Kedua putri itu berjalan di depan mereka dengan langkah yang tidak bisa dibilang santai. Reita memperhatikan bahwa Sara masih mengentakkan kakinya semenjak mereka keluar dari lingkungan istana. Berbeda dengan saudaranya, Lea, yang berjalan dengan anggun layaknya seorang putri, Sara malah terlihat seperti pengawal Lea.
“Apa kau masih begitu kesal, Sara?” teriak Reita dari belakang, tidak bisa menahan keinginannya untuk bertanya.
Di depannya, Sara menengok dengan sebal, jelas-jelas memperlihatkan kekesalannya. Dari jarak yang tidak bisa dibilang dekat, Reita bisa melihat putri itu mendengus. “Aku masih tidak percaya ayah memberikan ijinnya semudah itu hanya karena kita akan membawa mereka! Ini benar-benar tdak bisa dipercaya!”
Di belakang, Raimond dan Reita tertawa geli mendengar ocehan Sara. Seperti yang Sara katakan, Raja Theo dengan mudahnya memberikan ijin kepada kedua putrinya untuk pergi. Alasannya sudah jelas karena Sara dan Lea membawa kedua pengawalnya.
“Aku tidak percaya bahwa untuk meluluhkan hati ayah, kita hanya perlu melaporkan keberadaan mereka! Bahkan ayah tidak selunak ini ketika kita pergi dengan Paman Ieru! Padahal Paman Ieru dalah panglima kepercayaan ayah.”
“Lalu, kenapa kau tidak bisa menerima kenyataannya sekarang, Sara?” tanya Lea menenangkan.
“Lea benar. Tidak ada gunanya kau membahas masalah ini. Yang pasti, kami sudah mendapatkan kepercayaan sang raja secara penuh,” Reita kembali membalas dengan angkuh.
“Diam kau! Kau tidak berhak memberikan komentar di sini!”
“Kenapa? Tidak ada hukum yang melarang seseorang untuk memberikan pendapatnya.”
“Mulai sekarang, akulah yang membuat peraturan itu!” Sara berkata dengan tegas, “khusus untukmu!”
“Wah, aku merasa tersanjung.”
Sara mengerang frustasi. Tidak ada gunanya berdebat dengan pengawal sialan itu, pikir Sara kesal. Saat ia dan Lea tadi meminta ijin pada ayah mereka untuk pergi, ayahnya langsung setuju saat Lea mengatakan bahwa mereka akan mengajak Raimond dan Reita. Lebih tepatnya ayah terlihat sangat gembira karena kami mengajak mereka, Sara kembali merasa kesal.
“Mungkin ayah berpikir kita mulai akrab dengan mereka,” kata Lea menyuarakan pendapatnya.
“Lalu, kalau kita sudah akrab dengan mereka, apa masalahnya?”
“Tidak ada masalah. Kita malah beruntung karena ayah tidak akan mempertanyakan dan mengkhawatirkan kita seperti sebelumnya. Kalau ayah menaruh kepercayaan yang besar terhadap mereka.”
Sara terdiam sejenak, mencoba memikirkan kata-kata saudaranya. “Kau benar… Hanya saja aku tetap merasa kesal. Ayah dengan mudah mempercayai mereka, tapi dia tidak percaya pada kita.”
“Mungkin karena peristiwa penculikan itu dulu?” kata Raimond yang entah kapan sudah berada di belakang mereka.
“Mungkin saja. Cerita itu cukup terkenal,” sahut Reita.
“Itu bukan cerita.” Suara Lea terdengar dingin dan hampa. Pandangan matanya kosong namun Reita bisa melihat kepedihan dan kehilangan di sana. “Itu bukan sekedar cerita bohong.”
“Kami kehilangan Emma dan Danna.” Suara Sara terdengar sama hampanya. Reita kembali melihat kekosongan itu. “Di depan mata kami.”
“Kristal jiwa mereka,” Lea mengangkat kedua tangannya, secara tidak sadar memeluk tubuhnya yang mulai gemetaran. “Wajah mereka memucat…”
“Lea?” Raimond mulai khawatir dengan keadaan kedua putri itu, ketika mereka mulai membicarakan peristiwa itu, mereka seperti kehilangan kesadaran.
“Kejadian itu nyata, Rai!” emosi Lea yang tiba-tiba terlihat mengagetkan kedua pengawal itu.
“Itu bukan sekedar cerita dalam buku.” Sara memperingatkan dengan dingin.
“Maaf… aku tidak bermaksud seperti itu.”
Keheningan yang menyesakkan melingkupi mereka setelah Raimond menyesali perkataannya. “Sudahlah.” Sara menarik tangan Lea, kembali berjalan menuju tujuan awal mereka.
Reita menyikut rusuk Raimond, mencoba menyadarkan Raimond dari kekagetannya terhadap perubahan sikap kedua putri itu. Reita menduga kalau kejadian penculikan itu memang meninggalkan luka yang amat dalam bagi Sara dan Lea. Akibat yang mungkin tidak akan bisa dipikirkan oleh orang lain. Mereka berdua, pikir Reita, berusaha untuk melindungi satu sama lain. Atau berusaha untuk melarikan diri? Reita tersenyum getir. Mengingat bahwa dirinya pun punya trauma masa lalu yang entah bisa disembuhkannya atau tidak.
Keheningan terus menemani perjalanan mereka. Panasnya sinar matahari yang menyengat tidak menyurutkan langkah Sara dan Lea. Walaupun mereka sudah berangkat pagi-pagi sekali, mereka masih tidak bisa menghindari panasnya udara. Seperti biasanya, Sara dan Lea membutuhkan waktu sekitar setengah hari untuk sampai ke gua dekat perbatasan hutan tertidur. Gua itu terletak di sebelah timur kerajaan. Meski jaraknya lumayan jauh, Sara dan Lea lebih suka berjalan kaki dibandingkan mengendarai kuda mereka, Glacier dan Divine.
Raimond masih terus diam setelah kejadian tadi. Reita bisa melihat penyesalan di matanya. Setelah lima tahun tinggal bersama Raimond dan Paman Ieru, Reita sudah bisa mengenal kedua orang itu dengan baik. Paman Ieru adalah orang yang keras, namun di balik sikapnya yang keras dan tegas itu, ia sangat perhatian pada Raimond dan Reita yang bukan anaknya sendiri. Raimond sendiri adalah orang yang mudah ditebak. Ia sangat pengertian dan peduli. Keahliannya adalah membuat orang lain di sekitarnya merasa nyaman. Meski seringkali ia harus memikirkan ulang tindakannya, Raimond adalah pengambil keputusan yang hebat. Entah kenapa pilihannya selalu memberikan jalan keluar yang memuaskan. Reita berharap ia bisa mendapatkan sedikit kemampuan itu.
“Sudah sampai.”
Suara Lea menyadarkan Raimond dan Reita untuk kembali ke dunia nyata. Kedua putri itu sekarang sudah berdiri menghadap mereka. Raimond mengedarkan pandangannya ke sekeliling mereka. Hanya ada hamparan pohon-pohon dan semak yang merupakan perbatasan hutan tertidur.
“Di mana guanya?” tanya Reita, menyuarakan kebingungan Raimond.
“Ada di sana,” Sara mengedikkan kepalanya ke daerah di belakang mereka. Raimond bisa melihat ada jalan setapak yang mengarah lebih jauh ke dalam deretan pepohonan dan semak itu. Meski Raimond tahu kalau daerah itu bukan daerah hutan tertidur, perasaanya masih merasa tidak tenang.
“Kalian akan pergi ke sana?” tanya Raimond lagi.
“Ya. Kalian cukup menunggu kami di sini. Kami akan kembali sebelum matahari tenggelam,” jawab Lea.
“Tunggu!” Raimond menatap kedua putri itu dengan tatapan tidak percaya. “Bagaimana kalian bisa melakukan ini padaku dan Reita?”
Kedua putri itu saling berpandangan, bingung. Mereka kembali menatap Raimond meminta penjelasan. “Kalian meminta kami menemani kalian ke gua, bukannya ke perbatasan hutan. Dan sekarang kalian memerintahkan kami untuk menunggu kalian di sini, sementara aku maupun Reita tidak tahu menahu tentang keselamatan kalian!”
“Kalau keselamatan kami yang kalian khawatirkan, kalian tidak perlu cemas.”
“Lea benar. Bahkan aku tidak bisa memikirkan tempat yang paling aman selain di sana.”
“Mana bisa kami percaya begitu saja! Raja Theo sudah mempercayakan kalian pada kami.”
“Maka dari itu…” Raimond mengangkat sebelah tangannya, secara otomatis memotong perkataan Lea. “Kita buat kesepakatan baru di sini. Aku dan Reita akan menemani kalian sampai mulut gua dan kami akan menunggu di sana sampai sebelum matahari tenggelam. Jika kalian memutuskan untuk meninggalkan kami di sini, maka kami tidak akan segan-segan untuk mengikuti kalian sampai ke dalam gua. Tidak perduli kalian melarang kami atau tidak.”
“Raimond!”
“Dan kalau kalian masih keras kepala, kami akan menyeret kalian pulang.” Raimond menatap kedua putri itu tajam. “Dengan cara apapun.”
“Kalian tidak akan berani melakukan hal itu!” kata Sara geram.
“Kenapa tidak?” sahut Reita, “Kami cukup beristirahat semalam dan tidur kami sangat nyenyak. Lagipula, kalian kan hanya perempuan.”
Sara maju ke depan dengan jari terancung ke arah Reita. “Jangan sekali-kali menyebutkan bahwa kami hanya perempuan, Reita.”
“Reita benar. Meskipun kau terbiasa berlatih dengan pedang, Sara, aku dan Reita masih bisa membawa kalian pulang dengan tangan kosong. Kalau kami harus membuat kalian pingsan, kami akan melakukannya.”
“Kalian akan dihukum!” ancam Sara.
“Bukan masalah,” Reita mengangkat bahu dengan santai.
“Asal kalian selamat. Hukuman bisa dipirkan nanti.”
Sara menatap kedua pengawalnya tidak percaya. Baru pertama kali ini ia bertemu orang seperti ini, menyepelekan hukuman yang akan diberikan oleh ayahnya. “Kalian akan membuat malu Paman Ieru. Tegakah kalian menyakiti Paman Ieru?”
“Ayahku akan mengerti tindakan yang kulakukan.”
“Tidak masuk akal!”
“Jangan kira kau mengenal Paman Ieru dengan sangat baik, Sara. Kau hanya anak dari pimpinannya.”
Sara menatap tajam ke arah Reita. Ia tidak suka dengan kata-kata ketus pengawalnya itu. Setiap kali Reita berbicara, ia akan membawa-bawa statusnya. Padahal Sara paling benci jika ada orang yang menyinggung statusnya itu, dan dengan ini, sempurna sudah keinginannya untuk membenci Reita.
“Apa kalian sedang berusaha mengancam kami?” tanya Sara tajam.
“Tidak,” jawab Raimond tenang, “hanya membuat kesepakatan. Sama seperti kalian yang meminta tolong pada kami.”
“Baiklah.” Lea tiba-tiba membuka suara di tengah perdebatan yang mencekam itu. “Kalian boleh mengantar kami sampai di mulut gua. Tapi hanya sampai di sana. Kalian tidak boleh masuk ataupun berusaha mengikuti kami.”
“Lea!!”
“Hanya sampai sana, Sara. Tidak akan terjadi apa-apa.”
Raimond membalas tatapan Lea yang tenang dan penuh perhitungan ke arahnya. Setelah sekian lama terdiam, akhirnya Raimond menganggukkan kepalanya.
“Baik. Sudah selesai kan? Bisa kita jalan lagi?” tanya Lea.
Raimond mempersilahkan kedua putri itu untuk memimpin jalan. Dari posisinya sekarang, ia bisa mendengar Sara meminta penjelasan pada Lea tentang keputusannya ini.
“Kita bahkan tidak membiarkan Paman Ieru untuk ikut dengan kita sampai di mulut gua.”
“Kita sudah membuat kesepakatan, Sara.”
Sara memandang Lea tidak percaya saat mendengar nada final dalam suara Lea. Ia berdiri di depan saudara kembarnya dan berkata dengan dingin, “Kau yang membuat kesepakatan, Lea. Bukan aku.” Setelah itu, Sara pun melangkah mendahului Lea.
Ketiganya akhirnya berhasil menyusul Sara yang sudah menunggu di mulut gua. Sara sedang duduk di atas batu yang ada di dekat mulut gua saat Lea dan kedua pengawalnya muncul. Selama perjalanan tadi, Lea tetap diam. Ia tidak mencoba bicara ataupun berusaha untuk membuka percakapan dengan pengawalnya. Raimond dan Reita cukup tahu diri untuk membiarkan Lea sendiri. Sebenarnya, Raimond cukup menyesal karena harus mendesak Sara dan Lea sampai sejauh itu. Kalau dipikir-pikir, sikapnya memang agak keterlaluan. Ia tidak bermaksud untuk berkata seperti itu pada Sara dan Lea, akan tetapi kecemasannya pada keselamatan Sara dan Lea di luar dugaannya.
Dan sekarang, saat mereka akhirnya tiba di gua yang dituju oleh Sara dan Lea, kecemasan Raimond semakin bertambah besar. Sebenarnya, gua yang mereka tuju bukan sebuah gua yang besar. Bisa dibilang gua itu lebih mirip tempat tinggal binatang-binatang di hutan. Yang membuat kekhawatiran Raimond bertambah adalah, gua itu sangat gelap. Dari mulut gua saja Raimond sudah bisa melihat kalau gua itu sangat dalam. Lorongnya seaakan tidak berujung.
“Kalian benar-benar harus masuk ke sana?” tanya Raimond memecahkan keheningan.
“Ya. Kami harus masuk ke sana dan kalian harus menunggu di sini.”
“Tapi, Lea, aku merasa kalau…”
“Kau sudah berjanji, Raimond Iridiusa. Kami sudah membiarkan kalian mengawal kami sampai ke sini. Kami bahkan tidak mengijinkan Paman Ieru dan pengawal lain untuk menemani kami sampai di sini. Untuk selanjutnya, daerah ini terlarang untuk kalian. Kalian tidak boleh memasukinya sama sekali.”
“Atau kalian tidak akan bisa keluar untuk selamanya,” sahut Sara.
“Omong kosong.” Reita langsung memotong, “Kalian saja bisa keluar masuk sesuka hati, bagaimana mungkin kami tidak bisa melakukan hal yang sama?”
Sara melangkah dengan cepat, memposisikan dirinya sebisa mungkin di hadapan pengawalnya yang keras kepala itu. Meski harus mendongakkan kepala, Sara terlihat menantang di mata Reita.
“Dengar bocah bodoh. Kami lebih berpengalaman di bidang ini dibandingkan kalian. Percayalah padaku. Kalian akan terjebak dalam gua ini jika berani-beraninya mengikuti kami masuk. Kau pikir kenapa Paman Ieru setuju untuk menunggu di perbatasan daripada ikut bersama dengan kami?”
Reita terdiam. Terkejut akibat sikap Sara dan sebagian lagi karena penuturan gadis itu. Reita tidak melihat tanda-tanda kejailan di matanya, ataupun keangkuhan. Demi Tuhan. Yang ada di sana hanyalah ketegasan. Ketegasan untuk melarang mereka masuk dan mengikuti mereka. “Tiga puluh pengawal kerajaan terpaksa dikorbankan dalam hal ini, Reita.”
“Tiga puluh?”
“Dan Paman Ieru cukup mengerti untuk tidak mengorbankan bawahannya lebih banyak lagi. Mereka adalah orang-orang yang berharga.”
“Tapi kenapa?” tanya Raimond kebingungan.
“Karena toh kami tetap akan kembali. Dalam keadaan baik seperti sedia kala. Tanpa cacat sedikitpun.”
Raimond menatap Lea. Heran, tidak percaya, dan cemas. “Bagaimana kalian bisa kembali dengan selamat, sementara ketiga puluh pengawal yang lain tidak bisa? Memangnya kalian tidak bertemu mereka di dalam sana? Apa kalian tidak bisa menolong mereka?”
“Bagaimana kami bisa menolong mereka kalau kami tidak tahu mereka ada di mana?” sahut Sara.
“Lalu, bagaimana dengan kalian? Kenapa kalian bisa baik-baik saja?”
“Karena kami kembar, Raimond,” jawab Lea.
“Dan apa hubungannya dengan hal ini? Tolong jangan berbelit-belit.”
Lea menatap Reita dan Raimond yang jelas-jelas masih terlihat bingung. Ia sendiri merasa bingung untuk menjelaskannya. “Aku tidak tahu apa hubungannya. Yang pasti, kami seakan bisa melihat jalan mana yang benar untuk dilewati.”
“Kenapa orang lain tidak bisa?”
“Kami tidak tahu! Jangan menanyakan hal yang kami pun tidak tahu bagaimana menjawabnya!” lagi-lagi emosi Lea meledak. Ia sudah kehabisan akal bagaimana membuat kedua pengawalnya itu untuk tidak mengikuti mereka ke dalam gua.
“Sudahlah!” sahut Sara, “kalian hanya perlu menunggu kami menunggu di sini dan kami akan kembali sebelum matahari terbenam. Kalian tidak perlu memusingkan hal lainnya.” Sara menarik tangan Lea untuk segera masuk ke dalam gua. “Ayo, Lea. Semakin lama kita ada di sini, kita akan semakin kehilangan waktu. Ada banyak hal yang harus dibicarakan dengan mereka.”
“Mereka?” tanya Reita penasaran, “apa kalian ingin menemui seseorang di sana?”
“Tidak ada pertanyaan lagi. Perjanjiannya adalah kalian hanya menemani kami sampai ke sini. Tidak ada pertanyaan, tidak boleh ada yang mengikuti ataupun melarang kami masuk. Paham?” Sara menatap tajam kedua pengawalnya. “Ayo, Lea!”
Lea mengikuti Sara tanpa disuruh, akan tetapi, gerakannya tertahan oleh sebuh tangan yang melingkari pergelangan tangannya. Tangan Raimond. “Raimond!” Sara mulai habis kesabaran. Seperti dugaannya, keberadaan Raimond dan Reita menghambat pergerakan mereka. Dan Lea sama sekali tidak membantu. Ia bukannya mencoba melepaskan diri dari genggaman Raimond tapi malah menatap putra Paman Ieru itu.
Lea melepaskan tangannya yang digenggam Sara dan meletakkan tangannya itu di atas tangan Raimond. “Jangan khawatir. Siapapun yang kami temui, mereka tidak berbahaya. Kami aman bersama mereka.”
“Ya! Jauh lebih aman daripada bersama dengan kalian!” sahut Sara tidak sabar.
“Kami akan kembali, Rai. Sebelum matahari tenggelam. Dan kami sangat aman. Percayalah pada kami.”
Keduanya saling berpandangan selama beberapa saat dan tidak ada satupun yang berbicara. Sara mulai mengetuk-ngetukkan kakinya dengan tidak sabar hingga akhirnya Raimond melepaskan genggamannya pada tangan Lea dan membiarkan kedua putri itu memasuki gua yang gelap itu.
“Sebenarnya apa yang sedang kau lakukan, Rai?” tanya Reita sambil duduk di tempat yang tadi Sara duduki.
“Aku sendiri tidak yakin. Hanya saja…”
“Apa?” tanya Reita bingung, “sesuai dengan kesepakatan yang kau buat, kita harus menunggu di sini. Coba kau tadi membuat kesepakatan di mana kita bisa ikut bersama mereka. Itu akan lebih baik, Rai.”
Raimond ikut duduk di sebelah Reita. Menunduk sambil merenungkan tindakannya tadi. Saat melihat kedua putri itu akan pergi, ia merasa harus menahan mereka masuk. Entah apa yang mendorongnya berbuat demikian. Hanya saja ia tidak bisa melepaskan Lea dari pengawasannya. Raimond mendengus. Mana mungkin ia menceritakan hal ini pada Reita. Tidak mungkin, pikir Raimond lagi.
“Seharusnya kita tidak membawa mereka! Aku tahu kalau mereka akan lebih merepotkan daripada Paman Ieru dan sepuluh pengawal.”
“Sara, Paman Ieru tidak merepotkan kita. Ia malah sangat baik pada kita. Ia percaya pada kita dan menunggu kita sampai kembali.”
“Oke. Paman Ieru tidak merepotkan, tapi anaknya sangat merepotkan! Terlebih orang yang bernama Reita itu! Ia benar-benar menguji batas kesabaranku.”
“Kupikir Raimond tidak merepotkan. Reita juga baik. Mereka kan hanya ingin memastikan keselamatan kita. Itu kan sudah tugas mereka.”
“Kau selalu menganggap semua orang di dunia ini adalah orang baik. Berpikirlah realistis, Lea!”
Lea mendengus mendengar kata-kata Sara. Sudah beberapa kali mereka berdebat mengenai kedua pengawal baru mereka. Sara menganggap bahwa mereka tidak membutuhkan pengawal. Paman Ieru dan tiga panglima terpilih sudah cukup untuk menjamin keselamatan mereka. Apalagi Sara sudah ahli menggunakan pedang dan Lea juga sudah menguasai ilmu-ilmu pengobatan. Mereka bisa menjaga diri mereka sendiri. Tidak perlu lagi membawa-bawa pengawal.
“Anggap saja mereka sebagai teman baru kita, Sara,” kata Lea waktu itu dan Sara menolak ide itu mentah-mentah.
“Jalan mana?” tanya Sara saat mereka ada di persimpangan dua arah.
Lea berpikir sejenak, mengamati kedua jalan itu. “Kanan,” katanya yakin.
“Kanan,” Sara menyetujui.
Kembali pada gua yang sedang mereka masuki sekarang. Gua ini memang bisa membuat orang tersesat. Setiap harinya jalan-jalan yang ada dalam gua ini bisa berubah. Bahkan jika dimungkinkan, jalan-jalan ini bisa berubah setiap waktu, hanya untuk memastikan bahwa orang-orang yang masuk ke sini tidak akan membahayakan sesuatu yang ada di sana. Sesuatu yang akan ditemui Sara dan Lea dengan membawa pengawal baru mereka.
Semenjak Sara dan Lea pertama kali menemukan gua ini delapan tahun yang lalu, mereka sudah bisa merasakan bahwa gua ini dipenuhi dengan sebuah kekuatan yang kuat. Kekuatan yang dari datang dari zaman dulu. Kekuatan kuno yang sakral. Mereka tidak tahu apakah orang lain bisa merasakannya, akan tetapi Sara dan Lea merasakan kekuatan itu dan merasa terpanggil karenanya. Oleh sebab itulah, mereka berjalan memasuki gua ini dan sampai saat ini, hanya mereka yang bisa.
Para tetua istana mengatakan bahwa kemungkinan orang memasuki gua itu dan tetap selamat sangat kecil. Mereka menduga bahwa Sara dan Lea memiliki kemampuan khusus yang tidak dimiliki oleh orang lain. Hubungan keduanya yang merupakan anak kembar, mungkin membantu untuk menemukan jalan keluar dari gua itu. Tidak hanya jalan keluar, tetapi juga jalan masuk menuju rahasia yang disimpan oleh gua itu selama ratusan tahun saat kekuatan kuno merupakan kekuatan yang dahsyat.
“Yang tengah?”
“Tengah,” Lea menyetujui pilihan Sara saat mereka sampai di persimpangan tiga jalan. Ketiga jalan itu menuju gua yang berbeda-beda dan setelah mengamati lebih lanjut, mereka memutuskan untuk mengambil jalan tengah dengan mulut gua yang lebih kecil dibandingkan mulut gua lainnya.
Keduanya maemasuki mulut gua itu secara bergantian. Lea masuk terlebih dahulu diikuti oleh Sara. Di depan mereka kini terdapat pintu batu yang amat besar. Di kedua daun pintu itu terdapat pahatan-pahatan yang merupakan berbagai macam susunan huruf kuno. Sara dan Lea tidak tahu apa artinya dan nampaknya mereka tidak ingin mencari tahu. Beberapa orang menyebutnya sebagai pintu dimensi. Pintu yang menghubungkan dimensi yang satu dengan dimensi yang lain. Pintu yang dikabarkan sudah lama hilang. Pintu yang akan disalahgunakan oleh orang-orang yang memiliki hati jahat. Oleh karena itulah, tidak ada di antara Sara maupun Lea yang memberitahukan keberadaan pintu ini pada orang lain. Bahkan keluarga kerajaan sendiri.
“Akhirnya kita menemukan pintu ini juga. Kurasa jalan kali ini lebih panjang daripada yang biasanya,” sahut Lea.
“Seperti biasa mereka memutar-mutar jalannya sehingga membuat orang lain bingung kan?”
“Khas mereka.” Lea mengiyakan.
“Baiklah. Ayo kita segera buka pintu ini dan bertemu mereka.”
Lea mengangguk dan bersamaan dengan Sara, ia menempatkan salah satu tangannya di salah satu pahatan yang ada di daun pintu itu. Sara meletakkan tangannya di daun pintu yang lain. Keduanya memejamkan mata memanggil nama-nama yang ada di dalam kepala mereka.
“Archy.”
“Croon.”
Sedetik kemudian, pintu itu bergetar. Sara dan Lea melepaskan tangannya dari sana dan menunggu pintu itu membuka. Hembusan angin menerpa tubuh mereka saat pintu terbuka sepenuhnya, menampakan sebuah medan energi. Medan yang harus mereka lalui jika mereka ingin segera menyelesaikan urusan mereka. Lea mengambil uluran tangan Sara dengan segera dan keduanya segera melompat ke dalam medan energi itu.
Sensasi yang memabukkan pun dimulai. Putaran demi putaran, hentakan, tekanan tiada henti sampai akhirnya mereka melihat seberkas cahaya di ujung medan energi itu. Mereka membiarkan diri mereka terhanyut oleh medan energi itu. Saat berkas cahaya semakin terang dan terasa membutakan, kaki mereka pun menginjak tanah kembali. Perlahan keduanya membuka mata dan pemandangan yang terhampar di depan mereka tidak pernah berhenti membuat mereka kagum. Dimensi Netral.
Sebuah padang luas dengan langit biru yang sangat luas membentang di depan mereka. Di sekitar mereka tumbuh berbagai macam bunga yang membuat udara terasa harum dan menyenangkan. Langit yang biru namun nyaris gelap itu tidak dipenuhi oleh awan. Pertama kali datang ke sini, Sara dan Lea tidak tahu harus mengatakan apa karena di langit itu terdapat matahari dan tiga buah bulan. Dua bulan berukuran besar dan satu bulan kecil yang berpindah secara perlahan. Keberadaan matahari dan bulan itu membuat langitnya terang sekaligus gelap. Perpaduan yang sangat menakjubkan, belum lagi bintang-bintang yang bertaburan membuat Sara dan Lea seringkali menahan nafas saat mereka kembali lagi ke sini.
Belum selesai Sara dan Lea memandangi kemegahan pemandangan itu, dari langit di kejauhan, mereka bisa melihat sesuatu terbang ke arah mereka. Dari jarak mereka sekarang, keduanya hanya melihat sebuah titik hitam, namun saat sesuatu itu semakin dekat, tampaklah dua sosok yang sanggup membuat semua orang tercekat saat melihatnya. Kedua sosok itu semakin menampakkan bentuknya saat mereka terbang makin dekat. Singa besar bersayap yang disebut Rebelion dalam legenda kerajaan mereka.
Salah satu Rebelion itu mempunyai bulu berwarna coklat gelap dan surai lebat yang warnanya bahkan menyerupai warna tanah gembur. Matanya memancarkan kekuatan dan keperkasaan. Postur tubuhnya yang begitu kekar sangat mendukung kesan itu. Sayap yang menempel di punggungnya tampak megah dan kuat. Rebelion yang lain berbulu putih menawan dengan surai yang berwarna abu-abu cerah. Meski tubuh rebelion ini lebih kecil daripada rebelion yang lain, tetap saja ia terlihat dua sampai tiga kali lebih besar daripada singa normal. Matanya berwarna biru seperti langit yang ada di hadapan mereka. Ia tidak menunjukkan kekuatan seperti rebelion yang lain. Kesan kedua putri itu saat mereka pertama kali melihatnya adalah kebijaksanaan, ketenangan, dan wibawa. Lea dan Sara menganggap rebelion ini adalah rebelion yang sangat tampan.
Kedua rebelion jantan itu terbang rendah di dekat Sara dan Lea sebelum akhirnya mereka melayang turun. Beban tubuh mereka saat mendarat membuat suara berdebum yang cukup keras. Sepetak bunga-bunga tampak berhamburan akibat kibasan sayap dan beban tubuh mereka. Saat kedua rebelion itu sedang melipat sayap mereka, Sara dan Lea berlari menghampiri mereka. Lea memeluk leher rebelion berwarna putih itu semampu yang dapat dicapai tangannya.
“Croon!!” gumam Lea sambil menyurukkan kepalanya dalam surainya yang lebat. Sebagai balasan akan salamnya, rebelion itu menggeram pelan, lebih terdengar mirip dengkuran daripada geraman.
Kau memelukku terlalu erat, Nona Manis, suara Croon menggema di dalam benak Lea.
“Aku bahkan tidak bisa memelukmu dengan tanganku. Kau semakin besar, Croon.”
Rebelion itu tertawa pelan dengan suaranya yang dalam. Kaupun tumbuh semakin cantik, Nona. Lea tersenyum mendengar pujian Croon yang tulus.
Sara melompat ke belakang punggung rebelion hitam yang berdiri dengan tegak di atas keempat kakinya dan memeluknya dengan erat.
“Archy!!”
Hati-hati, Nona Muda. Kau hampir melupakan tatakramamu sebagai seorang putri, suara Archy menggema lembut dalam benak Sara.
“Aku semakin sering melakukannya akhir-akhir ini. Aku rindu padamu, Archy. Kau rindu padaku?”
Aku rindu pada sikap urakanmu, Nona. Sara mendengar tawa Archy dalam benaknya. Sara merengut, namun saat Lea ikut tertawa dan suara tawa Croon yang halus bergabung dalam benaknya, Sara ikut tertawa.
Sara membetulkan posisi duduknya sehingga kedua kakinya terlindung dalam surai gelap Archy yang lebat. Meski sedikit tergelitik oleh helai-helai surainya, Sara segera merasa nyaman. Mereka berjalan lebih jauh ke tengah padang.
Jadi, apa yang membawa kalian kemari?
Bukankah, waktu kunjugan kalian masih lama? Apa ayah kalian sedang melunak?
Sara mendengus mendengar perkataan Archy. Ayah tidak akan bersikap lunak pada kami. Tidak setelah peristiwa penculikan itu. Sara menanggapi dalam benaknya.
Archy dan Croon menggeram dengan suara pelan. Lea kembali menyusupkan tangannya ke dalam surai lebat Croon. Croon merendahkan badannya, membiarkan Lea menaiki punggunya seperti Sara.
Kami datang ke sini karena ada hal yang harus kami bicarakan dengan kalian, Lea juga berbicara dalam benaknya.
Saat Sara dan Lea bercakap-cakap dengan Archy dan Croon, mereka tidak harus menggunakan mulut mereka. Rebelion terkenal sebagai mahluk yang malas untuk mengungkapkan hal-hal yang mereka anggap tidak perlu, seperti berbicara. Mereka hanya harus memikirkannya dan membuka benak mereka pada orang yang ingin diajak bicara dan mereka hanya harus mengeluarkan suara di saat-saat penting yang jarang sekali terjadi.
Rebelion adalah mahluk yang tertutup. Jika mereka tidak percaya pada orang yang sedang berbicara pada mereka, maka rebelion tidak akan membuka benak mereka. Mereka akan menutup benak mereka sebisa mungkin dan mengacuhkan siapapun orang itu. Hanya orang-orang tertentu yang bisa bicara dengannya dan kedua putri kembar Kerajaan Fyria mendapatkan kehormatan itu semenjak mereka bisa menemukan jalan menuju pintu dimensi itu.
Lea menggenggam surai Croon lembut saat Croon bersiap-siap untuk terbang. Kepakan sayap kedua rebelion itu kembali membuat bunga-bunga kembali beterbangan. Croon mengepakkan kedua sayapnya, mencoba mengangkat tubuhnya dan Lea yang ada di punggungnya naik ke langit. Archy mengikuti di belakang bersama Sara.
Dan hal apa yang ingin kalian bicarakan sehingga membuat kalian mempercepat kunjungan kalian?
Lea memeluk leher Croon kembali, berhati-hati agar perubahan posisinya tidak membuat dirinya jatuh saat Croon dan Archy terbang di langit yang menakjubkan itu. Ada orang yang melihat rebelion di lahan mereka kemarin. Pagi buta.
Orang bodoh mana yang mengatakan hal itu padamu, Lea? Apakah kau sangat mencemaskan perkataan orang itu sehingga mempercepat kunjungan kalian kemari?
Kalau yang mengatakan hal itu adalah orang bodoh, maka kami tidak akan datang kemari, Archy. Sara memasukkan tangannya ke dalam surai Archy berusaha menemukan kulitnya yang terkubur jauh di dalam surai dan menggaruknya. Archy mengeluarkan desahan senang.
Salah satu dewan penasehat kerajaan, Mentri Fungus yang mengatakannya saat aku sedang ada di perpustakaan.
Apa dia mengatakannya langsung padamu?
Tidak. Ia menceritakannya itu pada Mentri Faron. Untungnya Mentri Faron tidak mempercayai kata-katanya.
Kalau begitu, masalahnya sudah terselesaikan, bukan?
Kami datang ke sini bukan untuk memberitahukan pada kalian apakah Mentri Faron percaya atau tidak, Sara menegakkan duduknya, mencoba merapikan rambutnya yang mulai berantakan, lalu langsung menyerah karena terpaan angin merusaknya dalam sekejap. Kalian tdak mencoba untuk pergi ke mana pun kan?
Archy dan Croon tiba-tiba menukik ke arah bawah, membuat Sara dan Lea harus berpegangan dengan erat pada surai mereka. Kedua rebelion itu melambatkan terbangnya dan jatuh berdebam di dekat sebuah danau di mana di sisi lain danau terdapat sebuah air terjun.
“Archy! Jangan melakukan hal itu lagi secara mendadak. Setidaknya berikan pemberitahuan!”
Dengar, Nona Muda, kami tidak akan membahayakan diri kami sendiri dengan pergi ke dimensi yang tidak aman untuk kami, Archy menggeram pelan saat merendahkan badannya dan membiarkan Sara turun dari punggungnya.
Croon berjalan ke arah Archy setelah menurunkan Lea dari punggungnya. Apa kalian meragukan kami? Apa kalian tidak percaya pada kami, wahai Putri Fyria?
“Tidak! Kami tidak meragukan kalian!” Lea membantah dengan tegas. “Kami hanya khawatir kalian terluka.”
Archy mengaum rendah, menampakkan kegeraman. Surainya tampak berdiri karena rasa gusarnya. Kami tidak semudah itu dilukai.
“Aku tahu. Maafkan aku…” Lea menunduk menyesal. Tahu bahwa ia sudah meremehkan salah satu mahluk kuno yang terhebat. Croon mendekat ke arah Lea dan menyentuhkan hidungnya pada wajah Lea. Lea mengelus wajah Croon lembut, merasakan bulu-bulu yang halus di wajahnya. Mencoba menyerap kenyamanan yang ditawarkan oleh rebelion kesayangannya.
Kau terlalu banyak khawatir, Nona. Jangan biarkan kekhawatiran menyelimutimu.
Aku tahu… aku minta maaf, Croon.
Sara meletakkan sebelah tangannya di balik telinga Archy, menggaruknya perlahan. Emosi Archy kembali mereda dan ia membiarkan dirinya berbaring sementara Sara terus menggaruk belakang telinganya.
Aku tahu kalau kalian sangat kuat, Archy. Aku tahu bahwa tidak ada yang bisa melukai ataupun mengalahkanmu semudah itu, tapi tetap saja kami merasa khawatir. Banyak orang menganggap bahwa keberadaan kalian sudah lama punah, dan seperti yang kita ketahui bahwa selama ini, kalian...
Tidak pernah bertemu dengan rebelion yang lain. Hanya ada aku dan Croon di sini. Ya. Kau benar.
Archy, aku tidak bermaksud membuatmu sedih…
Kau akan melakukannya jika kau berhenti menggaruk belakang telingaku, Nona.
Sara mendengus. Dasar singa besar manja. Archy menggeram rendah, merasa senang Sara kembali menggaruk tempat favoritnya.
Jadi, apakah menurut kalian ada rebelion di luar sana selain kalian? tanya Lea hati-hati.
Kami tidak tahu.
Kalian tidak ingin mencari tahu? Memangnya kalian tidak merasa kesepian?
Kami sudah hidup terlalu lama untuk merasakan kesepian, Nona. Lagipula, tugasku dan Archy di sini untuk menjaga dimensi netral ini. Ini adalah satu-satunya tempat yang masih memiliki kekuatan kuno yang besar. Aku dan Archy menjaganya agar tidak ada lagi orang-orang yang berniat menyalahgunakan tempat ini.
Kalian tidak khawatir kalau kami akan menyalahgunakannya? tanya Sara jahil.
Croon mendengus lalu suara yang tawa yang dalam keluar dari tenggorokkannya. Tidak. Orang yang ingin menyalahgunakan tempat ini tidak akan menceritakan niatnya seperti ini, Nona. Croon kembali tertawa dan tawanya itu memicu tawa Archy yamg sekarang menutup mulut dengan kedua cakar depannya, berusaha untuk menyembunyikan tawanya.
“Kalian memang benar-benar pasangan yang kompak! Tertawa saja sampai kalian puas. Hmph!”
“Apa kalian percaya pada kami hanya berdasarkan itu? Kami mungkin menutupi niat jahat kami,” Lea bertanya lagi.
Tidak. Kami tidak menilai kalian hanya dari sana, Nona. Jalan itu. jalan menuju pintu dimensi itu juga merupakan ujian buat kalian. Hanya orang-orang yang mempunyai niat baik yang bisa menemukan jalan ke sini. Meskipun mereka tidak bisa melakukannya secepat kalian.
Ah! Aku ingin menanyakan soal itu juga. Dari dulu kalian mengatakan kalau kami bisa menemukan pintu dimensi itu karena kami adalah anak kembar. Apa maksudnya itu, Croon? Aku ingin tahu sehingga aku bisa menjelaskan pada Raimond yang menyebalkan dan Reita si tukang bantah itu!
Sara, tidak baik mencela orang lain, Lea memperingatkan.
Siapa Raimond dan Reita?
Pengawal baru kami. Mereka yang mengantarkan kami sampai ke sini, dan kau tahu, Croon? Ayah kami mempercayai mereka!! Padahal dia tidak pernah berlaku seperti itu pada Paman Ieru yang tidak lain adalah ayah mereka!
Jadi, mereka adalah anak dari panglima tertinggi kalian?
Ya. Sudahlah, Croon. Tidak perlu membahas mereka. jadi, maukah kau menjelaskan pengaruh kami sebagai anak kembar dengan ketepatan kami menebak jalan yang benar?
Baiklah. Jadi, Nona-nona, hubungan kalian sebagai anak kembar membuat kalian saling melengkapi.
Saling melengkapi bagaimana? tanya Sara tidak mengerti.
Kalian akan melihat setiap hal dari sisi yang berbeda. Hal itulah yang membantu kalian untuk menebak jalan yang tepat. Entah bagaimana caranya, aku pun tidak tahu. Akan tetapi, karunia itu memang sudah diberikan kepada anak-anak seperti kalian. Bersama, kalian bisa, secara tidak langsung tentunya, melihat ataupun merasakan jebakan-jebakan yang ada di jalan yang salah dan akhirnya kalian pun sampai di pintu dimensi itu. Mengerti?
Hmmm… sepertinya aku bisa memahaminya… Lea mengangguk-anggukkan kepalanya.
Aku tidak.
Aku sendiri tidak begitu mengerti soal ini. Akan tetapi, orang-orang seperti kalian sangat jarang ada di dimensi kalian sehingga hanya segelintir orang yang mendapat kemampuan itu. Intinya adalah, kalian sangat diberkahi.
Aku masih tidak mengerti…
Croon mengerang dalam benaknya, menyerah untuk menjelaskan. Archy, lakukan sesuatu untuk membantu Nona ini.
Tidak ada sahutan. Sara melihat ke arah Archy yang ada di sebelahnya, menunggu penjelasan. Archy masih berbaring dengan tenang.
Archy?
Suasana hening. Archy tidak menyahuti panggilan Sara dalam benaknya. Sara memperhatikan rebelion itu dengan seksama, ia menajamkan pendengarannya dan akhirnya menemukan suara dengkuran halus.
“Arghhhh… dia tertidur! Bisa-bisanya!” seru Sara tidak percaya.
Lea tertawa melihat Archy yang jatuh tertidur dengan cepat hanya karena Sara menggaruk bagian sensitifnya.
Tidak bisa dipercaya. Kalau orang-orang yang ingin mencelakai kami mengetahui tentang hal ini, maka ia akan dikalahkan dengan mudah. Croon menggeleng-gelengkan kepalanya. Dasar singa besar manja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar