Lea segera berjalan memasuki ruangan di mana sumber keributan itu berasal. Reita sudah berada di ruangan itu, membantu menenangkan kumpulan orang-orang yang terus berteriak.
“Reita, ada apa ini?” tanya Lea cemas, ia tidak pernah melihat orang seribut ini.
“Mereka meminta pertolongan untuk menyelesaikan permasalahan mereka. Aku sudah mengatakan kalau Raja Theo sedang tidak ada di tempat, begitu juga dengan Sara. Namun mereka terus menerus memaksa masuk kemari.”
Lea mengangguk mengerti. Rakyat Fyria kerap kali datang ke istana untuk meminta pertolongan dalam menyelesaikan masalah mereka. Biasanya, Sang Raja sendiri yang turun tangan atau Sara yang akan mengambil alih jika Raja Theo tidak ada di tempat. Kali ini, keduanya tidak ada di istana. Sara sedang pergi ke Bairo sedangkan Raja Theo sedang ada rapat penting dengan para tetua dan Ratu Leira juga.
“Baiklah, biarkan mereka menghadapku. Akan kudengarkan permasalahan mereka dan akan kulakukan sesuatu untuk menyelesaikannya.”
Reita mengangguk menanggapi perkataan Lea. Lea bergegas pergi ke ruang singgasana di mana rakyat biasa mengahadap ayahnya ataupun saudara kembarnya. Beberapa saat kemudian, orang-orang itu memasuki ruangan.
“Selamat datang. Kalian bisa menceritakan masalah kalian padaku, dan aku berjanji akan berusaha semaksimal mungkin untuk menolong kalian,” sambut Lea.
Salah satu orang maju, nampaknya ia menjadi juru bicara kelompok itu. “Nama saya Xavier, Yang Mulia.” Lelaki itu membungkuk dengan sopan.
“Kami adalah kelompok petani yang berasal dari daerah luar perbatasan. Sudah beberapa minggu terakhir ini, kami mengalami gagal panen. Kami sudah mengirim surat kepada kerajaan, namun kami tidak mendapat tanggapan apa-apa. Kegagalan semakin meluas dan keluarga kami mulai kelaparan. Tidak ada lagi makanan yang bisa di makan dan tidak ada hasil panen untuk dijual. Kami tidak memiliki uang untuk membeli barang-barang dan makanan yang kami butuhkan untuk bertahan hidup. Selain itu, untuk mendapatkan kebutuhan itu kami harus berpergian selama 2 hari untuk bisa bertemu dengan pedagang terdekat. Kami sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi, Yang Mulia.” Lelaki itu berhenti bicara, nafasnya terdengar lebih cepat, dan raut mukanya penuh dengan kesedihan.
Seorang wanita maju dan berdiri di sebelah Xavier, Lea menebak dia adalah istri Xavier. “Tolong kami, Yang Mulia. Anak-anak kami mulai menangis karena kelaparan dan kami tidak tahu harus melakukan apa. Tanah kami tidak bisa ditanami lagi. Tolong kami, Yang Mulia...”
“Reita, tolong panggilkan Mentri Faron.”
Tanpa menjawab, Reita segera pergi ke luar ruangan dan melaksanakan perintah Lea. “Namamu, adalah...”
“Tania, Yang Mulia... Xavier adalah suami saya...” Tania mulai menangis. “Maafkan saya karena mengangis seperti ini, Yang Mulia. Tapi saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan untuk menghentikan tangisan anak-anak kami yang kelaparan...”
Lea merasa terenyuh. Ia turun dari singgasananya, menghampiri wanita itu dan mengulurkan sapu tangannya pada Tania. Tania menerima saputangan yang diberikan Lea dengan tangan gemetar. “Tenanglah... Menjaga kesejahteraan rakyat adalah tanggung jawab kerajaan. Aku akan melakukan apapun untuk membantu kalian keluar dari masalah ini.”
Tania menatap Lea dengan wajah yang bersimbah air mata dan mengangguk sambil berusaha tersenyum di sela-sela tangisannya. “Terima kasih, Yang Mulia... Terima kasih banyak...”
“Yang Mulia memanggil saya?” suara Mentri Faron terdengar memenuhi ruangan.
“Ya.” Lea menghampiri Mentri Faron. “Mereka mengalami gagal panen di daerah perbatasan beberapa minggu terakhir ini. Mereka pun sudah mengirimkan surat pemberitahuan ke kerajaan. Aku bertanya-tanya kenapa kita belum melakukan sesuatu untuk membantu mereka?”
Mentri Faron membungkuk, “Kami memang menerima surat pemberitahuan itu, Yang Mulia. Akan tetapi, kami merasa permasalahan ini dapat kita tangani nanti. Masih banyak hal lain yang lebih mendesak untuk diselesaikan. Lagipula, kegagalan panen tidak hanya dialami oleh petani dari daerah perbatasan. Beberapa petani di sekitar kerajaan juga mengalami gagal panen seperti mereka. Kami merasa itu adalah hal yang pasti dialami oleh setiap petani.”
“Mentri Faron! Jaga bicaramu!” potong Lea tegas. “Aku tidak percaya kau mengatakan hal ini. Bagaimanapun juga mereka membutuhkan bantuan kita. Mereka hidup jauh dari kerajaan. Pikirkan betapa sulitnya mereka berusaha mendapatkan makanan dan kebutuhan sehari-hari mereka! Jika mereka mengalami gagal panen, bukankah mereka yang harus dprioritaskan?”
Mentri Faron balas menatap Lea dengan tajam. Sama sekali tidak merasa terintimdasi dengan kata-kata Lea. “Saya mengerti maksud anda, Yang Mulia, namun, kita tidak bisa memberikan bantuan begitu saja kepada mereka semua yang meminta pertolongan.”
“Kenapa tidak?! Bukankah kita memang harus menjaga kesejahteraan rakyat? Apalagi kau berada di Dewan Kerakyatan. Kenapa kita tdak bisa membantu mereka?” Lea benar-benar kesal sekarang. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Mentri Faron yang memang bertugas mengurus masalah kesejahteraan rakyat akan mengatakan hal seperti ini.
“Karena kami pun hanya orang biasa, Yang Mulia. Mungkin kami memiliki jabatan ini, namun kami pun hanya manusia biasa. Saya tidak bisa mengerahkan semua orang untuk membantu masalah orang lain sementara mereka memiliki masalahnya masing-masing. Kami hanya orang biasa yang tidak bisa memberikan seluruh tenaga kami untuk menjaga kesejahteraan rakyat. Kalaupun kami ingin, kami memiliki batas kemampuan, Yang Mulia. Harap Yang Mulia memahami hal itu.”
Lea tersentak. Memang benar. Terlalu banyak permasalahan yang sedang dihadapi oleh Negri Fyria akhir-akhir ini. Suasana di ruangan itu sunyi sejenak. Lea merasa terpojok.
“Saya tidak menyalahkan niat Yang Mulia untuk membantu mereka, namun lagi-lagi kita harus melihat keadaan. Kita tidak bisa selamanya menjadi pahlawan di depan rakyat. Kita pun hanya orang biasa, Yang Mulia.”
Kepala Lea kosong. Argumen yang diberikan oleh Mentri Faron memang benar, akan tetapi...
“Tetapi...” Lea memandang ke arah Xavier dan Tania serta orang-orang yang berdiri di belakang mereka. Anak-anak yang bersembunyi di balik tubuh ibu mereka nampak kurus dan pucat. Tatapan penuh harap yang tidak bisa Lea abaikan begitu saja. Lea memejamkan mata, bingung dan kesal. Bagaimana ini? Bagaimana? Apa yang harus kulakukan untuk menolong mereka? Apa?
“Mentri Faron, tolong utus beberapa orang untuk melihat keadaan di perbatasan.” Suara Sara yang tiba-tiba muncul membuat Lea kaget. Sosok Sara yang masih berbalut jubah bepergian nampak di ambang pintu ruang singgasana. “Sementara ini, bawa mereka ke barak. Raimond, aku tahu kau lelah, tapi bisakah kau pergi ke dapur istana dan minta bagian dapur menyediakan makanan untuk mereka?”
“Aku mengerti.” Raimond langsung pergi.
“Lea, Reita, tolong kau temani mereka ke barak. Aku yakin di sana ada cukup tempat untuk mereka beristirahat sementara aku berbicara dengan Mentri Faron.”
“Sara...” entah bagaimana, Lea merasa sangat lega saat melihat Sara muncul. “Aku...”
“Aku mengerti, Lea. Akan kulakukan sesuatu untuk menolong mereka. Sekarang, pergilah bersama dengan Reita. Aku ingin mereka beritirahat dengan perut kenyang dan perasaan yang nyaman.”
Lea mengangguk pelan. Meski Lea tidak bisa mengungkapkan pemikirannya, Sara mengerti. Dengan bantuan Reita, Lea membimbing anak-anak serta orang-orang itu ke barak.
“Siapa namamu?” tanya Sara pada Xavier.
“Xavier, Yang Mulia.”
“Baiklah, Xavier. Aku mengharapkan kau bisa tinggal di sini sebentar sebelum kau bergabung dengan keluarga dan teman-temanmu di barak. Aku perlu menanyakan beberapa hal kepadamu. Tidak apa-apa kan?”
“Tentu saja, Yang Mulia.”
“Mentri Faron, aku ingin....”
Suara Sara terdengar semakin mengecil saat Lea beranjak meninggalkan ruangan singgasana. Meskipun ia merasa lega, namun dalam lubuk hatinya yang terdalam, ia merasa malu dan kesal. Ia bermaksud untuk menolong rakyatnya namun yang ia lakukan malah menyalahkan Mentri Faron karena ia tidak bisa melaksanakan tugasnya.
Perasaan kesal menggerogoti hatinya. Kali ini, yang bisa ia lakukan hanyalah mengepalkan tangannya dengan erat.
Lea mendongak saat melihat Reita berjalan mendekatinya. Buru-buru ia memaksakan senyumnya.
“Ada apa?” tanya Reita.
“Ada apa memangnya?” tanya Lea polos.
Reita menghela nafas. Sebelah tangannya berada di atas gagang pedang yang terletak di sabuknya. “Ayolah, Lea. Kau tidak bisa menipuku. Kau bahkan tidak bisa menipu semua orang yang ada di sini. Sebenarnya ada apa?”
Lea mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya. Semua orang sedang menatapanya. Bahkan anak-anak yang sedang makan pun menghentikan kegiatan makannya hanya untuk melihat ke arah Lea.
“A.. Aku...”
Lea tidak tahu harus mengungkapkan apa. Lidahnya kelu. Ia ingin menjadi kekuatan mereka namun yang ia tampilkan malah wajah yang murung dan sedih. Ia memejamkan mata. Mencoba menahan air mata yang hampir saja terjatuh.
“Lea?”
“Aku... ingin sekali membantu mereka. Namun, yang aku lakukan hanyalah menyalahkan Mentri Faron atas keterlambatannya menangani masalah ini. Padahal aku sudah berjanji untuk membantu mereka, tapi...”
Air mata itu tidak bisa ia tahan lagi. Lea mencoba menghapusnya, namun seberapa sering ia melakukannya, air mata itu terus keluar.
“Aku tahu yang dikatakan Mentri Faron memang benar. Aku bahkan tidak bisa membantahnya. Namun, bagaimanapun juga aku ingin membantu mereka. Tapi, tidak ada yang bisa kulakukan... Maka dari itu, aku... aku...”
Lea kembali terisak. Air matanya terus tumpah. Ia tahu seharusnya ia tidak menangis di hadapan rakyatnya. Ia tahu itu, namun tidak ada yang bisa ia lakukan untuk menghentikan tangisannya.
Saat itulah, ia merasakan tangan-tangan yang memeluk tubuhnya. Lea mengangkat wajahnya, mencoba melihat di balik pandangannya yang kabur karena air mata. Tubuh-tubuh kecil yang kurus karena kekurangan makan itu memeluknya. Sebagian anak-anak itu menepuk-nepuk kepalanya, mengenggam tangannya sementara yang lain membantu menghapus airmatanya.
“Kalian...”
“Cup.. Cup... Jangan menangis, Tuan Putri...” kata anak-anak itu.
“Tuan Putri...” panggil Tania, istri Xavier, “Tuan Putri bukannya tidak melakukan apa-apa. Tuan Putri sudah mendengarkan cerita kami di saat tidak ada seorang pun yang ingin mendengarkannya. Tuan Putri berjanji akan menolong kami dan kami percaya akan hal itu. Jika Tuan Putri tidak ada, maka kami tidak akan ada di sini sekarang.”
Perkataan Tania diikuti gumaman rakyat yang lain, menyetujui perkataan Tania. Lea memandang sekali lagi ke arah mereka. Tatapan mereka serta senyum di wajah mereka membuat Lea merasa hangat. Ia memeluk tubuh-tubuh kecil yang berada di sekitarnya, tidak peduli jika debu dan kotoran menempel pada gaunnya.
“Terima kasih... Aku... Aku berjanji akan melakukan apapun untuk membantu menyelesaikan masalah kalian...”
“Kalau begitu, kau harus tersenyum,” sahut Reita.
“Tersenyum?”
Semua orang yang ada di ruangan itu mengiyakan dengan keras. Bahkan anak-anak kecil itu mengangguk dengan kuat, menegaskan perkataan Reita.
“Senyummu, bisa membuat mereka lebih baik, Lea. Dengan begitu, kau sudah membantu mengurangi beban mereka. Iya kan?”
Lea menatap Reita. Ia bersumpah saat itu ia merasakan jantungnya berpacu lebih cepat saat melihat Reita tersenyum kepadanya. Ia mengangguk, sebagai dalih untuk berpaling dari tatapan dan senyum Reita. Lea menghapus air matanya yang entah kapan sudah berhenti.
Sedikit demi sedikit, ia mulai tersenyum. Membuat semua orang yang ada di ruangan itu bertepuk tangan karena putri mereka yang ceria sudah kembali.
“Dan dengan begini, kau sudah mengambil hati mereka, Lea.”
Lea menoleh saat mendengar suara saudara kembarnya. Tanpa aba-aba lagi, ia berdiri, meninggalkan anak-anak yang tadi mengerubunginya dan berlari untuk memeluk saudaranya.
Lucca dan Joanne sampai di atas bukit. Di bawah mereka, terbentang negri Fyria dengan kastilnya yang berada di sisi lain negri. Masih satu hari lagi perjalanan yang harus mereka tempuh untuk bisa sampai di Fyria.
“Di sini, kita berpisah. Kita lakukan dengan cara masing-masing sampai aku menghubungi lagi. Jangan melakukan tindakan yang akan membuat orang lain curiga. Aku tidak akan membantumu membereskannya.”
Joanne membuka tudung yang menyelubungi kepalanya. Rambut pirangnya yang panjang dan bergelombang dengan sempurna bergerak seirama tiupan angin.
“Kenapa harus berpisah, Lucca? Apa kau kecewa karena aku tidak mengenakan pakaian terbaikku dan hanya mengenakan pakaian yang lusuh ini?”
Lucca memperhatikan Joanne yang memang hanya mengenakan gaun kusam dan lusuh. Kontras sekali dengan gaun mewah yang selalu Joanne pakai.
“Mungkin juga. Aku tidak ingin terlihat bersama-sama denganmu yang terlihat seperti gelandangan begitu.”
Joanne berjalan mendekati Lucca. Tatapannya menusuk. Meski begitu, Lucca tetap tidak bergeming.
“Jaga bicaramu, Lucca. Kau lupa bagaimana terakhir kali aku menggunakan kemampuanku?”
“Coba saja kau lakukan dan aku jamin kau tidak akan bisa menyelesaikan misi ini ataupun kembali ke kastil.”
Joanne menyandarkan tubuhnya pada Lucca. Meski mengenakan gaun lusuh, Lucca masih bisa merasakan niat Joanne untuk menempelkan lekuk-lekuk tubuhnya pada Lucca.
“Baiklah. Sebaiknya kita hentikan tindakan saling mengancam ini.” Joanne mendongak ke arah Lucca yang masih berdiri dalam posisi awalnya tadi. “Lucca.” Joanne menelusuri pipi Lucca dengan ujung jarinya lalu menggenggam rahangnya dan menolehkan wajah Lucca.
“Apa maumu?”
“Berikan aku ciuman singkat sebelum kita berpisah, Lucca. Dengan begitu, aku bisa bersabar sampai kau menghubungiku lagi dan tidak berusaha mengacaukan misi ini.”
Lucca menatap mata hijau Joanne yang nampak begitu serasi dengan rambut pirangnya.
“Ayolah, Lucca. Hanya satu.” Joanne menggoda lagi, tidak terintimidasi dengan tatapan Lucca yang sedingin es.
Lucca menundukkan kepalanya, membiarkan bibirnya menyentuh bibir Joanne yang sanggup membius lelaki manapun. Kecupan singkat itu berubah menjadi kecupan mesra karena inisiatif Joanne.
Joanne menambahkan satu kecupan singkat di pipi Lucca sebelum ia melepaskan Lucca. “Sampai bertemu lagi, Lucca.” Joanne kembali memakai tudungnya, lalu menuruni bukit untuk melanjutkan perjalanan ke Fyria.
Lucca meludahkan darah yang mengumpul di sudut bibirnya, hasil perbuatan Joanne yang dengan sengaja menggigit bibirnya saat ia menuruti kemauan Joanne.
“Dasar wanita.” Lucca mengelap bibirnya yang masih berdarah itu dengan jarinya. Sama seperti Joanne, ia kembali memakai tudungnya dan pergi ke Fyria namun ke arah yang berbeda dengan Joanne.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar