Rabu, 13 April 2011

>>5 part 2

Kelelahan yang amat sangat melanda Sara saat gadis itu memasuki ruangan kerjanya. Sara mengira akan melihat Lea dan kedua pengawalnya di sana, akan tetapi suasana di ruangan itu nampak sepi. Sebagian dirinya merasa kecewa karena ternyata Lea sudah menyelesaikan tugasnya dan pasti mereka bertiga sedang beristirahat entah di mana. Jauh dari semua tumpukan dokumen ini. Sebagian perasaannya diliputi rasa lega, lega karena tidak ada orang di sana yang memungkinkan Sara untuk beristirahat sejenak. Ia tidak bisa mengambil waktu tidur yang layak karena beberapa saat lagi akan ada rapat dengan para petinggi kerajaan di mana Sara harus hadir di dalamnya.
Kemewahan untuk beristirahat sudah tidak bisa didapatkannya. Sara tahu kalau seharusnya ia tidak mengeluh. Ayahnya pasti mempunyai beban yang lebih berat daripada ini. Sara memang membenci segala sesuatu yang berhubungan dengan urusan politik. Jika bisa ia akan menghindarinya jauh-jauh, namun saat mengingat semua hal ini berhubungan dengan rakyatnya, hati Sara pun luluh. Ia rela melakukan apapun untuk membuat rakyatnya sejahtera dan Sara tidak ragu Lea akan melakukan hal yang sama jika ia ada di posisinya.
Kursi yang terletak di belakang mejanya terlihat sangat menggiurkan. Ketika tubuhnya menyentuh kelembutan dan kenyamanan kursi itu, Sara bisa merasakan matanya terpejam dengan perlahan. Sara  tahu kalau seharusnya ia tidak tertidur. Akan tetapi, tubuhnya benar-benar merasa lelah dan kenyamanan kursi itu begitu menggodanya. Mungkin tidak ada salahnya memejamkan mata sebentar. Hanya sebentar.
Jika ada pelayan yang membuka pintu dan memanggilnya, ia pasti akan mendengar. Sara berjanji pada dirinya sendiri untuk segera bangun dan pergi rapat. Apalagi sekarang tidak ada orang. Tidak akan ada yang menyebutnya pemalas. Memejamkan mata kan tidak akan melanggar hukum.
Kau yakin?
Archy?
Suara tawa Archy menggema di kepalanya, membuat Sara ikut tersenyum. Meskipun tidak ada yang melihatmu, aku bisa mendengar isi kepalamu, Nona.
Bukankah kita sudah membuat perjanjian soal hal ini?Jangan membaca pikiranku tanpa seijinku, Archy.
Aku tidak bermaksud seperti itu. Kau sendiri yang memanggilku. Aku hanya menanggapi panggilanmu.
Benarkah? Aku tidak merasa melakukannya. Kau pasti salah dengar.
Kalau benar seperti itu, maka alam bawah sadarmu lah yang memanggilku. Aku yakin sekali yang memanggilku adalah suaramu.
Alam bawah sadarku? Tapi aku tidak sedang tertidur.
Ya. Kurasa kau sudah tertidur cukup lama, Nona.
Sara membuka matanya dengan paksa, memutuskan hubungan benak dengan Archy secara tiba-tiba. Dunia terasa berputar saat gambaran visual nampak di matanya. Semuanya terlihat miring dan tidak berada pada tempatnya. Kembali ia memejamkan mata.
Sara mencoba mengangkat kepalanya dan mengerang saat gelombang pusing itu menyerang kembali. Entah bagaimana caranya ia sudah tertidur lama sekali. Sara bisa melihat warna oranye di luar jendela saat matanya bisa menyesuaikan dengan keadaan sekitarnya.
”Kau sudah bangun?”
Sara mencoba mengenali suara yang dalam itu. Saat semua inderanya sudah bisa berfungsi dengan baik, ia melihat sosok ayahnya di sampingnya. Raja Theo bersandar di ujung lain sofa dan sedang membaca buku.
“Ayah?” Suara Sara terdengar serak karena baru saja bangun tidur.
Raja Theo menutup buku yang dibacanya dan menatap Sara dengan pandangan serius. ”Bagaimana kau bisa tertidur di sini dan melewatkan rapat penting itu, Sara?”
Sara membetulkan posisi duduknya, tidak merasa terintimidasi sedikit pun dengan tatapan tajam ayahnya. ”Aku lelah sekali, Ayah. Aku kemari karena berniat untuk beristirahat sejenak. Aku tidak tahu kalau aku jatuh tertidur.”
Sara bisa mendengar ayahnya menghela nafas kesal. ”Apa rapatnya sudah selesai?” Sara bertanya dengan penuh harap. Meski ia peduli pada rakyatnya, jika ia bisa menghindari rapat itu, ia merasa sangat bersyukur.
”Rapat dibatalkan. Kita akan melakukannya besok. Kali ini jangan berharap kau bisa kabur, Sara.”
Pupus sudah harapan Sara. Mau tidak mau ia tetap harus mengakhiri rapat itu. ”Kenapa ayah membatalkan rapat itu? Apakah karena aku tidak hadir dan ayah ingin menghukumku? Ayah pasti tahu kalau aku sangat tidak suka jika harus hadir di rapat-rapat seperti itu.”
”Mungkin saja.”
Sikap cuek ayahnya membuat Sara kesal.
”Jangan membuat dirimu dibenci oleh anak-anak, sayang.”
Sara menoleh saat mendengar suara ibunya memasuki ruangan bersama Lea. Beberapa dayang masuk mengikuti mereka sambil membawa nampan berisi sepoci teh dan sepiring besar biskuit kering.
”Iya. Ayah selalu saja berdebat dengan Sara dan mengatakan hal-hal yang berlawanan dengan perbuatannya.” Lea mendaratkan ciuman singkat di pipi ayahnya sebelum membantu para dayang menata meja untuk acara minum teh mereka.
”Maksudmu?”
”Rapatnya sudah selesai. Sebenarnya, Ayah tahu kalau kau sedang tertidur di sini tapi ia tidak berniat untuk membangunkanmu. Bergembiralah, Sara. Kau tidak perlu mengikuti rapat itu.”
”Benarkah, Ayah? Kau melakukan itu untukku?” Sara bertanya pada ayahnya yang entah kapan sudah mulai sibuk membaca bukunya lagi.
”Tentu saja dia melakukannya,” sahut Ratu Leira sambil tersenyum senang. ”Bahkan ayahmu yang meminta kita berkumpul di sini karena ia ingin saat kau bangun nanti, hal pertama yang kau lihat adalah kami.”
Sara tersenyum ke arah Ayahnya yang masih saja berusaha untuk mengalihkan pandangannya dari Sara. Tanpa ibunya memberitahu pun, Sara tahu kalau Ayahnya tidak marah padanya. ”Aku tidak tahu kalau Ayah begitu perhatian padaku.”
Sara menggeser posisi duduknya sehingga berada tepat di samping ayahnya. Theo masih saja mengalihkan pandangannya dari Sara. Tanpa ragu lagi, Sara bersandar pada ayahnya. ”Tapi aku tahu kalau Ayah sayang padaku.”
Termakan ucapan Sara, Theo meletakkan buku yang pura-pura dibacanya lalu memeluk bahu putri sulungnya. ”Jangan terlalu percaya diri, Nona. Akan Ayah pastikan kau tidak akan melewatkan rapat apapun. Hari ini adalah pengecualian.”
Tawa Sara terdengar begitu renyah, membuat ketiga orang lainnya ikut tertawa. ”Karena aku begitu lelah?”
”Karena kau tertidur sangat pulas. Mungkin sebuah perang pun tidak akan bisa membuatmu terbangun dari tidurmu.” Theo meremas bahu putrinya, merasa gemas akan sikap percaya diri putrinya.
”Seharusnya aku tahu dari mana Sara mendapatkan ketidakmampuannya untuk mengungkapkan pendapatnya kepada orang lain,” sahut Lea.
”Maksudmu?” Sara dan Theodore langsung mengalihkan pandangannya ke arah Lea.
”Lihat kan, Bu? Bagaimana kompaknya mereka berdua?”
Leira tersenyum ke arah suami dan kedua putrinya. Wajahnya yang lembut terlihat bersinar saat ia tertawa. ”Ah, ibu jadi ingat satu cerita penting. Kalian pasti akan menyukainya.”
”Oh ya?” Lea terdengar antusias dan bersemangat.
Leira mengangguk dengan tenang. Setelah menunggu kedua putrinya duduk dengan tenang, Leira pun memulai ceritanya. ”Ini adalah cerita tentang seorang raja yang baru saja menikah dengan seorang putri pujaan hatinya. Raja ini sangat mencintai istrinya dan merasa sangat bahagia dengan keluarga baru yang ia miliki. Suatu hari, sang istri membawa kabar baik untuk sang raja. Ratu itu sedang mengandung. Ketika raja pulang dari kunjungannya ke negeri seberang, istrinya pun memberitahukan kabar gembira ini. Sayang sekali, reaksi sang raja tidak sesuai dugaan ratu.”
”Apa reaksi raja itu, Bu?” tanya Sara tidak kalah antusias. ”Apa raja itu tidak suka sang ratu hamil?”
Leira mengerutkan dahinya saat mencoba mengingat lanjutan cerita itu. ”Mungkin bisa dibilang seperti itu. Raja itu menjauhi ratunya, mengatakan kalau ia belum siap menerima kehadiran seorang bayi. Terlalu banyak pekerjaan yang harus diurusnya dan ia merasa kalau kehadiran anggota keluarga yang baru akan sangat merepotkan.”
”Raja itu jahat sekali. Apa dia tidak tahu kalau ia sudah melukai hati sang ratu dan juga bayi yang dikandungnya?” sahut Lea.
”Apa raja itu mengusir sang ratu dari istana? Atau mengasingkannya?”
            Pertanyaan Sara membuat Theodore tersedak teh yang sedang diminumnya. ”Ayah rasa ia tidak akan sejahat itu. Lagipula tadi ibumu kan bilang kalau raja itu sangat mencintai istrinya.”
            ”Tidak cukup cinta untuk membuat raja menerima keadaan sang ratu yang sedang hamil. Bagaimanapun juga, anak yang dikandung sang ratu adalah anaknya sendiri,” protes Sara.
            ”Ratu itu tepat mengatakan hal yang baru saja kau katakan Sara. Sekuat tenaga ia berusaha meyakinkan suaminya tentang anaknya. Ratu itu tidak peduli jika perasaannya harus terluka sedikit pun. Ia tidak kenal lelah untuk membuat suaminya memperhatikan bayi yang dikandungnya.” Leira tersenyum sekilas ke arah kedua putrinya. ”Meskipun begitu, raja itu sangat memperhatikan istrinya. Dari jauh, ia pasti menanyakan keadaan dan perkembangan istrinya. Sang ratu tahu dari pelayan pribadinya yang selalu melaporkan pertanyaan-pertanyaan sang raja tentang dirinya dan bayinya. Sang ratu tidak bisa membenci suaminya.”
            ”Tetap saja tindakannya keterlaluan.” Lea tetap menunjukkan ketidaksukaannya pada sikap sang raja.
            ”Kenapa kalian tidak melihat dari sudut pandang raja itu? Pasti sang raja punya kesulitan sendiri yang membuatnya tidak bisa menerima keadaan sang ratu.” Theodore mencoba mengeluarkan pendapatnya atas cerita yang dibawakan istrinya.
            ”Kurasa sang raja bisa memprediksi situasi ini semenjak ia memutuskan untuk memilih sang ratu sebagai istrinya.” Sara mendukung pendapat saudaranya.
            Lagi-lagi Leira kembali tertawa melihat perdebatan antara suami dan kedua putrinya. ”Sudah,sudah. Ibu kan belum selesai cerita. Bolehkah ibu melanjutkan cerita ini?”
            Ketiga orang itu berhenti berdebat dan mencoba mengembalikan perhatian mereka pada cerita Leira. Leira membetulkan posisi duduknya dan kembali melanjutkan ceritanya. ”Mungkin sikap raja itu sudah menyakiti sang ratu juga anak mereka yang masih ada dalam kandungan, namun sang ratu yakin suatu saat suaminya akan berubah. Lalu, datanglah saat itu. Saat di mana anak mereka lahir.”
            ”Apa yang terjadi, Bu?” tanya Sara dan Lea bersamaan.
            Leira tersenyum dengan penuh kelembutan. ”Raja itu langsung luluh saat melihat anaknya lahir. Ia sangat bahagia dan bahkan menangis karena putrinya telah lahir. Kedua putrinya yang begitu cantik dan menawan.”
            ”Aku tidak tahu kalau ayah sangat sentimentil seperti itu,” celetuk Lea.
            ”Ya. Sulit dipercaya...” Sara menghela nafas, ”Aku tidak menyangka kalau ayah dulu sangat tidak menginginkan kehadiranku dan Lea.”
            ”Meskipun pada akhirnya kami berhasil membuat ayah menangis dengan kelahiran kami, tapi yang benar saja. Masa kami harus lahir terlebih dahulu agar ayah mau menerima kami?”
            Theodore memandang kedua putrinya dengan raut muka terkejut. ”Bagaimana kalian bisa tahu kalau itu adalah cerita tentang aku?”
            Kedua putrinya memandang Theodore dengan pandangan ayah-pikir-kami-tidak-tahu. ”Jelas saja kami tahu. Kalau tidak, buat apa ayah membenarkan semua tindakan yang tidak terhormat dari raja itu?”
            ”Itu bukan tindakan tidak terhormat, Sara.” Theodore berusaha membela dirinya.
            Lea, yang entah kapan ada sudah ada di belakang sofa tempat Theodore dan Sara duduk, memeluk leher ayahnya dengan lembut. ”Yah... Biarpun ternyata ayah dulu tidak bisa menerima keberadaan kami, sekarang ayah sangat menyayangi kami kan?”
            Theodore mengelus lengan putri bungsunya yang masih melingkar di lehernya sementara sebelah tangannya mengelus pipi Sara yang ada di sebelahnya. ”Tentu saja. Kalian adalah keajaiban terhebat yang pernah ayah dan ibu miliki di dunia ini. Bagaimana bisa ayah tidak mencintai dan menyayangi kalian?”
            ”Dulu ayah melakukannya.”
            ”Dulu ayah masih terlalu muda untuk menjadi seorang raja. Masih kesulitan untuk melihat di mana kebahagiaan itu berasal. Padahal ayah sudah punya seorang istri yang cantik dan ternyata ayah pun dikaruniai dua orang putri yang manis.”
            ”Dan sekarang?”
            Theodore tersenyum kepada Sara dan Lea, lalu pada istrinya yang begitu mengagumkan. ”Ayah tidak bisa berkata apa-apa lagi selain merasa bersyukur.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar