Gerbang istana sudah terbuka saat mereka bertiga memasuki halaman istana. Saat mereka masuk, para prajurit yang melihat mereka membungkukkan badan dengan sopan. Ieru, yang memimpin jalan membalas salam mereka dengan meanggukkan kepala. Kedua anak laki-laki yang ada di belakangnya mengikuti sikap Ieru. Dengan langkah teratur namun cepat, mereka memasuki gedung istana, menyusuri lorongnya yang berdinding batu granit. Bunyi langkah mereka berbunyi dengan irama teratur. Ieru menaiki tangga yang menuju lantai dua istana, kedua anak itu segera mengikutinya. Pada pintu ketiga, Ieru berbelok dan menunggu pengawal membukakan pintu.
Di dalam ruangan itu, sang raja duduk di atas singgasananya. Mahkotanya yang dipenuhi permata terlihat berkilauan terkena cahaya matahari yang masuk melalui jendela. Jubah kerajaannya berwarna merah darah, bergerak dengan anggun saat sang raja berdiri.
“Ieru,” sapa sang raja.
“Yang Mulia…” Ieru membungkukkan badannya dengan hormat dan diikuti oleh kedua anak di belakangnya.
Raja Theo melihat ke belakang Ieru dan memperhatikan kedua anak di belakang Ieru itu. Theo menduga umur mereka sekitar belasan tahun. Ieru mengenal salah satu anak itu adalah Raimond, putra tunggal Ieru.
“Yang Mulia, saya membawa Raimond, putra saya satu-satunya, dan Reita, yang sudah saya anggap sebagai anak sendiri, untuk menjadi pengawal pribadi bagi tuan putri.”
“Jadi, kau yang bernama Raimond?” tanya Theo pada anak laki-laki yang memiliki rambut pirang seperti Ieru.
“Ya, Yang Mulia. Menjadi sebuah kehormatan bagi saya untuk melayani keluaraga kerajaan,” jawab Raimond.
“Dan kau Reita.”
Anak laki-laki yang berambut hitam itu membungkukkan badannya sopan sembari berkata, “Saya siap melayani anda, Yang Mulia.”
Raja Theodore bergumam senang dan mengangguk-anggukkan kepalanya. “Berapa umur kalian?”
“Tujuh belas tahun, Yang Mulia,” jawab Raimond.
“Maafkan saya Yang Mulia, akan tetapi, saya tidak bisa mengingat umur saya. Mohon Yang Mulia bisa memaafkan ketidaktahuan saya,” jawab Reita.
Raja Theo mengangguk singkat. Ia memang tidak terlalu mempermasalahkan hal itu. Ieru sudah menceritakan tentang anak yang ditemukannya 5 tahun lalu dan sudah di asuhnya sebagai anak sendiri. Theo yakin, dengan melihat kesungguhan yang terdapat dalam mata anak itu, bahwa Reita sudah mengucapkan sumpahnya.
“Setelah kalian ada di sini, aku ingin mengumumkan bahwa mulai detik ini,” Raja Theo mengeluarkan pedangnya dari sarung yang menyelubunginya, menunggu kedua anak itu berlutut. “Kalian akan menjadi pengawal pribadi kedua putri kembarku.” Raja Theo meletakkan bilah pedangnya pada bahu Raimond, “Raimond Iridiusa,” Ia memindahkan bilah pedangnya pada bahu Reita, “Reita, aku resmikan kalian berdua sebagai pengawal pribadi kedua putri kembarku, Sara de Calara dan Lea de Clara. Mulai sekarang kalian adalah bagian dari keluarga kerajaan ini. Aku mempercayakan keselamatan kedua putriku pada kalian.”
Raimond dan Reita bangkit berdiri, meletakkan tangan kanan mereka menyilang di depan dada, dan mengucapkan sumpah setia mereka. Raja Theo tersenyum melihat kedua anak laki-laki kepercayaan Ieru itu. Sedetik kemudian, pintu ruangan itu terbuka dengan keras, menganggetkan semua orang yang ada di dalam ruangan itu. Seorang gadis yang umurnya lebih muda dari Raimond dan Reita memasuki ruangan dengan terburu-buru. Gaunnya yang berwarna kuning terang bergerak seirama dengan gerak tubuhnya. Rambutnya yang lurus panjang dan berwarna coklat terang itu menjadi berantakan akibat ketergesaannya. Di rambutnya itu, tersemat sebuah jepit yang berbentuk lambang kerajaan Fyria.
“Ayah,” kata gadis itu dengan nada cemas. “Bisakah Ayah ikut denganku, sekarang?” Suara gadis itu terdengar begitu mendesak, membuat dahi Raja Theo berkerut.
“Ada apa, Lea? Tenangkan dirimu dulu,” kata Raja Theo.
“Aku tidak bisa tenang. Tidak di saat Sara sedang ada 10 meter di atas tanah.”
“Oh, tidak.” Raja Theo terburu-buru keluar dari ruangan disusul oleh Putri Lea, Ieru, Raimond dan juga Reita. “Apalagi yang sedang berusaha dilakukan oleh saudarimu, Lea?”
“Jangan tanya padaku, Ayah. Saat aku ke halaman, Annie sudah berteriak dengan histeris sambil menatap ke atas Pohon Berry. Pengawal sudah ada yang berusaha untuk naik tapi mereka masih tidak bisa memastikan posisi Sara.” Lea sekarang berlari, mencoba mendahului yang lain menuju ke tempat saudara kembarnya berada.
Suasana di halaman belakang istana sudah begitu ramai oleh pengawal. Bahkan, Sang Ratu sudah ada di sana. Berdiri di samping pengasuh kedua putri kembar itu. Seperti yang Lea katakana, dua atau tiga pengawal sudah berusaha untuk naik ke atas Pohon Berry untuk menyelamatkan putri sulung kerajaan Fyria.
“Leira.”
“Theo, Sara ada di atas…” kata Ratu Leira panik.
“Annie, apa yang sedang Sara lakukan di atas sana?”
“Sa…Saya juga tidak tahu, Yang Mulia… Saat datang ke sini, Putri Sara sudah memanggil nama saya dari atas sana…” Annie terdengar sama cemasnya.
“AYAH!!!” terdengar teriakan dari atas. Raja Theo mendongak dan menahan nafas saat melihat posisi Sara. Sara, dengan berani menjulurkan badannya ke arah luar, hanya untuk memanggil ayahnya. Jelas sekali Sara sedang tidak berada dalam ketinggian yang dibilang aman. Ratu Leira meneriakkan nama putrinya, memintanya untuk segera turun.
“Sara! Tunggu di sana! Jangan bergerak!! Pengawal akan segera sampai di tempatmu!” teriak Raja Theo.
“Ayolah, Ayah... Aku bisa turun sendiri! Tidak perlu menyuruh beberapa pengawal sekaligus untuk membawaku turun.”
“Sara de Clara, aku perintahkan kau untuk diam di tempat!” Raja Theo balas berteriak.
Sara menggeleng tanda tidak suka, namun Raja Theo kembali menekannya, menyuruhnya untuk tetap diam pada posisinya. Setelah memastikan kalau Sara akan menuruti permintaannya, Raja Theo segera memerintahkan para pengawalnya untuk mencapai posisi Sara. Para pengawal segera naik, meninggalkan orang-orang di bawah Pohon Berry menunggu dengan was-was. Terdengar suara bergemerisik dari atas saat Putri Sara dan para pengawal mulai turun. Mereka semua menatap ke atas, berharap bisa melihat sosok putri itu dengan segera.
“Minggir kalian semua! Aku tidak mau ada seorang pun yang berusaha mengambil kesempatan melhat ke bawah rokku!” teriak Sara dari atas.
“Sara! Jangan macam-macam! Kami tidak akan menyingkir, jadi sebaiknya kau segera turun ke bawah!” Raja Theo jelas sekali sedang berusaha menahan emosinya.
“Tidak! Aku masih memiliki harga diri sebagai seorang putri! Aku tidak akan turun ke bawah, kecuali kalian semua mau menjauh dari bawah!”
“Sara!”
“Aku menunggu...”
Raja Theo menghela nafas kesal. Dengan satu gerakan tangan, diperintahkannya orang-orang untuk menuruti keinginan Sara. Setelah memastikan bahwa semua orang berada dalam jarak yang Sara inginkan, Raja Theo memberitahukannya pada Sara.
“Baiklah, aku akan turun. Tetapi, Ayah harus berjanji satu hal dulu padaku. Ayah tidak akan menghukumku jika aku sudah sampai ke bawah. Aku ingin melalui sisa hari ini dengan tenang.”
“Apakah ini merupakan saat yang tepat untuk berunding, Sara? Ayah minta kau segera turun dari sana!”
“Tidak akan kecuali Ayah mau menuruti keinginanku.”
Ratu Leira memegang lengan atas suaminya. “Theo, cepatlah. Aku tidak suka melihat anak kita terlalu lama berada di sana.”
Raja Theo memandang ke arah Pohon Berry sekali lagi. Wajahnya menunjukkan garis-garis kelelahan. Setelah mengeluarkan nafas dengan berat, Raja Theo meluluskan keinginan Sara. “Kalau kau terluka, masalahnya akan berbeda, Sara.”
“Setuju!”
Suara daun-daun dan ranting yang bergesekkan terdengar semakin keras. Menandakan posisi putri itu yang mulai turun ke bawah. Sesuatu melayang ke bawah dengan cepat saat lapisan daun-daun terakhir menyibak. Raimond dan Reita melihatnya sebagai bagian kain yang sudah dirobek. Mereka berpandangan lagi untuk kesekian kalinya di hari itu. Sedetik kemudian, suara benda jatuh ke tanah berbunyi dengan keras, diikuti dengan beberapa bunyi jatuh yang lain. Putri Sara dan para pengawal yang tadi naik sudah sampai di atas tanah dengan selamat.
“Sara!!” Putri Lea segera berlari, memeluk saudara kembarnya dalam sekali lompatan.
Raja dan Ratu segera mendekat ke arah sana diikuti Ieru. Mau tidak mau, Raimond dan Reita segera mendatangi kerumunan yang baru terbentuk itu. Reita bisa mendengar suara kedua putri itu dari luar kerumunan, sama halnya dengan Raimond. Mereka masih menunggu di bagian keluar kerumunan, tahu bahwa menerobos kerumunan hanya untuk melihat putri yang terkenal tomboy itu dari dekat, adalah tindakan yang tidak sopan. Selama beberapa saat mereka masih menunggu di luar kerumunan sampai Raja Theo menyelesakan urusannya dengan sang putri.
Saat kerumunan akhirnya menipis dan yang tertinggal di dekat Pohon Berry hanya Ieru Iridiusa, Raja Theodore dan kedua putri kembar kebanggan Fyria, Raja Theo memanggil Raimond dan Reita agar mendekat. Reita melirik sekilas dari sudut matanya kondisi Putri Sara yang berantakan. Sebagian besar gaunnya sudah robek atau lebih tepat dengan sengaja sudah dirobek. Rambutnya yang Reita yakin tadinya tergelung dengan rapi sudah berantakan. Beberapa helai daun masih terlihat menyangkut di sana. Sekilas, ia memang mirip dengan Putri Lea. Yang membedakan hanyalah bentuk rambut mereka. Putri Lea memiliki rambut yang lurus sedangkan putri yang satu ini berambut ombak. Reita memandang ke arah Raimond sekilas lantas menghela nafas.
“Apa?” tanya Raimond berbisik pelan.
Reita menggeleng, menolak untuk menjelaskan lebih jauh. Sudah pasti tugas menjadi pengawal kedua putri kembar bukan sekedar tugas biasa dan yang lebih pasti lagi mereka akan menghadapi kemanjaan kedua putri itu dalam waktu dekat. Reita kembali menghela nafas.
“Sara, Lea, hari ini pengawal pribadi kalian sudah datang. Kalian harus memperlakukan mereka dengan sopan. Raimond dan Reita adalah kepercayaan Paman Iridiusa. Jangan sampai tingkah kalian berdua yang tidak sopan pada mereka sampai ke telinga Ayah.”
Sara mencibir di balik punggung ayahnya sementara Lea mengangguk sambil mengeluarkan senyumnya sebagai seorang putri. Raimond dan Reita balas membungkuk dengan sopan.
“Apakah mereka harus mengawal kami kemana pun kami pergi?” tanya Sara.
“Itu adalah tugas mereka sebagai pengawal,” jawab Raja Theo.
“Bahkan ketika kami mandi?” seru Sara tidak percaya.
“Sara!!”
“Aku benar kan? Berarti mereka akan tetap mengawal kami selama kami mandi? Yang benar saja, Ayah!!”
“Sara! Kau ini…”
“Kami tahu batasan-batasan sebagai seorang pengawal, Tuan Putri,” sahut Reita dengan tatapan tajam ke arah Sara. “Kami tetap akan memberikan privasi pada Tuan Putri.” Sara merasa dirinya ditantang. Sara balas menatap dengan tajam, ia berkacak pinggang dan berkata, “Baguslah! Setidaknya aku dan Lea tidak harus mengajari pengawal kami untuk tidak terus mengikuti kami ke mana pun.”
“Sara, jaga bicaramu!!”
“Sudah kan? Aku ingin mandi!” Dengan ketus Sara melangkah pergi dari kerumunan itu. Jelas sekali ia tidak terlalu memikirkan adanya pengawal pribadi atau tidak.
“Maafkan Sara, ya? Dia memang seperti itu.” Lea berusaha membela saudaranya. “Ayah tenang saja. Setelah mandi pasti Sara akan lebih tenang,” Lea beralih ke arah Ieru yang merupakan penglima tertinggi di kerajaan Fyria. “Paman Ieru, terimakasih karena sudah mencarikan pengawal untukku dan Sara.” Ieru mengangguk sopan. “Dan untuk kalian…” Lea menatap kedua pengawal barunya itu, “Selamat bergabung di sini. Mohon bantuannya.”
Setelah mengucapkan salam sekali lagi, Putri Lea masuk ke istana, menyusul saudara kembarnya. Raja Theo dan Ieru pergi untuk membicarakan masalah rakyat. Tinggalah kedua pengawal baru itu di halaman belakang istana.
“Sepertinya aku sudah bisa melihat sebagian besar pekerjaan kita.” Raimond mengelus rambut pirangnya.
Reita mendengus, “Ini hanya sebuah permulaan, Rai.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar