Jumat, 15 April 2011

>>6 part1



Raimond sudah siap dengan Javelin, kudanya dan Divine, kuda Sara, di dekat pintu masuk istana. Jubahnya sudah diikat dengan rapi dan mereka siap untuk berangkat. Tidak lama, pintu istana terbuka dan Raimond bisa melihat sosok kedua putri kembar itu menuruni tangga. Sara siap bepergian dengan jubah berwarna biru yang menutupi tubuhnya.
”Selamat pagi, Raimond,” sapa Sara.
”Ini tidak bisa dibilang pagi, Sara. Kau yakin mau pergi sepagi ini?” tanya Raimond sambil menahan jubahnya dari hembusan angin.
”Kalau kita berangkat lebih siang, maka kita harus menginap di tengah jalan. Lebih baik berangkat lebih pagi dan sampai di sana malam hari.”
Lea memeluk Sara sebelum saudaranya itu berangkat ke negeri Bairo, negeri tetangga mereka. ”Hati-hati mengendarai Divine. Sampaikan salamku pada Nigel.”
”Akan kusampaikan.”
Sara melepaskan pelukannya dan segera berjalan menuju kudanya. Raimond membantu Sara naik ke atas kudanya, setelah itu ia pun naik ke atas Javelin.
”Lea, tolong gantikan tugasku sementara di sini. Maaf ya, merepotkanmu, pesan Sara.
”Kau jangan khawatirkan keadaan di sini. Di sini ada ayah dan ibu, ada Annie dan Reita juga. Kau yang harus menjaga dirimu.”
”Jangan khawatir. Ada Raimond yang menjagaku. Aku yakin dia cukup kompeten dalam hal ini.”
”Raimond, tolong jaga Sara ya.”
”Tenang saja. Aku tidak akan mengabaikan keselamatannya.”
”Aku percaya padamu.”
Sara menepuk lembut leher Divine, memberinya isyarat untuk mulai berjalan. Raimond menghentakkan kakinya pada perut Javelin dan mengarahkannya di belakang Divine.
”Kami berangkat.”
”Hati-hati, Sara! Jangan lupa kau harus menghubungiku lewat cermin penghubung.”
Sara melambaikan tangannya ke arah Lea yang mulai menjauh. Divine berderap dengan irama yang sudah sangat dikenal Sara, membuatnya merasa nyaman meskipun harus berkendara sehari semalam ke Bairo. Raimond yang mengendarai Javelin mengikuti di belakangnya, menjaga Sara dari segala kemungkinan bahaya.
Kali ini mereka akan pergi ke luar daerah Fyria, dan jujur saja Raimond belum terlalu mengenal daerah tersebut. Dia memang sudah sering mendengar mengenai negeri Bairo yang akan mereka kunjungi. Bairo merupakan salah satu negara tetangga yang bersahabat dengan negara Fyria dan Bairo merupakan sebuah negeri perdagangan yang besar. Dibandingkan negeri Fyria yang kecil, negeri Bairo memang sangat membantu kehidupan negeri Fyria. Kunjungan mereka kali ini adalah untuk memenuhi undangan dari pangeran Negeri Bairo, Pangeran Nigel.
”Sara?”
”Ya?” Sara memperlambat laju Divine dan menunggu Raimond sampai di sebelahnya.
”Aku mendengar segelintir berita mengenai negeri Bairo dan pangerannya, Pangeran Nigel.”
”Oh ya? Berita apa?”
”Entahlah. aku sendiri tidak yakin, tapi aku cukup yakin kalau aku mendengar mereka menyebut-nyebut tentang kau dan pangeran ini.”
”Berita apa itu?” Sara memacu langkah Divine kembali, meninggalkan Raimond dan Javelin di belakangnya. Raimond tersenyum, melihat bahwa Sara berusaha untuk mengelak dari pertanyaannya. “Ada apa, Sara? Kenapa kau berusaha untuk mengelak?”
“Siapa yang mengelak?”
“Kau, tentu saja. Kau tidak menjawab pertanyaanku.”
“Aku bertanya, berita apa yang kau dengar. Aku tidak berusaha untuk mengelak, Raimond.”
Raimond menyembunyikan senyumnya saat Sara berusaha untuk memacu Divine lebih cepat, jelas-jelas berusaha untuk menjauh dari berbagai macam pertanyaan Raimond. “Baiklah, kali ini kau tidak menjawabnya.” Dengan mudah, Raimond menyaingi langkah tegas Divine dengan langkah Javelin. “Mungkin aku akan menemukan jawabannya saat aku bertemu langsung dengan Pangeran Nigel.”
“Jawaban apa yang kau pikir akan kau temukan, Raimond?”
“Jawaban tentang  berita yang kudengar pastinya.”
Sara menatap tajam ke arah Raimond, benar-benar memperlihatkan tatapan seorang putri yang penuh dengan kekuasaan. “Makanya aku tanya berita apa yang kau dengar, Raimond?”
Raimond tertawa terbahak saat menyadari Sara mulai tidak sabaran. “Kurasa kau juga akan menemukan jawabannya nanti.”


Sosok seseorang tampak bergegas turun saat mereka sampai di depan pintu masuk istana. Raimond dengan sigap membantu Sara turun dari kudanya sementara ada beberapa orang yang mengambil alih kudanya dan kuda Sara. Seperti kata Sara, mereka memang sampai pada malam hari. Sara sudah nampak begitu kelelahan ketika Raimond menolongnya turun dari atas Divine.
“Sara.” Sosok itu langsung memeluk Sara yang masih menampakkan kelelahan di wajahnya.
“Hai, Nigel.”
Sosok itu melepaskan sosok Sara, membuat Raimond bisa memperhatikan sosoknya dengan lebih jelas. Pangeran Nigel jelas mempunyai postur tubuh yang tinggi, badannya kekar dan tegap, benar-benar sosok ideal untuk seorang pangeran. Rambutnya berkilau pucat tertimpa cahaya dari dalam istana. Garis wajahnya terlihat tegas dan Raimond bisa merasakan kewibawaan terpancar dari sana.
“Nigel, ini pengawalku,” Sara menarik Raimond agar berdiri di sebelahnya, “Raimond.”
Nigel menanggapi perkenalan itu dengan menyambut uluran tangan Raimond. Yah, setidaknya dia bukan pangeran yang sombong, pikir Raimond sambil berkenalan dengan Pangeran Nigel.
“Senang bertemu denganmu, Raimond. Terimakasih sudah menemani dan melindung Sara selama perjalanan kemari.”
“Itu sudah tugas saya, Pangeran.”
“Kalau begitu, lebih baik kalian segera masuk ke dalam. Udara sudah mulai dingin dan aku lihat kau sudah sangat kelelahan Sara.”
“Seperti biasa. Menempuh perjalanan ke sini selalu membuatku kelelahan.”
“Mari.”
Nigel melingkarkan lengannya pada pinggang Sara, berusaha untuk membantu Sara menaiki tangga istana. “Raimond, kau bisa mengikuti pelayanku. Dia akan menunjukkan kamar di mana kau bisa beristirahat malam ini.”
“Tapi...” Rasa tanggung jawab jelas membuat Raimond tidak tega untuk meninggalkan Sara sendirian.
“Tenang saja, Raimond. Aku akan baik-baik saja. Bairo seperti rumah kedua untukku. Lebih baik kau mengikuti kata-kata Nigel. Mereka akan menunjukkan sebuah kamar untukmu sehingga kau bisa beristirahat. Selamat malam, Raimond.”
Sara benar-benar nampak kelelahan sehingga mengabaikan keberatan Raimond. Akhirnya, Raimond berjalan mengikuti seorang pelayan yang sudah menunggu di sebelahnya sementara ia melihat Sara menaiki tangga menuju lantai dua.
Malam itu dilewati Raimond dengan tenang. Entah karena rasa lelah yang sudah menumpuk di tubuhnya ataupun karena nyamannya suasana kamar yang ditinggalinya. Meskipun kecil, kamar itu memberikan ruang yang cukup bagi Raimond untuk beristirahat dan mengumpulkan energi.
Saat ia bertemu dengan Sara keesokan paginya, tuan putrinya itu jelas sedang menikmati waktunya bersama-sama dengan Pangeran Nigel. Dari kedekatan mereka, Raimond bisa melihat bahwa Pangeran Nigel jelas menaruh hati pada Sara. Cara pangeran itu berdiri di sebelah Sara, mendengarkan cerita Sara ataupun bagaimana dia memandang Sara. Raimond tersenyum. Dugaannya benar. Memang ada hubungan khusus antara Sara dan Pangeran Nigel ini. Sara boleh mengelak, namun kenyataan menunjukkan yang sebaliknya.
“Selamat pagi, Yang Mulia,” sapa Raimond sambil menundukkan kepalanya di depan Sara dan Nigel.
“Selamat pagi, Raimond.” Sara membalasnya dengan sopan.
“Bagaimana tidurmu semalam? Apakah kau menyukai kamarnya?”
“Lebih dari cukup, Yang Mulia. Saya merasa sangat segar hari ini.”
“Syukurlah kalau kau menyukainya. Katakan saja apa yang kau butuhkan. Aku selalu menghormati orang-orang Fyria.”
“Jangan mulai lagi, Nigel. Kau terlalu merendah. Padahal pada kenyataannya, kau dan negaramu lah yang sangat dihormati.”
Dengan gerakan yang luwes, Nigel mengangkat tangan Sara dan mencium punggung tangannya. “Itu tidak benar, Sara. Aku bahkan lebih menghormatimu daripada ayahku.”
Sara menarik tangannya, merasa malu, atau begitulah yang ditangkap Raimond dari gerak-gerik Sara. “Kalau kau begitu menghormatiku, lalu kenapa kau berniat untuk pergi, Yang Mulia?”
“Tugas memanggilku.” Nigel melepaskan tangan Sara dengan lembut. “Akan kutemui kau lagi nanti. Raimond, bisakah kau membantuku untuk menjaga putri ini?”
“Akan saya usahakan, Yang Mulia. Akan tetapi, saya tidak bisa menjamin kalau Yang Mulia Sara tidak akan menginjakkan kakinya di pohon terdekat.”
“Oh! Kau juga tahu kebiasaan itu?”
“Sudah menjadi rahasia umum di negeri kami.” Raimond mengangguk-angguk, mencoba memaklumi tingkah Sara.
Sara melayangkan sebuah pukulan kepada Nigel dan Raimond yang entah kapan sudah menjalin keakraban. “Berani sekali kalian membicarakan kejelekanku di depan orangnya langsung.”
“Sebaiknya aku segera pergi.” Nigel segera menjauh dari Sara setelah sebelumnya memberikan pelukan singkat pada Sara. “Kalau dia tidak bisa membendung kebiasaannya itu, biarkan saja. Jaga saja dia dari bawah dan perhatikan agar tidak ada satu dahan pun yang patah karena diinjak olehnya.”
“Nigel!!”
Nigel pergi kembali ke istana sambil diiringi derai tawa. Sara memberengut. Suara tawa Raimond di sebelahnya membuatnya semakin bertambah kesal. “Bagaimana mungkin kalian bisa seakrab itu dalam waktu yang sangat singkat?” tanya Sara tidak percaya.
“Dia cukup menyenangkan, tidak sombong, dan yang terpenting, memiliki rasa humor. Dia akan menjadi pemimpin yang baik.”
“Raimond! Aku tidak percaya kau bisa melakukan ini.”
“Kenapa tidak?” Raimond balas menantang Sara. “Aku tidak setenang yang kau kira. Apalagi saat aku menemukan fakta bahwa pertunangan antara kau dan Pangeran Nigel benar-benar terjadi.”
“Pertunangan?” Sara bertanya kembali, memastikan pendengarannya tidak salah. Sambil berjalan kembali di taman istana bersama Raimond di sebelahnya, Sara mulai mengerti apa yang dibicarakan Raimond kemarin. “Jadi, berita yang kau dengar adalah berita pertunangan antara aku dan Nigel?”
“Seperti itulah yang kudengar selama beberapa hari ini.”
“Yang benar saja! Mau sampai kapan mereka membicarakan hal itu?”
“Lho? Memangnya tidak benar?”
“Itu cerita lama, Raimond. Kedua orangtua kami memang berusaha untuk menjodohkan kami. Kau tahulah cerita-cerita mengenai keluarga kerajaan yang umumnya harus menikah lebih cepat.”
“Lalu, kau menolaknya?”
“Tentu saja!” Sara berkata dengan tegas. “Aku tidak akan menyerahkan masa mudaku semudah itu.”
“Lalu, Pangeran Nigel menyetujuinya?”
“Nigel mempunyai pemikiran yang sama denganku. Meskipun umur kami berbeda empat tahun, tapi kami jelas-jelas masih muda. Masih banyak hal yang ingin kami lakukan di masa muda kami. Jadi dia menolak perjodohan ini juga.”
“Benarkah?” Raimond masih nampak penasaran. “Menurutku tingkah lakunya menunjukkan hal yang sebaliknya.”
Sara tersenyum kecil mendengar pernyataan Raimond. “Itu karena kami sudah menganggap satu sama lain sebagai saudara. Nigel juga berlaku seperti itu kepada Lea. Kami sudah seperti kakak dan adik. Tidak salah kan kalau seorang kakak bersikap begitu perhatian kepada adiknya?”
“Memang tidak salah.” Raimond terdiam, berpikir kembali. Semua perkataan Sara memang masuk akal. Tidak ada yang salah dari perhatian seorang kakak kepada adiknya. Lalu kenapa dia masih merasa kalau Pangeran Nigel memiliki motif lain di balik tingkah lakunya.
Memangnya aku tahu apa soal mereka? Aku baru saja mengenal pangeran itu kemarin, pikir Raimond akhirnya. Tidak ada yang tahu bagaimana isi pikiran seseorang kan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar