Para dayang sedang menata meja untuk acara bersantai Sara dan Lea pagi ini. Annie sendiri yang mengawasi pekerjaan para dayang. Tidak lama lagi kedua anak asuhnya akan datang, segera setelah mereka menyelesaikan pelajaran politik kerajaan dengan guru mereka. Annie akan tersenyum jika mengingat keluhan kedua putri kembar itu. Lea yang lebih tertarik pada tanaman obat dan Sara yang lebih memilih berlatih memanah seharian penuh akan berusaha sekuat tenaga untuk menyimak pelajaran mereka. Meski keduanya sangat membenci politik kerajaan yang terkenal membingungkan, Sara dan Lea sangat peduli pada rakyat Fyria. Mereka akan melakukan apa saja agar rakyat Fyria aman, makmur, dan damai.
Saat para dayang selesai menata meja, kedua putri itu memasuki ruangan bersama kedua pengawal mereka yang baru, Raimond dan Reita. Annie cukup senang dengan keputusan sang raja untuk mencarikan pengawal bagi kedua putrinya. Setidaknya kehadiran Raimond dan Reita akan mengurangi sedikit beban pekerjaan Annie yang sekarang tidak lagi muda.
“Ohhhh… Aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi…” Sara yang mengeluh pertama kali.
“Sampai sekarang aku masih tidak bisa membayangkan pekerjaan Ayah dan segala urusan politiknya.” Lea terduduk lemas di kursinya.
“Sebaiknya kau saja yang mengambil alih kepemimpinan ayah, Lea.”
“Tidak. Kau anak pertama, Sara. Tentu saja aku tidak akan merebut hak itu darimu.” Lea tertawa dengan licik, menyadari kembali posisinya yang menguntungkan sebagai anak kedua. Sara mengerang kesal. Sekarang, ia sangat membenci sebutan sebagai anak tertua itu.
“Sudahlah. Tidak perlu kalian pikrkan lagi kan? Pelajarannya sudah selesai.”
“Annie benar. Setidaknya, kita tidak harus memikirkan pelajaran ini sampai minggu depan,” kata Lea yang mulai rileks.
“Kuharap tidak akan ada yang menyebut soal politik kerajaan sampai minggu depan,” Sara membalas sambil membetulkan posisi duduknya.
Annie tersenyum melihat tingkah kedua anak asuhnya itu. “Baiklah, semuanya sudah aku siapkan. Aku akan kembali lagi nanti. Nikmatilah waktu santai kalian.”
“Kau tidak ikut bersantai, Annie?”
Annie menggeleng menjawab pertanyaan Sara. “Masih banyak yang harus kulakukan. Untuk kali ini aku tidak ikut. Sampai nanti, ya.”
Sepeninggalan Annie, Lea mulai menuangkan teh ke dalam cangkirnya dan cangkir Sara. Ruangan itu sudah ditata sedemikian rupa sehingga Sara dan Lea tidak harus memikirkan berbagai macam masalah yang bisa membuat mereka stress. Ratu Leira sendiri yang menata ruangan ini untuk kedua putrinya. Terkadang mereka bertiga sering berkumpul di sana hanya sekedar untuk melepas kepenatan dan berbagi cerita.
Sekarang, Lea pun sedang merasakan efek ketenangan dan kenyamanan yang sedang diberikan oleh ruangan itu. Tehnya terasa sangat nikmat dan menenangkan pikirannya. Semua kombinasi itu akan sempurna kalau saja, wajah Sara di depannya tidak cemberut dan ketukan jarinya di meja tidak terdengar begitu mengganggu.
“Sara, ada apa sih denganmu?” Lea meletakkan cangkirnya dengan sebal. “Jangan merusak suasana begitu dong. Kalau kau masih sebal dengan pelajaran tadi, kita kan sudah membahasnya. Kau tidak berniat untuk merusak hari ini lebih jauh kan?”
“Bukan… Bukan soal pelajaran itu.” Sara menunjuk kedua pengawal baru mereka yang berdiri diam di dekar pintu masuk. “Keberadaan mereka itu!” Suasana diam sejenak setelah kata-kata yang diucapkan Sara. Lea melihat ke arah Raimond dan Reita yang jelas-jelas merasa kebingungan dengan ucapan Sara dan ke arah Sara yang masih menunjukkan wajah cemberut.
“Kalau begitu, kami akan berjaga di luar,” kata Raimond sambil mendorong Reita keluar dari ruangan.
“Bukan itu!!” Sara tiba-tiba berteriak.
“Lalu?” Reita menyahut sebal. “Kau ingin kami bagaimana agar tidak mengganggumu, Tuan Putri?”
“Jangan menantangku, Reita.”
“Oh. Apa kau merasa tertantang?”
“Reita.” Raimond berusaha memperingatkan.
“Sudah, sudah… Tidak perlu bertengkar begitu. Maksud Sara tadi bukan menyuruh kalian keluar dari ruangan, tapi meminta kalian bergabung dengan kami di sini.”
“Bergabung?” Raimond bertanya kebingungan.
“Iya kan, Sara?”
“Dengar! Aku tidak suka ada orang yang mengawasi kami saat kami sedang bersantai. Yang namanya saat bersantai itu ya bersantai, jadi kalian tidak perlu mengawal kami di saat seperti ini!” Sara berkata dengan nada kesal, tidak membenarkan perkataan Lea.
“Bagian mana dari kata-kata itu yang menyuruh kami untuk bergabung dalam acara minum teh kalian?” Reita bertanya dengan sinis, kedua tangannya bersedekap di depan dada.
“Sara memang begitu. Dia punya kesulitan mengungkapkan maksudnya pada orang lain.” Lea menengahi.
“Aku tidak seperti itu! Kenapa kau membela dia, Lea? Kau kan saudaraku!”
“Sara, sudahlah… kau kan tidak perlu marah-marah seperti itu. Kau bisa bilang padaku dan aku akan menyampaikan maksudmu pada mereka.”
“Lea!” Sara mengerang frustasi.
“Jadi, kami boleh bergabung?” tanya Raimond lagi, mencoba menyudahi perdebatan itu.
Sara meletakkan kedua tangannya di pinggangnya. Dengan nada suara yang tidak bisa dibilang ramah, ia berkata pada kedua pengawalnya itu. “Kau pikir buat apa Annie menyiapkan hidangan sebanyak ini?”
Raimond melihat ke arah Lea meminta kepastian dan saat saudara Sara itu tersenyum, Raimond baru benar-benar yakin akan perkataan Sara. Kedua pengawal itu mengambil tempat di depan Sara dan Lea. “Rasanya, aku mulai mengerti sikap Tuan Putri Sara,” kata Raimond sambil tersenyum geli sementara Lea menuangkan teh pada cangkir Raimond dan Reita.
“Apa maksudmu berkata seperti itu?” Sara merasa tidak terima. “Dan jangan memanggilku dengan panggilan Tuan Putri! Memangnya kau ini pelayan!”
“Kami pengawal,” Reita membetulkan kata-kata Sara.
“Kau!” Sara menunjuk Reita dengan jarinya, “Kenapa kau selalu membantah kata-kataku!”
“Aku tidak membantah, Tuan Putri. Hanya membenarkan.”
Sara menahan geram melihat sikap Reita yang tenang dalam menghadapinya. Sebisa mungkin Sara berusaha mengendalikan emosinya. “Lupakan panggilan Tuan Putri itu. Aku sudah cukup muak mendengar semua orang memanggil kami dengan Tuan Putri. Kami punya nama!”
“Jadi?” tanya Reita sambil menatap mata Sara.
Sara tertegun. Baru kali ini ada orang lain yang berani menatap langsung ke matanya, selain keluarganya tentu saja. Sudah lama Sara mengharapkan hal ini. Kedudukannya sebagai putri tertua kerajaan Fyria membuatnya begitu dihormati orang-orang, sampai-sampai saat mereka berbicara dengan Sara, mereka semua akan menunduk.
Sara tidak suka dengan hal itu. Sara memang sudah lama menantikan hal ini, tetapi saat Reita memandangnya, jantungnya berdetak begitu cepat. Suaranya mendengung di telinga Sara, sampai-sampai Sara takut orang lain akan mendengarnya.
“Apa maksudmu?” tanya Sara yang tiba-tiba saja tidak mengerti dengan kata yang diucapkan Reita.
“Kami harus memanggil kalian apa?”
“Sudah kukatakan kan!” Sara tiba-tiba saja berubah kesal. Kesal pada dirinya yang tiba-tiba berubah aneh, kesal pada Reita yang seenaknya saja menatap ke arah Sara dan menyesal karena kedua pengawalnya menyetujui ajakan Lea.
“Kau tidak menyebutkannya, Tuan Putri.”
Sara menggebrak meja, membuat teh yang ada dalam cangkir tumpah dan kue-kue yang sudah ditata dengan cantik berjatuhan. “Sara dan Lea! Kalian harus memanggilku Sara dan memanggil dia Lea!” Sara menunjuk Lea yang duduk di sebelahnya.
Reita dan Raimond saling berpandangan sebelum pandangan Reita kembali lagi pada Sara. “Baiklah, kami akan memanggil kalian Sara dan Lea,” kata Reita lagi.
“Bagus!”
“Tidak sulit kan?”
“Apanya?” Sara menatap tidak mengerti ke arah Reita.
“Mengungkapkan maksudmu pada orang lain. Kau hanya harus berbicara dengan lebih jelas, Sara.”
Suara Reita saat memanggil namanya terdengar aneh di telinga Sara. Bukan karena Sara tidak suka dengan panggilan itu, hanya saja… Sara merasa saat Reita memanggilnya, suaranya tidak seperti saat orang-orang lain memanggilnya. Rasanya berbeda.
“Jangan coba-coba mengguruiku, Rei.”
“Tidak,” Reita mengelak, “Mana mungkin aku menggurui Tuan Putri kan?”
“Kalian berjanji untuk tidak menggunakan panggilan itu lagi kan?!”
“Sudahlah, Sara. Tidak perlu bertengkar seperti itu. Aku yakin mereka akan memanggil kita dengan nama kita. Tidak perlu khawatir.” Lea menyeruput tehnya. Sama sekali tidak terganggu dengan perdebatan tidak penting antara Sara dan Reita.
“Lalu, apa yang akan kalian lakukan setelah ini?” tanya Raimond setelah menikmati tehnya. “Kalian masih ada pelajaran?”
“Ya. Pelajaran bebas. Kalian tidak harus mengawal kami setiap saat. Saat kami sedang ada pelajaran bebas, kalian pun punya waktu untuk diri kalian sendiri,” kata Lea.
“Benar. Tidak perlu mengikuti kemana pun kami pergi. Kalian masih bisa bersantai kok.” Sara sudah meredakan emosinya dan sekarang sedang berusaha menikmati waktu santai mereka.
“Kenapa kau yakin sekali kalau semuanya akan baik-baik saja?” tanya Raimond penasaran.
“Karena memang begitu adanya. Aku akan bersama Paman Ieru sampai sore hari nanti, dan Lea akan ada di perpustakaan. Kami akan baik-baik saja.”
“Apa yang kau lakukan dengan ayahku?”
“Hari ini Paman Ieru berjanji untuk melatihku menggunakan busur dan panah bersama Paman Eamer.”
“Kau? Berlatih busur dan panah?” tanya Reita tidak percaya.
Sara mengangguk yakin. Dengan rasa bangga yang tidak ditutupi, Sara meletakkan cangkirnya. “Pedang dan tombak juga. Aku hampir mengalahkan Paman Eamer di latihan kemarin.”
“Yakin? Bukan karena Paman Eamer mengalah padamu, Sara?”
“Jangan meremehkan aku, Reita! Biar begini, aku masih punya kemampuan untuk bertarung!” Emosi Sara kembali. Ia paling tidak suka saat ada orang yang meremehkan dirinya hanya karena statusnya sebagai seorang putri. Sara paling tidak suka saat ada orang yang menyamai dirinya dengan semua putri yang lemah lembut, sopan, dan manis. Sara akan mengangkat pedang jika ia harus turun tangan untuk melindungi rakyatnya. Lea pun memiliki pemikiran yang sama, hanya saja ia melakukannya dalam bidang pengobatan.
“Sudahlah! Sebaiknya aku segera pergi menemui Paman Ieru. Tidak ada gunanya aku terus duduk di sini.”
“Sara,” Lea mencoba menenangkan saudara kembarnya namun Sara sudah keluar dari ruangan. Ia menoleh pada kedua pengawal barunya yang masih duduk terdiam. “Tolong jangan meragukan Sara dalam hal itu. Kami berdua punya alasan melakukan hal ini. Kami… tidak selemah yang kalian kira.” Pandangan Lea berubah serius.
“Maaf… Aku tidak tahu bahwa aku sudah menyinggung hal yang sensitif.” Reita menundukkan kepalanya, jelas-jelas memperlihatkan penyesalan.
“Sudahlah. Kalau kalian memang sudah mengerti.” Lea berdiri dari duduknya dan bersiap-siap pergi dari ruangan. “Aku akan ada di perpustakaan bersama Healist kerajaan. Kita bertemu lagi nanti.”
Sepeninggalan kedua putri itu, Raimod dan Reita masih terdiam. Reita sebenarnya tidak bermaksud meremehkan Sara dan Lea. Hanya saja masa lalunya tidak pernah memberitahukan padanya bahwa seorang putri harus bisa mengangkat senjata. Raimond menepuk bahunya. Reita menoleh dan menatap orang yang sudah ia anggap sebagai saudaranya sendiri itu. “Pergilah temui Sara.”
“Buat apa?”
“Aku rasa kau punya sesuatu untuk dilakukan, Reita. Jangan biarkan masa lalu mempengaruhimu.”
“Aku tidak terpengaruh olah masa lalu, Raimond.”
“Bagus.” Raimond bangkit dari tempat duduknya. “Aku akan pergi ke kandang kuda untuk memeriksa kondisi Javelin dan Bolt. Sampai jumpa, Rei.”
Reita menghela nafas berat saat Raimond meninggalkannya sendirian di ruangan. Masa lalu yang dikatakan Raimond adalah masa lalunya sebelum bertemu dengan Ieru dan Raimond. Masa lalu yang sebenarnya tidak ingin Reita ingat. Namun, mau tidak mau, Reita mengakui hal itu masih mempengaruhinya sampai sekarang. Ia sadar bahwa ia sudah melukai perasaan putri itu. Ia memang keterlaluan tadi.
“Hanya sebentar. Aku akan pergi ke tempat Paman Ieru sebentar saja.”
Reita sampai di lapangan latihan yang terletak di samping istana. Beberapa prajurit sedang berlatih dengan menggunakan pedang, tombak, ataupun busur dan panah. Sebagian lagi sedang membersihkan senjata-senjata mereka. Meski keadaan di sana cukup ramai, Reita bisa menangkap sosok Sara yang sedang berlatih dengan salah satu panglima bawahan Ieru, Eamer. Sara sudah mengganti gaun yang biasa dipakainya dengan pakaian yang cocok untuk latihan. Di tangannya terdapat busur dan panah yang siap ditembakkan. Eamer berdiri di dekatnya, memberikan instruksi atau hanya diam memperhatikan, Reita tidak tahu. Eamer berdiri membelakangi Reita, begitu juga dengan Sara.
“Reita?”
“Oh. Paman.” Reita membungkukkan badannya sopan saat melihat orang yang sudah ia anggap sebagai ayahnya sendiri.
“Sedang apa kau di sini?”
“Tuan putri memberikan waktu kosong untuk kami. Raimond pergi ke kandang untuk memeriksa kondisi Javelin dan Bolt. Aku… tidak tahu apa yang harus kulakukan.”
Ieru tertawa terbahak mendengar perkataan anak angkatnya itu. “Santailah sedikit, Rei. Aku tahu kedua putri itu sulit ditebak.”
“Ya. Terkadang aku tidak tahu harus bagaimana menghadapi mereka,” ia mengakuinya dengan lemas.
“Mereka memang seperti itu. Bahkan Raja dan Ratu sering mengalami hal yang sama denganmu. Seakan-akan mereka berdua punya suatu rahasia dan mereka tidak ingin membaginya dengan yang lain. Lea mempercayai Sara dan Sara mempercayai Lea.”
Reita mengangguk mendengar perkataan Ieru. Ia terdiam sejenak saat matanya menangkap sosok Sara yang sedang berlatih. “Apa tidak apa-apa membiarkan ia melakukan ini?”
“Siapa?” tanya Ieru kebingungan.
“Sara.”
Ieru melihat arah yang sedang dilihat Reita saat ini. Putri sulung Fyria itu sedang mendengarkan instruksi dari Eamer. Meskipun dari jarak yang cukup jauh, Ieru bisa melihat bahwa putri itu sudah basah oleh keringat. “Melakukan apa maksudmu?”
“Semua kegiatan latihan ini. Bukankah dia adalah seorang putri?”
“Tidak ada peraturan yang melarang seorang putri untuk berlatih dengan senjata.”
“Aku tahu. Hanya saja…”
“Kau ingat cerita yang sering kuceritakan padamu dan Raimond?”
Ingatan Reita melayang pada saat sebelum Ieru memintanya dan Raimond untuk menjadi pengawal Sara dan Lea. Ya. Ieru memang sering sekali menceritakan hal itu. Sara dan Lea dulu pernah diculik. Kejadian itu memang sudah lama, namun cukup untuk menggemparkan kerajaan kecil itu. Penculikan itu memakan korban. Emma, pengasuh Sara dan Lea sebelum Annie, dan Danna, keponakan Emma.
“Ya.”
“Peristiwa itu membekas di hati mereka. Tidak ada yang bisa membayangkan dampak yang diakibatkan dari peristiwa itu kecuali mereka. Raja Theo berusaha mati-matian untuk menjaga kedua putrinya setelah kejadian itu.”
“Ya. Dengan pengurungan selama 6 tahun di dalam istana.” Nada suara Reita terdengar sinis.
“Raja Theo melakukan itu karena dia amat menyayangi mereka.”
“Itu namanya pembunuhan secara perlahan.”
“Reita.”
“Maafkan aku,” sahut Reita menyesali kata-katanya. “Sejak kapan ia melakukan hal ini?”
“Tiga tahun yang lalu, atau empat tahun? Entahlah. Aku tidak bisa mengingatnya.”
Reita mengangguk perlahan. Reita tidak bisa menyangkal kalau Sara memang punya kemampuan dalam memegang senjata. Reita sendiri sudah berlatih dengan senjata semenjak ia masih kecil. Sejak ia bertemu dengan orang itu.
“Lho? Sedang apa kau di sini?” suara Sara membuyarkan lamunan Reita. Putri itu sudah mendekat ke arahnya dan Ieru yang sedang menunggu di pinggir lapangan latihan. “Jangan bilang kau berniat mengawalku sampai di sini?” Sara mengerang frustasi.
“Tidak. Aku hanya sedang mengobrol dengan Paman Ieru dan menanyakan padanya bagaimana hasil latihanmu.”
“Buat apa kau menanyakannya? Kau meremehkanku ya?”
“Tidak. Sama sekali tidak. Aku minta maaf atas kata-kataku tadi. tidak seharusnya aku bicara seperti itu.”
Sara terdiam mendengar permohonan maaf Reita. Sikap Reita yang tiba-tiba berubah sopan membuatnya jadi salah tingkah. “Sudahlah! Lupakan saja! Daripada kau menganggur tidak ada kerjaan, lebih baik temani aku berlatih.”
“Yakin kau mau berlatih denganku?”
“Paman Ieru dan Paman Eamer bilang kau ahli menggunakan pedang. Aku tidak punya teman berlatih karena Paman Ieru dan Paman Eamer dipanggil ayah.”
“Lebih baik kau menemani tuan putri, Rei,” kata Ieru.
Reita mengangkat bahunya. Ia tidak punya pilihan lain.
Seperti biasanya, Lea selalu mengambil tempat di dekat jendela yang mengarah ke halaman istana. Cahaya matahari yang masuk melalui jendela membuatnya merasa nyaman ketika sedang membaca buku. Walaupun perpustakaan istana sangat penuh dengan buku-buku, suasananya tidak pernah suram dan tidak ada bau apak. Lea menopangkan dagu dengan sebelah tangannya sambil membaca buku yang ada di depannya. Jika Sara melihat isi buku yang sekarang sedang dibaca Lea, ia pasti mengerang kesal. Semua nama-nama tanaman yang aneh juga segala penjelasannya yang sangat panjang akan membuat kepala Sara sakit dalam sekejap, walaupun ada gambar-gambar yang menurut Lea akan membantu pemahamannya.
Sudah dua jam Lea menekuni buku yang ada di hadapannya dan ia sangat menikmati waktunya. Semua penjelasan yang tadi dibacanya dapat ia mengerti dengan baik. Lea senang mempelajari sesuatu yang baru, apalagi yang berhubungan dengan ilmu pengobatan. Rasanya menyenangkan saat ia bisa tahu hal-hal yang orang lain bahkan tidak mengerti. Saat ia ingin mengistirahatkan matanya dari banyaknya tulisan, saat itulah ia melihat sosok Raimond yang terlihat di luar jendela. Putra Paman Ieru itu memiliki dedikasi yang tinggi dan kemampuan yang memadai untuk menjadi seorang pengawal. Mungkin karena ayahnya adalah panglima tertinggi kerajaan.
Selain itu, Lea juga menyadari bahwa Raimond adalah orang yang baik hati. Ia menganggap Reita sebagai adiknya sendiri walaupun mereka tidak ada hubungan darah sama sekali. Ia juga dapat diandalkan ketika keadaan membuat semua orang lain panik. Ia bisa berpikir dengan tenang dan menemukan jalan keluar yang terbaik. Meskipun baru sebentar Raimond dan Reita bekerja sebagai pengawal pribadinya dan Sara, Lea bersyukur bahwa mereka yang dipilih oleh ayahnya.
Tanpa sadar, Lea tersenyum kecil saat memikirkan kedua pengawal barunya itu. Saat sosok Raimond yang dilihatnya menghilang bersama kedua kuda yang sedang dituntunnya, Lea menutup bukunya. Ia merenggangkan kedua tangannya, mengembalikan posisi ototnya yang mulai kaku karena duduk selama dua jam sambil membaca. Ia berdiri, membereskan buku-buku yang tadi dibacanya dan berjalan menuju rak yang berderet panjang. Ia menelusuri susunan buku yang ada di dalam rak sambil meletakkan buku-buku yang tadi diambilnya ke dalam rak.
“Dengar, aku ingin menceritakan sesuatu padamu,” kata seseorang dengan suara sepelan mungkin. Lea tidak bermaksud untuk menguping, akan tetapi, Mentri Fungus, salah satu dewan penasehat kerajaan tepat berada di seberang rak bukunya. Deretan buku-buku yang begitu banyak menghalangi pandangannya sehingga Mentri Fungus tidak tahu bahwa Lea ada di sana.
Mentri Fungus mulai berbicara lagi, “Aku melihat ada mahluk aneh masuk ke peternakanku tadi pagi-pagi sekali.”
“Mahluk aneh apa?” tanya Mentri Faron.
“Kau tidak akan percaya jika aku mengatakannya. Aku melihat singa bersayap sedang menggigit salah satu ternakku. Saat itu aku hanya bisa tertegun, namun saat aku bergerak mendekatinya, singa itu menoleh dan langsung mengepakkan sayapnya dan terbang begitu saja.”
“Singa bersayap?” seru Mentri Faron tidak percaya. Hal yang sama terjadi pada Lea. Ia tdak sadar bahwa ia sedang menahan nafasnya, menunggu kelanjutan cerita itu.
“Kau tidak percaya kan?”
“Mana mungkin! Mahluk itu dikabarkan sudah mati beratus-ratus tahun yang lalu. Itu artinya ia sudah punah! TIdak mungkin ia ada di sini!”
“Awalnya aku juga tidak percaya. Semenjak aku kecil, orangtuaku selalu menceritakan kisah tentang singa bersayap itu. Mahluk agung namun ditakuti. Keberadaannya yang berkekuatan besar mengundang nafsu banyak orang untuk memilikinya, tapi karena itulah muncul pertempuran dahsyat di antara mereka.”
“Ya. Semenjak itu, Rebelion, begitulah mereka menyebutnya, tidak ada lagi di dunia ini. Mereka sudah musnah akibat ketamakan manusia. Bahkan aku juga mendengar kabar kalau mereka sangat membenci Rebelion karena akibat pertempuran itu, banyak manusia yang menjadi korban.”
“Tapi aku sungguh-sungguh melihatnya! Ia ada dan nyata!”
“Benarkah? Kau bilang melihatnya di waktu pagi saat hari masih gelap. Mungkin yang kau lihat adalah mahluk lain.”
“Tapi…”
“Dengar! Rebelion sudah tidak ada. Mahluk itu sudah punah. Jangan sampai ada yang mendengar pembicaraan kita mengenai hal ini.”
“Aku bersumpah kalau yang aku lihat adalah nyata.”
“Sudahlah!”
Suara kedua mentri itu menjauh beberapa saat kemudian. Lea masih tidak bergerak sampai mereka sudah keluar dari perpustakaan. Ia bahkan baru bisa bernafas lega saat yakin tidak ada orang lain yang tahu soal keberadaannya di sana. Jantungnya berdebar begitu keras sampai-sampai ia takut orang lain akan mendengarnya. Setelah meredakan kekagetannya, Lea pun berlari keluar dari perpustakaan. Yang ada di pikirannya sekarang adalah menemui Sara secepat yang ia bisa.
Lea menemukan Sara di lapangan tempat ia biasa berlatih. Di dekatnya ada Reita dan Raimond yang baru saja bergabung. Sara masih nampak kelelahan dan berkeringat sehabis berlatih.
”Sara.”
“Hai, Lea! Kau sudah selesai belajar?” tanya Sara sambil menyeka keringatnya.
“Sara. Aku harus bicara padamu,” kata Lea tidak menjawab pertanyaan Sara.
Sara mengangguk singkat lalu menunggu Lea berbicara. “Maksudku, hanya kita berdua,” Lea mengungkapkan maksudnya.
Sara menatap Lea kebingungan, namun saat melihat sinar mata Lea, Sara menyadari ada hal penting yang hanya bisa dibicarakan oleh mereka berdua.
“Baiklah.”
Tanpa menghiraukan keberadaan kedua pengawalnya, Sara dan Lea menyingkir ke tempat yang agak sepi dan jelas di luar jangkauan pendengaran Raimond dan Reita.
“Jadi?”
“Saat aku di perpustakaan aku mendengar Mentri Fungus bercerita pada Mentri Faron bahwa ia melihat mahluk aneh pagi-pagi tadi di peternakannya.” Lea bisa melihat perubahan wajah Sara setelah mendengar penjelasan singkatnya. “Singa bersayap,” lanjut Lea lagi.
“Tidak.” Sara menggeleng tidak percaya. Lea bersyukur mereka adalah saudara kembar. Ia tidak perlu menceritakan panjang lebar karena Sara seakan sudah bisa membaca pikirannya.
“Aku juga tidak ingin percaya, tapi…” Lea terlihat ragu saat mengatakannya, “Kurasa kita harus menemui mereka besok.”
“Besok? Tapi seharusnya kita pergi ke sana minggu depan. Jika kita pergi besok, maka ayah akan mengerahkan pengawal untuk mengikuti kita pergi. Kita akan melanggar perjanjian dengan ayah.”
“Aku tahu itu, tapi aku harus memastikannya, Sara. Kita harus menemui mereka.”
“Aku tahu. Aku juga merasa kalau kita harus menemui mereka. Aku tidak ingin kejadian seperti ini terulang lagi.” Sara menggigit ujung jarinya. Ini kebiasaan buruknya kalau ia sedang gelisah. “Tapi bagaimana caranya?”
Keduanya terdiam, mencoba memikirkan jalan keluarnya. “Lea, kau yakin kalau yang dilihat orang itu adalah Rebelion?” tanya Sara lagi.
“Tidak. Akan tetapi, semakin kupirkan, hal itu semakin mungkin, Sara.”
Sara menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan kesal. Kenapa di saat seperti ini muncul masalah?
“Sara, bagaimana kalau kita meminta tolong pada Raimond dan Reita?”
“Mereka? Apa kau yakin? Keberadaan mereka bahkan bisa lebih parah daripada 10 orang pengawal. Mereka pengawal pribadi kita, Lea.”
“Setidaknya kita bisa membuat perjanjian dengan mereka,” Lea memberi usul.
“Perjanjian apa?” tanya suara di belakang mereka, membuat keduanya langsung berputar.
“Se… sejak kapan kalian ada di belakang kami?” tanya Sara kaget.
“Kalian tidak mendengarkan pembicaraan kami tadi kan?” Lea ikut menimpali.
“Tenanglah,” sahut Raimond, “Kami baru saja datang dan tidak mendengar apa-apa.”
“Lagipula, kenapa kalian terlihat panik sekali? Apakah tidak ada orang lain yang boleh mendengarnya?” tanya Reita.
“Kalau kalian boleh mendengar pembicaraan kami, maka kami tidak akan menjauh dari kalian saat kami berbicara.” Sara menyahut dengan ketus.
“Sudah, sudah, jangan berdebat lagi,” Raimond berusaha menenangkan keadaan yang mulai memanas. “Jadi, kalian ingin mengadakan perjanjian? Dengan siapa?”
Lea dan Sara kembali berpandangan. Dalam beberapa detik, mereka seakan saling membuat kesepakatan. Setelah itu, keduanya langsung menatap ke arah Raimond dan Reita dengan pandangan serius. Kali ini, Lea yang bertindak sebagai juru bicara.
“Kami butuh bantuan kalian.” Lea memulai dengan hati-hati, “Besok kami harus pergi ke suatu tempat dan kami butuh kalian untuk mengawal kami ke sana.”
“Bukankah itu sudah tugas kami untuk menjaga kalian?” tanya Raimond tidak mengerti, “Tentu saja kami akan menemani kalian. Kalian tidak perlu meminta tolong seperti itu kan?”
“Memangnya kalian ingin pergi ke mana?” tanya Reita.
“Ke sebuah gua yang ada di dekat perbatasan Hutan Tertidur,” jawab Sara.
“Bukankah kalian dilarang untuk pergi ke sana?”
“Memang. Tapi, ayah memberikan pengecualian kepada kami. Dua kali dalam sebulan kami diperbolehkan pergi ke sana. Berdasarkan perjanjian yang sudah kami buat dengan ayah, kami baru akan pergi ke sana minggu depan, tapi ada hal penting yang harus kami lakukan besok dan kami harus segera ke sana.”
“Dan apa yang akan kalian lakukan di sana?” tanya Reita penuh selidik.
“Kalian tidak perlu tahu,” jawab Sara langsung.
“Kenapa?”
“Karena tugas kalian hanya mengawal kami sampai ke sana, bukan untuk mencari tahu apa yang akan kami lakukan di sana.”
“Selain mengawal kalian, tugas kami yang lain adalah memastikan keselamatan kalian,” Reita menyahut dengan tajam. “Bagaimana kami bisa melakukan hal itu jika kalian melakukan hal-hal yang dapat membahayakan diri kalian sendiri?”
“Kalau begitu, kalian bisa tenang karena kami akan baik-baik saja di sana.”
Raimond dan Reita menatap kedua putri itu dengan pandangan tidak mengerti. Lagi-lagi mereka menunjukkan perilaku yang tidak mungkin bisa dimengerti oleh orang lain.
“Bagaimana? Kalian bisa mengantar kami ke sana?” tanya Lea lagi.
“Dan kalau kami tidak mau?” Raimond bertanya dengan hati-hati.
“Tidak apa,” Sara menjawab singkat. “Kami bisa pergi ke sana sendirian. Tanpa kalian ataupun pengawal yang diutus ayah.”
Reita menggeleng cepat. “Tidak mungkin.”
“Silahkan saja kalau kalian tidak percaya. Terserah kalian mau tidak tidur semalaman berjaga di depan pintu kamar kami atau cara apapun yang kalian lakukan untuk tetap menjaga kami. Yang pasti, kami akan pergi ke sana besok. Dengan atau tanpa kalian.” Lea tampak serius saat mengatakannya, membuat kedua pengawalnya terdiam akibat perubahan sifatnya.
“Sudahlah, Lea. Mereka tidak mau membuat perjanjian. Aku sudah mengatakannya padamu.”
“Kau benar, Sara. Sebaiknya kita segera pergi. Aku ingin beristirahat dengan cukup malam ini. Terserah saja jka mereka tidak tidur malam ini. Akan lebih mudah untuk menyingkirkan mereka jika mereka kelelahan kan?”
“Benar. Hanya dengan satu pukulan mereka bisa disingkirkan.”
Lea dan Sara menatap Raimond dan Reita dengan sadis. “Baiklah… Kami akan mengantar kalian ke sana,” jawab Raimond.
“Bagus.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar