Raimond menyandarkan punggungnya pada dinding gua. Entah sudah berapa kali ia berganti posisi, mencoba membuat dirinya nyaman. Akan tetapi, rasanya tidak ada posisi yang membuatnya nyaman selama berjam-jam. Ia tidak menyangka menunggu akan membuatnya bosan seperti ini. Belum lagi kekhawatiran terhadap keselamatan kedua putri itu. Reita nampaknya bisa menemukan hal yang bisa mengalihkan perhatiannya, berlatih pedang. Demi mengembalikan akal sehatnya dan menenangkan dirinya, maka Raimond pun menemani Reita berlatih tadi.
“Kupikir ini sudah terlalu lama. Sebenarnya, apa yang sedang mereka lakukan di dalam sana?” tanya Raimond sambil melongok ke dalam gua.
“Entahlah. Sepertinya sesuatu yang sangat rahasia. Mereka sangat menjaganya sehingga tidak ada orang lain yang tahu.”
“Ya. Gelagat mereka sangat menunjukkan itu.”
Raimond menengadah dan melihat semburat warna oranye mulai nampak di langit. Mereka berjanji akan kembali sebelum matahari terbenam. Harusnya mereka akan segera kembali, pikir Raimond lagi. Hampir setengah hari mereka menunggu kedua putri itu menyelesaikan urusannya di gua.
Raimond mengamati perubahan warna di langit yang menandakan hari semakin sore. Matahari memang belum tenggelam, tetapi warna langit sudah tampak begitu mengagumkan. Warna oranye, merah, dan kuning tercampur begitu sempurna. Raimond sangat menyukai kombinasinya, membuatnya merasa tenang.
“Warna langitnya bagus, ya?”
Raimond berbalik, merasa terkejut dengan kehadiran Sara dan Lea yang entah kapan sudah ada di mulut gua.
“Kapan kalian kembali?” tanya Raimond penasaran.
“Baru saja. Kau tidak menyadari kehadiran kami?” tanya Lea.
“Tidak. Aku bahkan tidak bisa mendengar langkah kaki kalian. Bagaimana kalian bisa sampai di sini?” tanya Reita yang ikut penasaran.
“Sudahlah. Apa itu perlu dipermasalahkan sekarang? Urusan kami sudah selesai. Lebih baik kita pergi sekarang.”
“Kalian tahu, sikap kalian benar-benar membuat orang penasaran,” sahut Raimond.
“Bukankah itu bagus? Kalian kan jadi punya hal untuk ditebak,” Sara menjawab acuh. “Kalau kita tidak cepat, kita akan sampai di sana malam hari.”
“Kita memang akan sampai di istana malam hari kan? Bahkan sangat malam,” kata Reita.
Lea menatap kedua pengawalnya dengan wajah heran. “Lho, kami belum memberitahu kalian ya? Kita tidak akan kembali ke istana malam ini. Gerbang istana sudah ditutup dan kita tidak akan bisa masuk.”
“Tapi kalian kan putri raja. Masa mereka tidak memberikan kelonggaran?”
“Tidak. Ayah kami tidak akan mengambil resiko hanya karena kedua anaknya masih ada di luar istana pada malam hari.”
Tanpa menunggu jawaban dari kedua pengawalnya, Sara dan Lea memimpin jalan keluar dari perbatasan.
“Lalu, bisa kalian beritahukan ke mana kita akan pergi? Ataukah kita akan tidur di luar malam ini? Berkemah?”
Sara berusaha mengacuhkan nada sinis dalam suara Reita. Seperti yang Croon ucapkan saat di dalam dimensi netral tadi, akan lebih baik kalau dia bisa menahan emosinya. “Kita akan pergi ke rumah singgah milik kerajaan.”
“Rumah singgah?” tanya Raimond bingung. “Aku tidak tahu kalau kerajaan punya rumah singgah di luar istana.”
“Tentu saja kami punya. Tidak masalah kalau kalian tidak tahu. Kepergian kami ke gua ini juga tidak diberitakan pada orang-orang luar. Hanya orangtua kami, Paman Ieru, tetua, dan para pengawal yang tahu tentang hal ini. Lagipula, mereka tidak tahu apa yang kami lakukan dan yang terpenting adalah kami kembali dengan selamat. Itu sudah lebih dari cukup.”
“Penjelasan kalian tidak masuk akal,” bantah Reita.
“Terserah,” jawab Sara acuh.
“Lalu, sejauh apa rumah singgah itu dari sini?” tanya Raimond, mengabaikan rasa permusuhan dalam suara Reita dan Sara.
“Tidak jauh. Kita akan sampai di sana tidak lama setelah matahari terbenam.”
Jawaban Lea setidaknya membuat perasaan Raimond sedikit lebih tenang. Perjalanan selanjutnya lebih banyak diisi dengan keheningan. Sesekali yang terdengar adalah suara percakapan Lea dan Sara yang lebih tepat disebut dengan bisik-bisik. Saat matahari tenggelam, mereka sudah mencapai pinggiran kota. Dari tempat mereka berdiri sekarang, mereka bisa melihat kemegahan istana. Jarak mereka yang tidak terlalu jauh dari pinggiran kota membuat mereka tidak memerlukan penerangan tambahan.
Mereka kembali berjalan dan tidak lama kemudian, mereka pun melihat rumah singgah kerajaan itu. Bukan rumah yang bisa dibilang besar, malah bisa dikatakan kalau ukuran rumah ini sama dengan rumah-rumah lain yang ada di kota. Hanya saja pagar pembatas dan perlindungan yang diberikan menunjukkan status rumah itu. Sara dan Lea menghadap empat pengawal yang berdiri di depan gerbang dan keempat pengawal itu pun memberikan penghormatan mereka. Pintu gerbang berwarna hitam itu pun dibuka dan akhirnya mereka masuk ke dalam halaman.
“Pantas saja aku tidak tahu soal rumah ini. Letaknya di pinggir kota dan lebih dekat pada perbatasan. Apa rumah ini hanya dijaga oleh mereka?” tanya Raimond sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
“Ya. Mereka bergantian menjaga,” jawab Sara.
“Biarpun kecil, selamat datang di rumah singgah ini.”
“Rumah ini bukan dibangun khusus untuk kalian kan? Seseorang pernah tinggal di sini,” tanya Reita penuh selidik.” Dulu?”
“Memang.”
“Ini rumah Emma dan Danna. Pengasuh kami yang terdahulu.”
Kedua pengawal itu menatap Sara dan Lea yang sekarang terlihat acuh. Topik itu secara tidak sengaja kembali disinggung dan anehnya, mereka menunjukkan reaksi yang berbeda. Lagi-lagi Raimond dan Reita tidak tahu harus berbuat apa untuk menghadapi kedua putri itu.
Sara mengabaikan sikap diam kedua pengawalnya. Ia membuka pintu dan memperhatikan keadaan di dalam rumah. “Sepertinya Annie melakukan tugasnya dengan baik,” kata Sara puas.
“Tentu saja. Dia kan pengasuh terbaik kita.”
“Annie ada di sini?” tanya Reita.
“Tidak. Ia ada di istana, tapi saat aku dan Sara ingin menggunakan rumah ini, dia akan datang ke sini dan membereskan rumah ini untuk kami.”
“Dia melakukannya sendirian?” Raimond tampak takjub.
“Sendirian,” sahut Sara bangga. “Hebat kan?”
Raimond mengangguk sambil menutup pintu. Rumah itu memang rumah biasa. Hanya terdiri dari ruang depan yang digabung dengan dapur dan ruang makan, dua ruangan berpintu dan sebuah halaman yang cukup luas di bagian belakang. Barang-barang yang ada di sana sama sekali jauh dari kemewahan, tetapi aura yang diberikan memberikan perasaan yang sangat nyaman dan tenang. Hanya ada meja makan dari kayu, kursi yang sederhana dan peralatan dapur yang juga jauh dari mewah. Di ruang depan ada lemari kecil yang sepertinya sudah usang namun tetap terasa cocok dalam rumah itu. Seperti pulang ke rumah, pikir Raimond.
“Ini, Emma dan Danna?” tanya Reita sambil mengangkat sebuah potret lukisan yang dipigura. Di dalamnya terdapat gambar seorang wanita tua yang berdiri bersebelahan dengan seorang gadis kecil.
Lea mengangguk.
“Dia…” Reita kebingungan mengungkapkan maksudnya, “terlihat seperti wanita tua biasa.” Lea tertawa mendengar komentar Reita. Ia menyerahkan pigura itu pada Raimond yang ingin melihat rupa Emma dan Danna.
“Wanita pengasuh yang hebat,” gumam Raimond.
“Memang.,” Lea menyetujui.
“Lea, aku rasa, aku ingin pergi tidur duluan.” Sara merenggangkan badannya dan segera menutup mulutnya sebelum ia menguap.
“Baiklah. Sebentar lagi, aku akan menyusulmu.”
“Beristirahatlah dengan baik.”
“Ya. Terimakasih, Raimond. Selamat malam.” Sara masuk ke salah satu kamar dan segera menutup pintunya.
“Ia kelihatan sangat lelah.”
“Kalian juga pasti lelah. Pergunakanlah kamar yang ada di sana,” kata Lea sambil menunjuk ruangan berpintu yang lain. ”Kalau kalian ingin makan, cari saja di dalam lemari yang ada di dapur. Meskipun rumah ini sederhana, kita mempunyai cukup persediaan di sini. Bahkan lebih dari cukup.”
“Pasti ini ulah Annie.”
“Siapa lagi?” kata Reita.
“Kalau begitu, beristirahatlah. Aku akan menyusul Sara. Selamat malam.”
“Ya. Selamat malam, Lea,” sahut Raimond. Reita mengangkat tangannya untuk membalas salam Lea.
“Ah!” Lea berhenti sebelum membuka pintu kamarnya. Sekali lagi ia berbalik menghadap kedua pengawalnya. “Terima kasih karena kalian sudah mengawal kami hari ini. Selamat malam, Reita, Raimond.”
Kedua pengawal itu sekali lagi kehilangan kata-kata untuk menanggapi ucapan itu. dan akhirnya momen itu hilang saat Lea membuka pintu kamar dan masuk dengan pintu menutup di belakangnya. Sial, maki Raimond dalam hati.
Reita bersandar pada dinding berbatu yang dingin. Ia menatap langit yang kini diselebungi dengan cahaya lembut dari Danau Mata. Danau Mata yang ada di halaman belakang istana memang dapat mengeluarkan cahaya dan cahaya itu seakan-akan menyelubungi kerajaan Fyria. Hanya daerah kerajaan Fyria. Hal itu menimbulkan efek yang menakjubkan pada langit malam yang tidak pernah sepi oleh bintang.
Reita mencoba menyerap ketenangan dari pemandangan malam itu lalu memejamkan mata. Seperti biasanya, ia akan mengalami kesulitan untuk tidur saat malam tiba. Hal ini terus terjadi selama lima tahun ia hidup bersama dengan Paman Ieru dan Raimond. Ia baru akan tertidur saat waktu sudah lewat tengah malam.
Saat ia memejamkan mata seperti sekarang, ia tidak akan melihat bayangan-bayangan itu. Bayangan-bayangan yang terus menghantuinya. Bayangan masa lalunya. Masa sebelum ia bertemu dengan Paman Ieru dan diangkat sebagai keluarga Iridiusa. Bayangan itu seakan terus mengejarnya. Bukan. Lebih tepat bayangan itu dikatakan sebagai sosok seseorang yang mungkin tidak akan pernah bisa ia lupakan. Sosok seseorang bernama Lucca.
Reita merasa ia akan muntah saat menyaksikan Lucca berdiri dengan tangan berlumuran darah. Di sekitarnya, Ibu Polly, Andy, Harry, Luke, dan anak-anak lain sudah tergeletak tak bernyawa. Anak-anak yang tidak mengenal siapa orangtua mereka, Anak-anak yang terlantar dan terbuang. Anak-anak yang akhirnya mendapatkan arti keluarga lewat uluran tangan Ibu Polly. Anak-anak sepertinya dan Lucca.
“Kenapa kau melakukan ini, Lucca?”
“Kekuatan, Reita. Kau akan merasakannya. Merasakan bagaimana rasanya saat kekuatan mengalir melalui pembuluh darahmu, meresap ke dalam setiap pori-porimu. Kau pasti akan menyukainya…”
“Tidak…”
“Ya.” Lucca mengulurkan tangannya yang berlumuran darah, darah Ibu Polly dan teman-temannya, kepada Reita. “Ikutlah denganku, Rei dan akan aku tunjukkan arti kekuatan yang sebenarnya…”
Reita menggeleng, merasa takut dan ngeri dengan orang yang sekarang ada di hadapannya. “Kenapa kau bunuh mereka? Kenapa?!?” Reita merasa ia tidak lagi mengenal orang ini. Orang yang sudah ia anggap sebagai kakaknya. Orang yang dulu menerimanya saat ia pertama kali bertemu dengan Ibu Polly. Dan sekarang…
“Kau tidak mau ikut?” tanya Lucca sambil menarik uluran tangannya. Reita bergidik melihat seringaian orang itu. “Sayang sekali. Kupikir kau adalah anak yang penurut.”
“Tidak, Lucca…. Katakan semua ini tidak nyata…” Reita gemetar. Ia takut. Dari dulu, ia selalu takut pada orang ini. Lucca adalah anak lelaki yang tampan. Ia memang lebih tua dibandingkan dengan anak-anak lainnya. Secara tidak langsung, ia adalah pemimpin anak-anak asuhan Ibu Polly. Reita mengaguminya dan menaruh hormat padanya. Ia berjiwa pemimpin dan berkharisma. Jika ada orang-orang yang menghina Ibu Polly dan anak asuhnya, maka Lucca lah yang akan membela mereka. Lucca bahkan mengajari Reita bagaimana caranya menggunakan pedang dan Lucca juga yang memberikan Reita pedang pertamanya. Namun ada saat di mana Reita tidak bisa menutupi ketakutannya pada Lucca. Lucca sering hilang kendali. Ia sering menghajar anak-anak yang tidak menuruti perintahnya. Reita pun pernah menjadi korbannya. Kepalanya pernah terluka karena Lucca memukulnya menggunakan tongkat kayu. Alasan Lucca marah pun tidak bisa diprediksi. Ia akan marah saat ia ingin. Jika saat itu datang, maka Reita akan menyembunyikan diri darinya. Pergi sampai kemarahan Lucca mereda.
Ibu Polly tidak bisa mengontrol Lucca. Di depan Ibu Polly, Lucca akan bersikap sopan dan baik. Apabila luka yang diakibatkannya terlalu parah, maka ia akan meminta maaf sambil menangis, mengatakan bahwa ia menyesal dan ia melakukannya secara tidak sadar. Seakan-akan ada orang lain di dalam dirnya.
Dan saat ini Reita merasakan kalau hal itu mungkin saja benar. Mungkin saja memang ada orang lain di dalam diri Lucca dan sekarang Lucca yang asli sudah dikalahkan oleh orang lain itu. Orang itu sudah merebut tubuh Lucca dan melakukan hal yang keji ini pada keluarga mereka.
“Lucca, kumohon, kembalilah…”
Lucca tertawa terbahak mendengar kata-kata Reita. “Akulah Lucca. Inilah diriku, Reita.”
“Kau bukan Lucca… Lucca tidak seperti ini…”
Lucca memukul kepala Reita dengan keras, membuat telinganya berdenging dan pandangannya mengabur. Reita limbung, namun berhasil menahan berat tubuhnya dengan sebelah tangan. Kombinasi yang memusingkan itu membuatnya mual. Di dekatnya, ia bisa melihat Harry yang seumuran dengannya terbaring dengan mata terbelalak.
“Lucca…”
“Jadi, kutawarkan sekali lagi, Reita. Kau mau ikut denganku atau tidak?”
Reita menggeleng dengan cepat. Ia berusaha meraih Lucca dengan sebelah tangannya. “Kembalikan Lucca… Kembalikan…”
Reita berteriak saat Lucca menendang perutnya dengan keras. Ia merasa kalau tubuhnya akan hancur. Lucca mulai menyerangnya lagi, kali ini ke arah muka. Reita berusaha menghindar tetapi serangan pertama Lucca memperlambat usahanya. Wajahnya terkena hantaman keras. Mulutnya terasa asin oleh darah yang mengalr dari sudut mulutnya.
“Penawaran terakhir, Reita… Kau mau ikut atau tidak denganku?”
Reita mencoba bangkit. Ia menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan rasa pusing dan memuntahkan darah yang berkumpul di mulutnya. Sebelah tangannya mencoba meraih kaki Lucca, “Kembalikan Lucca pada kami…”
“Huh! Tidak ada penawaran lagi, Reita. Sayang sekali. Padahal kau adalah favoritku dibandingkan mereka semua.” Lucca menendang Reita kembali. Menghempaskan tubuhnya ke lantai dan memberikan pukulan terakhir di kepalanya.
“Silahkan cari Lucca-mu di dunia lain, Reita…”
Pandangan Reita menggelap beberapa detik setelah Lucca meninggalkannya.
Reita membuka matanya cepat. Nafasnya terdengar begitu tidak teratur. Kaget dengan mimpi buruk yang kembali datang. Tanpa sadar ia tertidur dan mimpi itu kembali datang menghantuinya. Reita mencoba menenangkan debar jantungnya yang berubah cepat. Ia masih bisa mengingat seringaian Lucca dengan jelas. Seringaian yang begitu kejam. Meski sudah lama lewat, ia masih bisa mengingat rasa sakit di kepalanya saat ia terbangun di rumah keluarga Iridiusa.
Paman Ieru menemukannya sehari setelah kejadian dan membawanya pulang karena dari semua korban yang dilukai Lucca, hanya dia yang berhasil hidup. Bahkan Reita tidak menyangka kalau dirinya masih hidup. Ia tidak sadar selama 3 hari. Setelah itu, setiap kali ia mencoba untuk tidur, mimpi itu akan selalu datang, membuatnya terus terjaga ketakutan. Entah berapa lama Reita bisa melewati semua itu dan akhirnya menganggap kejadian itu sebagai masa lalunya.
Reita menyandarkan tubuhnya lagi, mencoba menenangkan diri. Itu adalah masa lalu, hanya masa lalu, pikir Reita berulang-ulang. Tidak akan ada yang bisa menyakitinya sekarang. Tidak setelah Paman Ieru dan Raimond melatihku, pikir Reita lagi. Reita mencoba menenangkan dirinya lagi. Ia mengatur nafasnya, merasakan angin malam menyapu keringat yang mengalir deras di tubuhnya. Ia menengadah dan mencoba menghitung bintang yang terlihat, sekedar untuk mengalihkan perhatian.
Tiba-tiba suara itu terdengar. Suara aneh dari dalam rumah. Inderanya kembali waspada. Reita mencoba menajamkan pendengarannya dan telinganya menangkap suara barang-barang yang ditarik dengan ceroboh. Apakah pencuri? Reita mencoba mendengarkan lagi. Nalurinya mengatakan ada sesuatu yang buruk.
Lucca.
Nama itu terucap tanpa sadar dalam kepalanya. Jantungnya berdebar begitu keras sehingga terasa sakit. Adrenalin mengalir deras dalam tubuhnya. Otaknya mulai berpikir dengan cepat.
Tidak. Tidak mungkin ia ada di sini. Tapi, Lucca adalah orang yang cerdik.
Tidak! Mungkin saja itu adalah dia! Tidak ada yang bisa menebaknya! Tidak ada yang bisa selain dia sendiri! Kalau itu memang benar dia, maka Sara dan Lea ada dalam bahaya!
Reita memaki pelan saat menyadari pedangnya ada di dalam kamar, di meja di samping tempat tidur. Ia tidak merasa perlu membawa senjatanya karena ia ada di dalam wilayah kerajaan. Ia lengah. Harusnya ia tetap waspada. Orang seperti Lucca akan bisa membunuh empat pengawal di depan gerbang seperti tadi.
Sial!
Tidak ada pilihan lain. Ia menyambar sepotong kayu bakar di dekatnya. Perlahan-lahan dan dengan kewaspadaan tinggi, ia masuk ke dalam rumah. Ia memeriksa keadaan sekeliling. Tidak adanya penerangan membuat Reita kesulitan melihat, tetapi tidak ada yang mencurigakan. Reita memperhatikan lagi dan masih tidak bisa menemukan tanda-tanda keanehan. Reita menurunkan kayu bakar yang dipegangnya, menenangkan diri.
Bodoh. Kau mencampurkan masa lalumu dengan masa kini. Lucca tidak mungkin ada di sini.
Reita menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia menertawakan dirinya yang merasa cemas berlebihan. Ia kembali keluar, ingin meletakkan kayu bakar itu kembali lalu pergi tidur. Rasanya rasa lelah sudah mulai menyerangnya.
Lalu, suara itu muncul lagi. Reita membalikkan badan dengan cepat dengan kayu bakar terangkat di tangan kanannya. Ia melihat gerakan itu. Di balik lemari dekat dapur. Tanpa menunnggu lagi, ia melangkahkan kakinya pelan, namun lebar ke arah sosok itu. Kegelapan tidak terlalu mempersulitnya sekarang. Matanya mulai terbiasa dengan kegelapan dan ia merasa percaya diri akan bisa menangkap Lucca.
Jarak sudah dekat untuk Reita mengayunkan kayu itu. Ia mengangkat kayu itu tinggi-tinggi berniat memukulkannya sekeras mungkin saat tiba-tiba sosok itu berbalik dan Reita mlihat wajah Sara di depannya. Reita menghentikan ayunannya tepat waktu sebelum kayu bakar itu menghantam kepala Sara. Sara membeku, kekagetan jelas terlihat di wajahnya yang memutih. Saat Reita menurunkan kayu yang dipegangnya, Sara merosot ke lantai. Gelas yang tadi digenggamnya ikut terjatuh, menumpahkan air yang ada di dalamnya.
“Demi Tuhan, Sara! Apa yang sedang kau lakukan di sini!!” bisik Reita gusar.
“A… Aku… hanya ingin mengambil segelas air…” Sara gemetaran. Sosok Reita tadi jelas membuatnya ketakutan dan shock.
Reita menyisir rambut hitamnya dengan sebelah tangan yang bebas. Merasa kesal dengan diri sendiri yang terlalu paranoid akan keberadaan Lucca. Ia hampir mencelakai Sara, salah satu putri Kerajaan Fyria. Reita menatap Sara yang sekarang sedang berusaha menenangkan dirinya yang masih gemetaran. Fakta bahwa dirinya lah yang membuat Sara ketakutan membuat Reita kesal. Dalam satu gerakan cepat, ia meletakkan kayu bakar itu di atas lemari dan membungkuk untuk menggendong Sara.
“Se…sedang apa kau?!” Sara terlihat panik. Suaranya terdengar seperti orang yang habis dicekik dan itu membuat Reita bertambah gusar.
“Diamlah, Sara. Aku berusaha…”
“Kau berusaha untuk membunuhku, Reita!!” desis Sara tajam.
“Aku tidak sengaja! Aku kira kau orang lain!” Reita berusaha menjelaskan sementara Sara terus menggeliat dalam gendongannya. Niatnya untuk mendudukkan Sara di ruang depan, batal. Ia membawa Sara keluar rumah, sekedar untuk memastikan Raimond dan Lea tidak akan terbangun untuk menginterogasinya.
“Turunkan aku!!” kata Sara panik.
Reita langsung menurunkan putri itu saat mereka sudah ada di luar rumah. Namun rupanya Sara masih tidak bisa berdiri tegak. Kakinya yang gemetaran langsung membuatnya jatuh ke dalam pelukan Reita.
“Lepaskan aku!” desis Sara lagi.
“Kalau kulepas, kau akan jatuh. Kau lebih suka terjatuh ya?”
“Aku tidak mau ada di dekat orang yang ingin membunuhku!”
“Sudah kubilang aku tidak sengaja!”
“Kau menyamar kan?! Kau menggunakan kedok sebagai pengawal agar bisa mencelakai aku dan Lea kan?!”
“Tidak!! Itu tadi murni kesalahpahaman! Aku mengira kau sebagai orang lain! Aku tidak pernah berniat untuk mencelakaimu dan Lea apalagi punya niat untuk membunuh kalian! Itu murni salah paham, Sara!”
“Aku tidak percaya! Kau terlihat sangat sungguh-sungguh saat melakukan itu!”
“Itu karena kukira kau adalah orang lain! Orang yang sangat berbahaya, Sara! Apa kau masih tidak percaya padaku? Apa lagi yang harus kukatakan untuk membuatmu percaya padaku?”
Sara menatap salah satu pengawalnya dengan pandangan menyelidik. Reita balas menatapnya dengan sungguh-sungguh. Ia tidak mau Sara sampai salah paham padanya. Itu tadi murni kesalahannya. Sikapnya terlalu paranoid akan keberadaan Lucca. Lama-lama Reita semakin membenci pengaruh Lucca dalam kehidupannya.
Sara menghela nafas. “Baiklah.. Aku percaya padamu. Sekarang, tolong lepaskan aku.”
Reita menatap Sara kembali. “Kalau kulepas kau tidak akan berteriak dan membangunkan orang-orang?”
“Aku memegang janjiku, Reita. Kalau kukatakan bahwa aku percaya padamu, maka aku percaya padamu. Sekarang kau bisa melepaskan aku.”
“Kau tidak akan terjatuh?”
“Demi Tuhan!! Lepaskan saja aku!”
Reita melepaskan pegangannya pada bahu Sara perlahan-lahan, menunggu sampai Sara berhasil berdiri dengan kakinya sendiri. “Kau tidak akan melaporkan kejadian ini pada Raimond?”
Sara menatap Reita dengan tatapan kenapa-aku-harus-melakukan-hal-itu. “Tidak,” jawab Sara.
“Aku minta maaf. Tadi itu salahku. Aku hampir membuatmu terluka.”
“Ya, ya. Aku sudah mendengar itu setidaknya lima kali malam ini. Jadi sudah cukup. Aku percaya padamu.”
Reita menatap putri itu. Sikapnya yang ketus dan sok kuasa masih terlihat meskipun tadi ia begitu gemetaran. Saat Reita memperhatikan dengan lebih seksama, Reita baru menyadari bahwa Sara hanya menggunakan gaun tidur dengan jubahnya yang hanya sedikit menutupi kulitnya yang terlihat putih dan halus. Rambutnya yang berombak tergerai dengan bebas menutupi bahu dan sebagian lehernya. Sinar dari Danau Mata yang menyinari Fyria secara tidak langsung memantul ke atas rambutnya, membuat warna coklat rambutnya terlihat sangat menawan.
“Apa yang kau lihat?” tanya Sara sambil melingkarkan kedua tangannya di depan dada, mencoba menutupi dirinya. “Jangan melihatku seperti itu!”
“Aku tidak melihat.”
“Ya! Kau melihatnya!”
“Kau sendiri yang memakai gaun tidur itu. Jangan menyalahkan aku.”
“Aku memakainya karena aku sedang tidur dan apakah kau tidak ingat? Kau yang nyaris memukulku dengan kayu itu saat aku ingin mengambil air dan segera kembali ke kamar.”
“Kita sudah membahasnya, kan? Itu adalah salah paham.”
“Aku tahu. Aku juga sudah bilang kalau aku percaya padamu. Kau yang memulai perdebatan ini.”
Reita menghela nafas kesal. Tidak ada gunanya berbicara dengan orang yang hanya bisa berdebat saat berbicara “Baiklah. Ini salahku.” Reita melepaskan jubahnya dan memberikannya pada Sara. “Pakai ini dan bantu aku menghindarkan diriku dari masalah.”
Tanpa pikir panjang Sara mengambil jubah yang diberikan Reita dan segera menyampirkannya di bahunya sendiri, mencoba menutupi tubuhnya yang hanya memakai gaun tidur. “Jadi, apa yang sedang kau lakukan pada jam segini? Menghitung bintang?” tanya Sara dengan nada jahil.
Reita mengistirahatkan dirinya di salah satu bangku yang tadi ia duduki dan menyandarkan dirinya ke dinding rumah yang dingin. “Bisa dibilang begitu.”
Sara mengambil tempat di sebelah Reita, meskipun masih memberikan jarak di antara mereka. “Kau? Menghitung bintang?” Sara berusaha untuk menahan tawanya.
“Kau sendiri? Sedang apa kau di dapur malam-malam begini? Selain mengambil segelas air, tentunya. Bukankah kau bilang tadi ingin tidur lebih dulu?”
Sara memundurkan tubuhnya, mencari posisi yang membuatnya nyaman. “Mimpi buruk.”
Reita menatap ke arah Sara yang sekarang tanpa sadar menggoyang-goyangkan kakinya. “Mimpi itu terus-menerus datang. Aku selalu bangun di tengah-tengah tidurku akibat mimpi itu. Makanya, aku selalu tidur lebih dulu karena aku tahu aku akan terbangun.”
“Aku tahu.”
“Kau tahu? Memangnya kau pernah mimpi buruk?”
Reita tertawa sinis. Tentu saja ia pernah bermimpi. “Berulang kali. Setiap kali aku memejamkan mata, maka mimpi itu akan datang. Begitu seringnya sampai-sampai aku tidak tahu apakah itu hanya mimpi atau kenyataan.”
Reita merasakan angin malam kembali berhembus, menggerakkan rambutnya yang sudah mulai panjang. Ia menutup mata, mencoba merasakan sensasi yang menenangkan itu.
“Ibuku bilang, kalau kau bermimpi buruk, ambilah segelas air dan minumlah sampai habis. Kau akan merasa baikan. Sampai saat ini, hal itu bekerja untukku,” saran Sara.
Reita tertawa kecil mendengar itu. “Kalau tidak berhasil?”
“Kalau tidak, ibu membeitahukan padaku resep rahasia menghilangkan mimpi buruk,” Sara berdiri dari duduknya, sembari merenggangkan badan, ia mengangkat kedua tangannya ke atas, membiarkan angin malam menggoyangkan rambut ikalnya dengan lembut. Cahaya yang terpantul di rambut itu membuat warnanya begitu sempurna. “Pejamkan matamu. Tengadahkan kepalamu. Angkat kedua tanganmu ke atas dan berpura-puralah kau meraup semua bintang itu ke dalam pelukanmu. Lalu buka tanganmu, lepaskan semua bintang yang tadi kau ambil dan buka matamu. Kau akan melihat banyak sekali bintang yang berhasil kau ambil.”
“Apa itu berhasil?” tanya Reita sambil berdiri di samping Sara.
“Kenapa tidak kau coba? Kau akan menyukainya saat kau membuka matamu nanti.”
Reita tersenyum lagi. “Baiklah, apa yang harus aku lakukan?”
“Tutup matamu.” Reita menutup matanya.
“Arahkan kepalamu ke atas, tapi dengan mata masih tertutup.” Reita menengadahkan kepalanya. “Mata tertutup.”
“Aku menutup mataku,” sahut Reita.
“Sekarang angkat kedua tanganmu dan raih sebanyak mungkin bintang ke dalam tanganmu.”
“Aku merasa seperti orang bodoh.”
“Lakukan saja, Rei. Bayangkan, bukan mengintip!”
“Aku tidak mengintip dan aku sudah membayangkannya.”
“Tarik semua bintang-bintang itu ke dalam pelukanmu.”
Reita bisa melihat kerlip-kerlip bintang itu di balik kelopak matanya. Perlahan, ia menarik tangannya, mencoba mengumpulkan semua bintang yang bisa diraihnya. Beberapa bintang terlepas saat ia berusaha menarik bintang-bintang itu ke dalam pelukannya.
“Tahan bintang-bintang yang ada di pelukanmu. Saat aku bilang lepaskan, kau harus melepaskannya dan segera membuka matamu. Mengerti?”
“Kenapa harus dilepas lagi kalau kita sudah menangkapnya?”
“Lakukan saja, Rei! Jangan bertanya terus!”
“Baiklah…” gumam Reita.
Suasana hening saat Reita masih berusaha menahan bintang-bintang yang ada dalam bayangannya.
“Sekarang!!”
Reita membuka tangannya lebar-lebar, membayangkan semua bintang yang tadi dia kumpulkan berhamburan keluar dari dalam pelukannya.
“Buka matamu dan lihat seberapa banyak bintang yang tadi kau raih.”
Reita membuka matanya dan tanpa sadar ia menahan nafas. Bintang-bintang yang ada di hadapannya begitu banyak sejauh matanya bisa memandang. Berhamburan. Meski Reita tahu bahwa bintang-bintang itu tetap di sana, rasanya tetap saja menakjubkan.
“Bagaimana?”
“Keren.”
“Iya kan? Aku paling menyukai bagian saat aku membuka mata untuk pertama kalinya dan melihat bahwa semua bintang itu sudah berhasil aku ambil.”
“Baiklah… ini mungkin bisa membantuku menghilangkan mimpi burukku.”
“Senang bisa membantu.”
Reita menatap Sara yang terdiam sambil menatap bintang. Rambutnya bergoyang dengan lembut seirama dengan hembusan angin, membuat pantulan cahayanya terlihat cantik. Begitu cantiknya sehingga tanpa sadar, Reita menjulurkan tangannya dan menyentuh rambut itu, mengangkatnya, dan mencium keharuman yang ditawarkannya.
Sara tiba-tiba menoleh, secara tidak langsung melepaskan pegangan Reita pada rambut yang halus itu. Semburat warna merah memenuhi pipi Sara yang putih. Dengan wajah memerah, Sara berusaha merapikan rambutnya yang mulai berantakan karena angin. “Jangan pegang rambutku,” katanya sambil menunduk.
“Kenapa?” tanya Reita polos, tidak rela kehilangan kehalusan dan keharumannya.
“Pokoknya jangan.” Sara berusaha menjauh dari uluran tangan Reita. “Kurasa, aku akan kembali tidur. Selamat malam.”
Sara buru-buru masuk ke dalam rumah, meninggalkan Reita yang masih kebingungan. Saat telinga Reita mendengar suara pintu kamar yang tertutup, ia mengalihkan pandangannya ke arah langit.
“Bintang..” Reita mendengus pelan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar