ibu!”
            “Maaf... ibu tidak bermaksud untuk tertawa...” Ratu Leira benar-benar berusaha untuk mengendalikan tawanya. Ia mengelus wajah Lea yang menunjukkan raut kebingungan. “Ibu tidak menyangka kalau anak ibu sangat populer.”
            “Ibu, aku benar-benar kebingungan. Aku harus bagaimana?”
            “Sebenarnya, Lea, ibu masih tidak mengerti kenapa kau kebingungan. Bukankah itu adalah hal yang wajar jika Raimond mengungkapkan perasaannya padamu?”
            “Aku tidak akan kebingungan kalau saja aku tidak merasa berdebar-debar saat melihat senyum Reita.”
            Ratu Leira berhenti tersenyum. Keterkejutan sekarang mewarnai wajahnya yang oval sempurna.
            “Aku tahu bahwa ini terdengar konyol, Bu. Tapi aku tidak bisa menghentikannya.”
            “Jadi, kau menyukai siapa?”
            “Aku tidak tahu...” Lea menghela nafas. Disandarkannya tubuhnya pada sofa dan ia menatap lurus ke arah langit-langit seakan bisa menemukan jawabannya. “Aku tidak bisa mengerti perasaanku sendiri...”
            “Kalau begitu, ibu tidak bisa membantumu.”
            “Kenapa?” tanya Lea panik.
            “Karena hanya kau yang tahu bagaimana perasaanmu sendiri. Saat kau sudah mengetahuinya, kau akan menemukan jawabannya.”
            “Tapi...”
            “Ibu yakin kau pasti bisa. Kau kan anak ibu...”
            Tatapan Ratu Leira yang penuh dengan kelembutan seakan memberikan Lea sedikit kekuatan baru. “Tapi, jangan berpikiran untuk memberitahukannya pada ayahmu. Dia pasti akan shock mendengarnya.”
            “Aku tahu...”
            Ratu Leira tersenyum dengan lebar. “Ibu jadi penasaran dengan kelanjutan cerita ini.”
            Lea memutar bola matanya, pasrah.


            Lea bisa merasakan tatapan Sara yang terus menerus terarah padanya. Merasa risih, Lea pun berbalik dan mendapati saudaranya sedang menatap langsung padanya.
            “Apa...”
            “Jadi, Raimond sudah mengatakannya kepadamu?”
            “A.. APA? Ba... Bagaimana bisa kau...”
            “Ayolah, Lea. Apa kau pikir aku sebodoh itu sampai aku tidak bisa menebak perasaan Raimond kepadamu?”
            “Sara!”
            “Aku tidak bermaksud menyinggungmu, tetapi kurasa Raimond sudah menunjukkannya dengan sangat jelas meskipun dia tidak bermaksud menunjukkannya. Cepat atau lambat dia akan mengatakannya. Aku sudah menebaknya.”
            Lea tidak tahu harus menanggapi apa. Dia bahkan tidak tahu bahwa Sara bisa membicarakannya semudah ini. “Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus aku lakukan.”
            “Kenapa kau harus berpikir sesulit itu? Kau hanya cukup menerima dan menjalaninya. Apakah itu hal yang sulit?”
            “Aku bahkan tidak tahu aku menyukai siapa, Sara. Aku benar-benar tidak berpengalaman dalam hal ini.”
            “Kau pikir aku berpengalaman?”
            “Setidaknya kau memiliki sedikit pengalaman dengan Nigel.”
            Sara meletakkan kertas yang tadi sedang dibacanya. Ia menatap tajam ke arah Lea. Jelas-jelas menunjukkan ketidaksetujuan atas kata-kata Lea. “Aku tidak tahu kalau topiknya sudah berganti pada Nigel. Bukankah kita sudah setuju untuk tidak membicarakan topik ini lagi?”
            “Kenapa tidak?” Lea balas menatap Sara. “Kenapa kau boleh membicarakan masalahku tapi aku tidak boleh membicarakan masalahmu?
            “Karena ini berbeda!”
            “Bagian mananya yang berbeda. Masalah ini sama-sama berhubungan dengan laki-laki!
            Sara menghentakkan tangannya di atas meja, benar-benar merasa tidak senang dengan kata-kata Lea. “Karena tidak ada apa-apa di antara aku dan Nigel! Semuanya sudah berakhir dan kami semua sudah menyetujui bahwa kami tidak akan melakukan rencana itu!”
            “Tidak adil! Aku hanya menyebut masalah ini sekali dan kau sudah semarah ini padaku. Aku pun berhak marah karena kau selalu membicarakan semua masalahku seakan-akan aku tidak terganggu dengan itu!”
            “Kau...”
            “Dan jangan membentakku, Sara! Aku tidak suka dengan nada bicaramu! Dan, tidak ada apa-apa di antara aku dan Raimond!”
            Suara ketukan di pintu menghentikan perdebatan tanpa sebab itu. Kedua putri itu menoleh dan mendapati Raimond sedang bersandar pada daun pintu yang membuka. Lea menahan nafasnya. Ia bersumpah bahkan ia bisa merasakan darah berhenti mengalir di tubuhnya saat melihat raut wajah Raimond yang datar.
            “Raimond...” Lea berbisik, tercekat.
            Tatapan mata Raimond yang lurus ke arahnya membuat Lea tidak bisa berkutik. Detik itu juga Lea ingin lantai terbuka dan menelan dirinya, membiarkannya hilang sehingga ia tidak perlu melihat ekspresi Raimond.
            “Sara, ada tamu untukmu,” kata Raimond tanpa mengalihkan pandangannya dari Lea.
            Sara berdehem, berusaha mengendalikan emosinya yang tiba-tiba memuncak. “Tamu?”
            “Ya. Ia menunggumu di ruang singgasana.”
            Lea tidak bisa mengalihkan tatapannya dari wajah Raimond. Ia bahkan tidak sadar saat Sara berpamitan padanya untuk menemui tamu yang disebutkan Raimond. Raimond berjalan memasuki ruangan, membiarkan pintu terbuka di belakangnya.
            “Raimond, aku...”
            Raimond membungkuk, berusaha untuk membereskan kertas-kertas yang berserakkan di ruangan kerja itu.
            “Dengar, Raimond, aku...”
            “Tidak apa-apa, Lea. Kau tidak perlu menjelaskan apa-apa.”
            “Tapi...”
            Entah bagaimana, Lea berharap Raimond akan menatap ke arahnya. Seperti saat ia menyatakannya perasaannya. Namun sekarang yang dilakukan Raimond adalah berusaha membereskan semua kertas-kertas atau buku-buku yang berserakkan di lantai. Tidak sekalipun ia menatap ke arah Lea saat melakukan hal itu ataupun saat berbicara dengan Lea.
            “Raimond...”
            “Aku tahu tidak ada sesuatu yang terjadi di antara kita. Aku seharusnya sudah menduga bahwa pernyataan waktu itu tidak ada artinya untukmu. Kau pasti sudah mendapatkan banyak sekali pernyataan seperti itu dari pangeran-pangeran tampan di negeri tetangga.”
            “Aku tidak...”
            Raimond akhirnya berdiri, membawa sebagian buku yang tadi dibereskannya untuk diletakkan di atas meja. Dan akhirnya, ia mengalihkan tatapannya dari buku-buku itu dan menatap ke arah Lea. Lea merasakan nyeri itu saat ia melihat kesedihan di wajah Raimond.
            “Harusnya aku bisa menebaknya... tapi tetap saja...”
            Lea membuka mulutnya. Lena tahu bahwa ia harus mengatakan sesuatu, namun lagi-lagi suaranya seakan menghilang.
            “Tidak apa-apa Lea. Jangan berusaha untuk menjelaskan apa-apa. Aku mengerti. Sampai jumpa.”
            Lea membeku. Ia tidak bisa melakukan apa-apa saat Raimond beranjak pergi. Ada sesuatu yang salah di sini dan ia ingin memperbaikinya. Ia tidak ingin Raimond pergi begitu saja. Ia harus menjelaskannya.
            “Raimond!”
            Kaki Lea menendang setumpuk buku yang belum disingkirkan Raimond, membuatnya jatuh dengan sukses di antara tumpukkan kertas dan buku-buku. Lea mencoba bangun di tengah-tengah tumpukkan buku yang berserakan itu. Beberapa bagian tubuhnya terasa sakit. Bahkan beberapa guratan merah nampak di lengannya yang putih.
            Saat itulah Lea merasakan sebuah tangan menariknya keluar dari kekacauan itu. Lea bisa merasakan tangan-tangan itu dengan mudah membantunya berdiri dan menjauh dari tumpukkan buku-buku itu. Tangan Raimond.
            “Lebih berhati-hatilah sedikit,” kata Raimond sambil memeriksa kondisi Lea.
            “Aku...”
            “Sepertinya tidak apa-apa. Hanya sedikit memar dan goresan. Kau pasti akan baik-baik saja.”
            Raimond membantu membetulkan lekuk-lekuk gaun Lea sebelum beranjak kembali. “Raimond,” panggil Lea.
            “Lea,” sahut Raimond tanpa memandang gadis itu, “Lupakan saja semua perkataanku. Anggap saja tidak kejadian itu tidak pernah terjadi. Aku tidak ingin menyulitkanmu.”
            Kemudian Raimond pun pergi, tidak memberikan Lea kesempatan untuk menanggapi.